Presiden UEFA Aleksander Ceferin kembali menyerang Presiden FIFA Gianni Infantino secara terbuka. Dalam pidatonya di majelis umum European Football Clubs (EFC) di Kopenhagen, Ceferin membedah kegagalan proyek Fifa Forward Enterprise (FFE) sekaligus sejumlah skandal terbaru yang ia nilai mencerminkan buruknya kepemimpinan FIFA. Ia menutup pesannya dengan dua kalimat yang paling banyak dikutip: “sang kaisar telanjang” dan “sudah waktunya mengatakan cukup”.
Meski sama sekali tidak menyebut nama Infantino, arah serangan Ceferin sangat jelas: menurutnya, kepemimpinan FIFA harus berubah. Pilihan lokasi pidato bukan kebetulan, karena Kopenhagen adalah kota kelahiran Hans Christian Andersen, penulis dongeng The Emperor’s New Clothes atau Pakaian Baru Kaisar, yang ia pakai sebagai kiasan. Pidato ini menandai babak baru ketegangan antara dua induk organisasi sepak bola terbesar di dunia, dan muncul hanya beberapa bulan sebelum pemilihan presiden FIFA digelar pada Maret mendatang.
Ceferin Serang Infantino Lewat Perumpamaan “Kaisar Telanjang”
Ceferin membuka kritiknya dengan mengangkat kembali dongeng klasik Andersen sebagai kerangka berpikir. Menurutnya, kisah itu relevan untuk menggambarkan situasi sebuah lembaga yang enggan mengakui kenyataan karena sudah terlanjur nyaman dengan narasinya sendiri. Ia pun mengutip isi cerita tersebut di hadapan ratusan perwakilan klub yang hadir.
“Seorang kaisar diyakinkan bahwa dirinya mengenakan pakaian yang megah, pakaian yang katanya hanya bisa dilihat oleh orang bodoh atau orang yang tidak layak,” ujar Ceferin. “Seluruh istananya ikut membenarkan. Sampai akhirnya seorang anak kecil bersuara lantang mengatakan apa yang sebenarnya bisa dilihat semua orang: kaisar itu telanjang.”
Dari perumpamaan itu, Ceferin menarik kesimpulan yang ditujukan langsung ke cara FIFA mengelola sepak bola. Ia menegaskan bahwa istilah yang terdengar mulia tidak otomatis mengubah hakikat sebuah kebijakan. “Menjual sebagian masa depan sepak bola tidak berubah menjadi pembangunan hanya karena Anda menamainya pembangunan,” katanya. “Menempatkan keputusan yang sudah jadi di depan asosiasi nasional tidak berubah menjadi demokratisasi hanya karena Anda menyebutnya demokratisasi, sebesar apa pun cek yang menyertainya.”
Ia menambahkan satu poin lain yang tak kalah tajam, yaitu soal transparansi. Menurut Ceferin, kerahasiaan tetap kerahasiaan, terlepas dari label apa yang dipakai untuk membungkusnya. “Dan kerahasiaan tidak berubah menjadi konsultasi hanya karena Anda menyebutnya konsultasi,” tegasnya.
Skenario Klub yang Dipakai untuk Menekan FIFA
Setelah membongkar retorika, Ceferin mengajak hadirin membayangkan situasi serupa terjadi di organisasi mereka sendiri. Ia meminta para perwakilan klub membayangkan ada eksekutif senior yang diam-diam menegosiasikan aset paling berharga milik klub tanpa sepengetahuan siapa pun. Skenario ini ia pakai untuk menunjukkan bahwa apa yang dinilainya terjadi di FIFA tidak akan pernah lolos di level klub.
“Bayangkan salah satu eksekutif senior Anda diam-diam menegosiasikan mahkota permata klub Anda,” tuturnya. “Anda tidak tahu. Dewan Anda tidak tahu. Pemain dan penggemar Anda tidak tahu. Dan saat Anda akhirnya mengetahuinya, kesepakatan itu hampir selesai. Apa yang akan dilakukan dewan Anda?”
Ceferin kemudian menambahkan skenario kedua yang menyasar persoalan hadiah perdamaian untuk seorang pemimpin politik. Menurutnya, pembuatan hadiah semacam itu seharusnya melibatkan dewan, bukan diputuskan sepihak. Ia lalu mengaitkannya dengan situasi ketika pemimpin politik tersebut menelepon di tengah kompetisi terbesar dunia untuk mempersoalkan sebuah keputusan di lapangan. “Aturannya mengatakan satu hal. Telepon berdering. Lalu keputusannya berubah,” ujarnya.
Dari dua skenario itu, Ceferin melontarkan pertanyaan retoris yang menjadi puncak pidatonya. “Berapa kali hal ini harus terjadi di klub Anda sebelum dewan berkata ‘cukup’? Saya pikir sudah waktunya mengatakan ‘cukup’,” katanya. “Tidak ada jabatan, tidak ada gelar, dan tidak ada kekuasaan sebesar apa pun yang memberi seseorang hak untuk menjual masa depan sepak bola.”
Kronologi: Proyek FFE dan Tudingan “Kampanye Misinformasi”
Serangan Ceferin tidak muncul di ruang kosong. Ia secara spesifik menyoroti proyek Fifa Forward Enterprise (FFE) yang gagal, serta menyinggung hadiah perdamaian yang dianugerahkan kepada Donald Trump dan kasus Folarin Balogun pada musim panas lalu sebagai bagian dari daftar persoalannya. Dalam pidato tersebut, ia tidak merinci lebih jauh ketiga hal itu satu per satu, namun menyebutnya sebagai rangkaian yang menunjukkan pola.
Ketegangan antara kedua lembaga itu memang sudah memanas sebelum pidato Kopenhagen. Pada Selasa, FIFA menuduh UEFA melancarkan “kampanye misinformasi” dan berupaya mempengaruhi persaingan menuju kursi kepresidenan FIFA. FIFA juga mendesak pengadilan di Amerika Serikat untuk menolak permintaan UEFA memperoleh dokumen yang akan dipakai dalam rencana pengaduan pidana terhadap Infantino.
Dengan demikian, apa yang disampaikan Ceferin di Kopenhagen bukan sekadar retorika pidato seremonial. Pernyataannya merupakan kelanjutan dari konflik kelembagaan yang telah berjalan, di mana kedua belah pihak saling menuduh dan membawa persoalan ke ranah hukum. Konflik ini juga menunjukkan bahwa hubungan UEFA dan FIFA saat ini jauh dari kata harmonis, meski keduanya sama-sama menaungi industri sepak bola global.
Dampak bagi Pemilihan Presiden FIFA dan Peta Kekuatan
Implikasi paling langsung dari memanasnya situasi ini adalah pada pemilihan presiden FIFA. Sejumlah tokoh senior di dalam UEFA tetap bersikeras bahwa sosok penantang Infantino harus ditemukan sebelum tenggat pencalonan pada 18 November. Tanpa kandidat alternatif, posisi Infantino berpotensi semakin sulit digoyang, dan kritik seperti yang dilontarkan Ceferin hanya akan berhenti sebagai pernyataan politik.
Nama Nasser al-Khelaifi, yang kini menjabat sebagai ketua EFC, sempat disebut-sebut sebagai calon potensial di masa lalu. Namun di Kopenhagen ia menutup peluang itu dengan tegas. “Saya sama sekali tidak tertarik pada FIFA, tidak punya agenda atau ambisi untuk berada di sana,” kata al-Khelaifi. “Saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk posisi itu. Saya menikmati apa yang sedang saya kerjakan. FIFA, bukan untuk saya.”
Penolakan itu membuat UEFA berada di posisi yang tidak mudah. Mereka harus mencari figur lain dalam waktu yang tidak lama, sementara kritik terhadap FIFA perlu dijaga agar tetap relevan di mata asosiasi nasional. Di sisi lain, Infantino masih memegang kendali atas mesin organisasi FIFA, sehingga setiap tuduhan dari luar berpotensi dibingkai sebagai upaya menyerang dari pihak yang berseberangan.
Ambisi World Football Clubs dan Masa Depan Tata Kelola
Di tengah konflik itu, al-Khelaifi justru membawa agenda lain yang tidak kalah penting. Dalam pidatonya di majelis umum, ia menyatakan bahwa “sekarang adalah waktu yang tepat untuk membentuk World Football Clubs”. Pernyataan itu secara eksplisit mengisyaratkan pembentukan badan perwakilan yang mencakup klub-klub dari luar Eropa, bukan hanya kawasan Eropa.
Ia menegaskan keterbukaan terhadap kolaborasi lintas benua. “Kami lebih dari bangga dan senang jika bisa membantu serta berkontribusi di luar Eropa untuk kolega kami dari berbagai klub di dunia,” ujarnya. Gagasan ini menunjukkan bahwa ambisi para pemilik dan pengelola klub tidak lagi berhenti pada level nasional maupun konfederasi, melainkan mulai menyentuh skala global.
Bila rencana itu berjalan, lanskap tata kelola sepak bola berpotensi berubah. Selama ini FIFA dan konfederasi seperti UEFA menjadi poros utama pengambilan keputusan, sementara klub lebih sering menjadi pihak yang menerima konsekuensi. Munculnya wadah klub berskala dunia dapat menggeser keseimbangan itu, terutama jika wadah tersebut mampu berbicara dengan satu suara yang kuat.
Pidato Ceferin di Kopenhagen menegaskan satu hal: ketegangan antara UEFA dan FIFA kini berada pada level yang jarang terlihat di depan publik. Lewat perumpamaan “sang kaisar telanjang”, ia tidak hanya mengkritik proyek FFE atau sejumlah skandal terbaru, tetapi juga mempertanyakan cara kekuasaan dijalankan di dalam FIFA. Serangan itu menjadi sinyal bahwa UEFA tidak berniat menurunkan tekanan dalam waktu dekat.
Yang perlu ditunggu adalah langkah nyata setelah pernyataan keras itu. Tenggat pencalonan 18 November dan pemilihan presiden FIFA pada Maret akan menjadi ujian apakah kritik Ceferin berbuah perubahan, atau justru berhenti sebagai perang pernyataan. Sementara itu, gagasan World Football Clubs dari al-Khelaifi menambah lapisan baru dalam perdebatan tentang siapa sebenarnya yang berhak menentukan arah masa depan sepak bola dunia.
