James McClean, pesepakbola asal Derry, Irlandia Utara, dikenal bukan hanya karena kiprahnya di lapangan, tetapi juga karena keputusannya menolak mengenakan bunga poppy saat bermain di Inggris sekitar peringatan Remembrance Sunday. Keputusan itu mengubah hidupnya secara drastis. Dari seorang pemain sayap yang cepat dan disiplin, ia berubah menjadi sosok yang terus dibayangi ancaman dan cercaan.
Dalam wawancara menjelang peluncuran otobiografinya, The Walls, McClean berbicara terbuka tentang harga yang harus dibayar atas pendiriannya. Ia mengaku menjadi pribadi yang lebih tertutup, kehilangan kepercayaan pada banyak orang, dan merasa dikhianati oleh klub yang seharusnya melindunginya. Kisahnya menjadi cermin rumitnya hubungan antara sepak bola, politik, dan identitas di Irlandia Utara.
Siapa James McClean dan Mengapa Ia Menolak Poppy?
James McClean adalah salah satu pesepakbola paling berpengalaman yang dimiliki Republik Irlandia. Ia telah mengenakan jersey tim nasional sebanyak 103 kali, menjadikannya pemain dengan caps terbanyak kelima sepanjang sejarah negeri itu. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya pesepakbola dari Irlandia Utara yang berhasil mengoleksi lebih dari 100 caps untuk Republik Irlandia.
Di level klub, McClean menghabiskan 14 tahun berkarier di Inggris. Ia tampil dalam 150 pertandingan Premier League selama lima musim dan total sekitar 800 pertandingan profesional. Meski demikian, namanya lebih sering dikaitkan dengan kontroversi seputar bunga poppy, simbol yang dipakai untuk mengenang tentara Inggris yang gugur dalam dua perang dunia.
Bagi McClean, poppy bukan sekadar simbol penghormatan. Bunga itu juga melambangkan Tentara Inggris yang pernah menduduki Derry selama bertahun-tahun. Karena itu, ia menolak memakainya. “Tidak pernah ada keputusan yang harus saya ambil. Mengenakan poppy memang tidak akan pernah terjadi,” ujarnya menegaskan.
Klubnya saat itu, Sunderland, mengeluarkan pernyataan sebelum pertandingan yang justru menarik perhatian publik kepadanya. McClean merasa pernyataan itu dibuat untuk melindungi klub, bukan dirinya. “Saya baru berusia 23 tahun dan saya pikir klub punya kewajiban untuk menjaga saya. Tapi saya merasa mereka membiarkan saya terbakar,” kenangnya.
Latar Belakang: Bloody Sunday dan Creggan
Untuk memahami sikap McClean, penting melihat asal-usulnya. Ia lahir di Derry pada 1989 dan dibesarkan di Creggan, kawasan yang paling terdampak peristiwa Bloody Sunday pada 1972. Saat itu, tentara Inggris menembak mati 14 warga sipil tak bersenjata; enam di antaranya berasal dari Creggan.
Baru pada 2010, setelah laporan Saville menyimpulkan bahwa para korban tidak membahayakan, Perdana Menteri Inggris saat itu, David Cameron, menyampaikan permintaan maaf resmi. Namun luka lama itu tetap membekas di masyarakat Creggan, termasuk pada diri McClean yang tumbuh di tengah komunitas Republikan.
McClean mengisahkan masa kecilnya dengan gamblang. Ia mengaku belajar membuat bom molotov sejak usia 11 tahun. “Itu salah satu pelajaran hidup pertama saya,” tulisnya dalam buku. Ia juga mengenang bagaimana orang-orang bersenjata dan aksi penghukuman jalanan menjadi pemandangan sehari-hari. “Kamu tidak merasa takut karena tahu kamu tidak melakukan kesalahan. Itu hal biasa… tapi sebenarnya tidak normal,” ujarnya.
Ayah kandungnya, Joe Kelly, adalah seorang alkoholik di Creggan. McClean hanya berbicara dengannya sekali, yaitu saat ia membentak agar pria itu menjauh. Meski demikian, ia tetap mengenang masa kecilnya sebagai masa yang bahagia dan tanpa beban.
Dampak: Ancaman Kematian dan Isolasi
Keputusan menolak poppy membawa konsekuensi yang jauh melampaui cercaan di media sosial. Pada pertandingan tandang melawan Fulham di London, sebuah ancaman dilayangkan: McClean akan ditembak jika masuk ke lapangan. Istrinya, Erin, panik. Meski terdengar ekstrem, polisi Metropolitan mengambil ancaman itu dengan serius. Dua petugas diterjunkan untuk berjaga di depan pintu kamar hotelnya malam sebelum pertandingan.
“Itu membuat ancaman terasa lebih nyata,” kata McClean. Setiap kali ia menyentuh bola, suporter Fulham dan Sunderland meneriakinya. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia mengaku menjadi pribadi yang lebih tertutup. “Itu benar-benar mengubah saya sebagai manusia. Saya jadi semacam penyendiri karena sekarang saya tidak mempercayai banyak orang. Saya pernah terluka parah,” ujarnya.
Tekanan terus berlanjut saat ia pindah ke Wigan dan kemudian West Bromwich Albion. Di West Brom, ia menikmati salah satu masa terbaiknya di Premier League dengan penghasilan 42.000 pound per minggu. Namun ancaman kematian tak berhenti, termasuk peringatan bahwa Erin akan diperkosa. McClean merespons dengan cara yang keras. “Reaksi saya selalu melawan api dengan api. Saya masuk ke beberapa pertandingan dengan pola pikir yang salah. Bukan ‘bagaimana saya bisa membantu tim’, tapi ‘saya harap saya mencetak gol hari ini supaya bisa membungkam mereka’,” akunya.
Ia juga mengakui ada masa-masa ia sengaja mencari konflik. Ia pernah mengunggah foto dirinya mendengarkan lagu favoritnya, “The Broad Black Brimmer” dari Wolfe Tones, yang ia tahu akan memancing kemarahan pihak tertentu. “Saya tahu persis apa yang saya lakukan,” tulisnya. Masalahnya di sepak bola Inggris mencapai titik terendah saat ia membela Stoke City antara 2018 dan 2021. Menurutnya, Brexit membuat “orang-orang bodoh semakin berisik” dan musim poppy terasa semakin panjang setiap tahun.
Konteks Lebih Luas: Karier, Tuduhan Doping, dan Masa Depan
Di tengah badai itu, McClean sempat merasakan masa paling bahagia ketika membela Wrexham pada 2023 hingga awal tahun ini. Klub yang dimiliki aktor Hollywood itu memberinya suasana baru. Meski begitu, ia menilai pemahaman publik Inggris secara keseluruhan terhadap pendiriannya masih minim. “Sedikit, ya. Ketika saya menjelaskan kepada rekan-rekan sesama pesepakbola dan orang-orang secara personal, mereka membuka mata dan bilang ‘oh, saya mengerti’. Tapi populasi Inggris secara umum? Saya rasa tidak,” katanya.
Dalam otobiografinya, McClean juga melontarkan tuduhan mengejutkan soal dugaan penggunaan zat penambah performa di Premier League. Ia tidak memiliki bukti konkret, tetapi ia mempercayai instingnya. “Saya selalu sangat fanatik soal kebugaran saya. Tapi ketika Anda menghadapi klub-klub top Premier League, apa pun tinggi dan ukuran tubuh mereka, mereka selalu lebih cepat dan lebih kuat. Anda punya pikiran: ‘bagaimana mungkin?'” ujarnya.
Kehidupan pribadinya juga penuh liku. Setelah putrinya, Willow, didiagnosis mengalami keterlambatan perkembangan global dan autisme, Erin membujuknya untuk menjalani tes serupa. Hasilnya, McClean berada di ujung spektrum autisme dengan fungsi tinggi. Ia juga mengaku kemungkinan mengalami body dysmorphia atau semacam bulimia. “Saya sangat ketat dengan pola makan 95 persen. Tapi ketika saya tidak bisa berolahraga, saya makan berlebihan. Kalau sedang bepergian, saya bisa makan begitu banyak hingga memaksa diri muntah. Saya masih merasa sangat bersalah, karena esoknya saya menghukum diri di gym—yang jelas tidak sehat,” akunya.
Sejak kembali ke Derry City pada Januari lalu, situasinya justru semakin rumit. Ia tidak bermain untuk klub itu sejak Juli. “Ini tidak bagus. Ini soal pemain melawan pemilik klub, dan hanya ada satu pemenang. Saya pikir ini akhir cerita untuk Derry City. Kamu tidak pernah membayangkan akan dikhianati oleh bangsamu sendiri, jadi ini menyakitkan,” ujarnya. Pihak Derry City menolak berkomentar soal perasaan McClean, tetapi menegaskan bahwa mereka berusaha menyelesaikan masalah internal secara privat, terutama karena sengketa itu menyangkut detail medis sensitif terkait kondisi pinggul pemain.
Masa Depan di Dunia Tinju?
Meski karier sepak bolanya di Derry City tampak di ujung tanduk, McClean tidak kehilangan arah. Ia mengaku sudah lama menekuni tinju secara on and off selama 10 tahun, dan dalam 18 bulan terakhir semakin serius. Ia bahkan telah berkomunikasi dengan Misfits Boxing, promotor yang didirikan oleh KSI dan Sauerland bersaudara, yang menampilkan YouTuber dan mantan atlet dalam pertandingan tinju.
“Saya tidak akan memulai karier tinju profesional karena itu tidak mungkin di usia saya. Tapi saya sudah berkomunikasi dengan Misfits dan mereka ingin saya bertarung,” kata McClean. Ia membayangkan bisa tampil tiga atau empat kali setahun setelah kontraknya di Derry berakhir. “Tinju memberi saya tujuan untuk bangun dan berlatih keras,” tambahnya.
Sebagai petinju, ia menggambarkan dirinya sebagai pressure fighter yang suka berada di depan lawan. “Saya bukan Golovkin atau Canelo, tapi saya suka menonton mereka. Saya tidak mencari karier di tinju, tapi tiga atau empat pertarungan setahun sudah sempurna. Mimpi saya selalu menjadi pesepakbola, tapi ini adalah kegembiraan baru, tantangan baru,” ujarnya.
James McClean adalah sosok yang kompleks: seorang pesepakbola sukses, seorang pria dengan luka masa lalu, dan figur yang memilih bertahan pada prinsipnya meski harus membayar mahal. Penolakannya terhadap poppy bukan sekadar gestur politik, melainkan bagian dari identitasnya yang terbentuk dari sejarah Bloody Sunday dan kehidupan di Creggan. Kini, saat pintu di sepak bola perlahan menutup, ia membuka kemungkinan baru di atas ring.
Di tengah hujan Derry, wajahnya yang tegang melunak menjadi senyum. “Ini bisa jadi berkah,” katanya pelan. “Bisa jadi berkah yang tersamar.”
