David Beckham berpeluang besar masuk ke dalam US Soccer Hall of Fame pada musim semi mendatang. Nama legenda sepak bola Inggris itu masuk nominasi kategori veteran bersama sembilan kandidat lain yang dinilai sama-sama layak. Pencalonan David Beckham ke Hall of Fame ini pun langsung memicu perdebatan hangat di kalangan para pemilih, termasuk soal apakah mantan bintang LA Galaxy tersebut sudah pantas mendapat tempat secepat ini.
Perdebatan itu masuk akal karena lembaga ini bukan sekadar daftar nama belaka. Hall of Fame tersebut menempati salah satu sudut Toyota Stadium, markas FC Dallas yang berlaga di Major League Soccer. Setiap penerima penghargaan akan tampil dengan jaket merah khas, menerima jabat tangan, dan menyampaikan pidato yang biasanya diselingi kenangan emosional tentang masa kecil serta perjalanan karier mereka.
Jejak David Beckham Menuju Hall of Fame Sepak Bola AS
Hall of Fame sepak bola Amerika Serikat menggelar induksi dalam tiga kategori, yaitu player (pemain), veteran, dan builder (pembangun). Kategori terakhir disediakan bagi figur yang kontribusinya terutama terjadi di luar lapangan, bukan semasa aktif bermain. Beckham sendiri masuk melalui jalur veteran, berbarengan dengan sembilan nama lain yang sama-sama dianggap layak menerima penghormatan tersebut.
Penulis esai ini, Pablo Iglesias Maurer, adalah salah satu pemilik suara dalam proses pemilihan itu. Karena itu, ia memilih menjelaskan alasan di balik pilihannya secara terbuka kepada publik. Kehadiran nama Beckham di daftar nominasi pun menjadi bahan diskusi panjang di antara para pemilih, yang tidak sepenuhnya sepakat soal waktu yang tepat untuk meloloskan sang mantan kapten tim nasional Inggris.
Tradisi Pemain Kelahiran Luar Negeri di Hall of Fame
Sebagian pembaca mungkin bertanya mengapa sebuah hall of fame yang terkesan “Amerika” menerima tokoh kelahiran luar negeri. Jawabannya terletak pada karakter sepak bola Amerika Serikat sejak awal, karena para pahlawan pertama olahraga ini justru banyak yang merupakan imigran. Salah satu contoh paling terkenal adalah Joe Gaetjens, pencetak gol bersejarah ke gawang Inggris di Piala Dunia 1950, yang saat itu bahkan belum berstatus warga negara Amerika Serikat dan tidak pernah menyandang status itu sepanjang hidupnya.
Pola serupa berlanjut pada dekade-dekade berikutnya. Sejarah North American Soccer League penuh dengan anggota hall of fame kelahiran asing seperti Pelé, Franz Beckenbauer, dan Carlos Alberto. Bahkan Major Indoor Soccer League akhirnya mendapat pengakuan serupa; tahun lalu, Steve Zungul, yang dijuluki “lord of all indoors”, resmi diinduksikan, sementara Tatu, legenda lain dari sepak bola dalam ruangan, tampaknya menyusul tahun ini.
Dari situ jelas ada preseden yang kuat dan konsisten. Aturannya sederhana: jika seseorang memberi kontribusi besar bagi sepak bola di Amerika Serikat, ia memenuhi syarat untuk dipertimbangkan. Tidak ada klausul kewarganegaraan yang mengikat, dan memang begitulah seharusnya.
Rekam Jejak Beckham Bersama LA Galaxy
Dengan standar kontribusi tersebut, kredibilitas Beckham sebagai pemain tidak perlu diragukan lagi. Ia memperkuat LA Galaxy pada 2007 hingga 2012, periode di mana ia menjadi tulang punggung klub dan bekerja sama dengan Landon Donovan, yang juga telah masuk hall of fame. Bersama Donovan, Beckham membawa Galaxy meraih dua gelar juara liga dan dua Supporters’ Shield.
Kedatangannya ke Amerika Serikat memang tidak berjalan mulus, dan kisah itu dibahas sangat rinci dalam buku The Beckham Experiment karya mendiang Grant Wahl. Namun setelah gejolak awal mereda, Beckham membuktikan diri sebagai pemain yang konsisten dan berdampak besar bagi klubnya. Kontribusinya di lapangan, dengan demikian, sudah cukup untuk disejajarkan dengan banyak anggota hall of fame yang lain.
Warisan Beckham di Level Liga dan Jejak Inter Miami
Dampak terbesar Beckham justru terasa di tingkat kompetisi, bukan hanya di satu klub. Major League Soccer menciptakan mekanisme skuad yang sepenuhnya baru, yaitu aturan designated player, demi mengakomodasi kedatangannya. Kebijakan itu mengubah lanskap liga secara fundamental dan tetap berlaku hingga sekarang, sehingga pengaruh Beckham jauh melampaui masa bermainnya di Galaxy.
Seperti halnya Pelé, kehadiran Beckham menarik banyak penonton yang sebelumnya tidak pernah mengikuti sepak bola untuk memenuhi stadion MLS. Ia pun bertahan jauh melewati akhir karier bermainnya, lalu ikut mendirikan Inter Miami, klub yang kini menjadi rujukan standar di liga tersebut. Langkah itu termasuk mendatangkan Lionel Messi, pemain terbaik dalam sejarah, untuk berkostum Inter Miami.
Perbandingan dengan Pelé dan Warisan yang Ditinggalkan
Analogi paling langsung untuk kontribusi Beckham adalah karier Pelé, yang tiba di Amerika Serikat pada 1977 dan mengubah wajah sepak bola di negara itu. Masa bermainnya sukses; ia meraih gelar juara liga pada 1977 dan tampil sangat produktif sepanjang kariernya di AS. Pelé juga hampir selalu bersedia diwawancarai dan menandatangani autograf bagi para penggemar.
Setelah pensiun, Pelé bahkan mendirikan kamp sepak bola di New Jersey yang menghasilkan ribuan anak tumbuh mencintai sepak bola. Lebih dari satu dari anak-anak itu kemudian membela tim nasional putra Amerika Serikat. Namanya tetap hadir dalam dunia sepak bola AS selama puluhan tahun setelah ia berhenti bermain.
Meski demikian, warisan Pelé tidak sepenuhnya berhasil melindungi kompetisi. Sepak bola profesional di Amerika Serikat justru nyaris runtuh dalam kurun tujuh tahun setelah kepergiannya. Perbandingan ini penting untuk menempatkan posisi Beckham secara adil, karena prestasi individu dan daya tarik seorang bintang tidak selalu otomatis menyelamatkan liga.
Pro dan Kontra di Kalangan Pemilih
Argumen utama yang menentang induksi Beckham tahun ini berpusat pada soal waktu. Dalam beberapa tahun ke depan, namanya diperkirakan akan muncul lagi dalam daftar nominasi kategori builder. Membantu mendirikan Inter Miami dan menarik Messi ke sana tentu layak dipertimbangkan, sehingga sejumlah pemilih menilai Beckham bisa masuk lewat jalur itu nanti.
Jika peluangnya tetap besar lewat kategori builder, mengapa tidak menyimpan slot kategori veteran untuk nama lain? Demikian kira-kira keberatan yang dilontarkan kalangan penentang. Namun bagi Maurer, meloloskan Beckham sekarang adalah keputusan yang mudah dan tidak perlu ditunda-tunda.
Alasannya, karier bermain Beckham saja sudah sebanding dengan banyak anggota hall of fame saat ini. Selain itu, meski ia jelas seorang “builder”, sebagian besar karya itu berjalan berbarengan dengan masa bermainnya. Karena itu, memisahkan keduanya secara kaku justru terasa tidak masuk akal.
Kehadiran Beckham di lapangan saja sudah melegitimasi liga yang saat itu masih muda dan sedang mencari pijakan. Efeknya memicu lonjakan selama satu dekade yang membuat liga hampir berlipat ganda dalam ukuran. Tentu bukan hanya Beckham penyebabnya, tetapi pengaruhnya terhadap sepak bola Amerika Serikat bisa dibilang sebesar pengaruh Pelé, dan Pelé sudah punya tempat di hall of fame.
Kesimpulan
Dengan pertimbangan tersebut, Beckham yang lahir di Inggris akan mendapatkan salah satu suara Maurer untuk diinduksikan. Dari lima nama yang ia pilih, yaitu Beckham, Tatu, Ken Cooper Sr, Tiffany Roberts, dan Clint Mathis, tiga di antaranya lahir di luar Amerika Serikat. Baginya, komposisi semacam itu justru terasa sangat Amerika.
Keputusan akhir tetap bergantung pada hasil pemungutan suara para pemilih hall of fame. Apa pun hasilnya, perdebatan seputar nama Beckham memperlihatkan satu hal penting: definisi “legenda sepak bola Amerika” tidak lagi sesempit batas kewarganegaraan. Tulisan ini diadaptasi dari Soccer Desk, buletin dari Guardian US.
