Kontroversi gol Haaland menjadi sorotan utama setelah penyerang Manchester City itu mencetak gol kemenangan atas Manchester United dalam laga derby di Old Trafford. Gol yang lahir pada menit ke-60 tersebut awalnya dianulir karena offside, tetapi kemudian disahkan setelah video assistant referee (VAR) turun tangan. Keputusan itu langsung memicu perdebatan sengit karena dinilai menyisakan celah dalam penerapan aturan offside.
Laga bertensi tinggi itu juga diwarnai kartu merah langsung bagi Phil Foden, sehingga Manchester City harus bermain dengan sepuluh pemain sejak pertengahan babak pertama. Bagi Manchester United, kekalahan ini terasa menyakitkan bukan hanya karena kehilangan tiga poin di kandang sendiri, tetapi juga karena mereka merasa dirugikan oleh keputusan yang melibatkan teknologi sekaligus tafsir aturan yang rumit. Dua pihak yang terlibat, pemain dan pelatih, sama-sama mempertanyakan dasar pengambilan keputusan tersebut.
Kronologi Gol Erling Haaland yang Sempat Dianulir
Erling Haaland mencetak gol pada menit ke-60 dengan memanfaatkan umpan silang Josko Gvardiol dan menyelesaikan bola di tiang jauh. Sebelum gol itu disahkan, wasit di lapangan lebih dulu menganulirnya karena menilai Haaland berada dalam posisi offside. Keputusan awal itu sempat membuat City kehilangan keunggulan yang sudah mereka bangun.
Setelah VAR melakukan pemeriksaan, keputusan di lapangan dibatalkan. Garis-garis yang ditarik dalam proses peninjauan menunjukkan Haaland justru berada dalam posisi onside, dan sepatu bek United, Patrick Dorgu, disebut sebagai pihak yang membuat penyerang Norwegia itu tetap berada di belakang garis pertahanan. Berdasarkan temuan tersebut, VAR merekomendasikan agar gol disahkan, dan perubahan keputusan pun dilakukan.
Perubahan itu tidak serta-merta menutup persoalan. Sejumlah pengamat menilai keputusan akhirnya benar secara sebagian, tetapi penalarannya tetap menyisakan masalah. Perdebatan bergeser dari posisi Haaland ke keterlibatan pemain lain yang berada di dekat jalannya bola.
Posisi Fernandez Jadi Sumber Perdebatan
Ketika gol dianulir di lapangan, hampir tidak ada yang mempertanyakan keputusan itu karena Haaland tampak sudah melewati garis pertahanan United. Namun garis VAR menunjukkan fakta sebaliknya, sehingga yang menjadi soal justru keberadaan dan keterlibatan Fernandez. Posisinya yang berada di jalur bola membuat banyak pengamat ragu apakah gol tersebut sah sepenuhnya.
Umpan silang Gvardiol sempat membentur sedikit ke sepatu Dorgu sebelum mengarah ke Haaland di tiang jauh. Di saat yang sama, Fernandez terlihat jelas mencoba menyambut bola dengan menyundul di tengah kotak enam meter, meski pada akhirnya tidak menyentuh bola sama sekali. Fernandez sendiri berada dalam posisi offside, lebih depan daripada sepatu Dorgu, sementara bek United, Lisandro Martinez, juga berada tepat di dekatnya.
VAR menilai gol tetap sah dengan alasan Fernandez tidak memainkan bola. Premier League Match Centre melalui akun X menyatakan bahwa VAR memeriksa keputusan tidak ada gol karena offside, menetapkan Haaland berada di posisi onside, lalu merekomendasikan gol disahkan. Lembaga itu juga menegaskan bahwa meskipun Fernandez berada dalam posisi offside, dia dinilai tidak memainkan bola.
Analisis: Mengapa Ini Disebut Kesalahan VAR
Koresponden isu sepak bola BBC Sport, Dale Johnson, menilai kejanggalan insiden ini justru terletak pada alasan awal gol dianulir. Haaland dilanggar aturan offside ketika seharusnya tidak, sehingga keputusan di lapangan memang keliru dan harus dibatalkan. Akan tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, gol itu semestinya tetap dianulir karena Fernandez berada dalam posisi offside.
Ada satu bagian penting dalam hukum offside yang berlaku bagi Fernandez. Seorang pemain dinyatakan offside apabila dia “jelas berusaha memainkan bola yang dekat dan tindakannya itu berdampak pada lawan”. Kedua unsur itu harus terpenuhi sekaligus, sebab pemain dalam posisi offside bisa saja mencoba menyambar bola tanpa melakukan pelanggaran selama tidak ada pengaruh terhadap lawannya.
Dalam insiden tersebut, Fernandez menjatuhkan diri untuk mencoba menyundul bola dengan Martinez berada tepat di belakangnya. Wasit VAR, Matt Donohue, seharusnya bertanya pada dirinya sendiri apakah tindakan Fernandez berpengaruh terhadap keputusan Martinez. Dengan kata lain, andai Fernandez tidak melompat untuk mencoba menyundul, apakah Martinez akan mengambil keputusan berbeda saat memainkan bola?
Menurut analisis itu, bila bola berada di luar jangkauan Fernandez atau Martinez, ada argumen kuat untuk mengesahkan gol. Tidak akan muncul pelanggaran offside pula seandainya Fernandez sama sekali tidak berusaha menyambar bola. Namun dia melakukannya, dan karena bola hanya melintas sekitar satu yard di depan Martinez, sangat sulit membantah bahwa Fernandez melakukan pelanggaran offside. Karena itu, VAR seharusnya memanggil wasit Michael Oliver ke monitor untuk meninjau pelanggaran subjektif tersebut. Alhasil, situasi ganjil pun terjadi: sebuah gol yang dianulir ditinjau justru untuk memastikan tetap dianulir, dan keputusan akhirnya tercatat sebagai kesalahan VAR.
Kemarahan Man United dan Tudingan Ketidakadilan
Karena gol Haaland menentukan hasil akhir pertandingan, kekecewaan kubu United bisa dimaklumi. Martinez menilai keputusan itu sebagai sebuah “ketidakadilan” dan mengaku tidak mampu memahami aturannya. Dia juga menyatakan ingin tetap tenang dan mengendalikan diri meski situasinya sangat sulit diterima.
Bek asal Argentina itu menambahkan bahwa kekalahan terasa berat karena mereka kehilangan derby sekaligus tiga poin di kandang. Dia menyoroti bahwa setiap musim wasit datang ke klub mereka untuk menjelaskan aturan selama satu jam dengan sangat percaya diri, tetapi kemudian lima atau enam orang membuat kesalahan semacam ini di Premier League. Menurutnya, hal itu tidak bisa diterima mengingat Liga Inggris adalah liga terbaik dunia dengan tim dan pemain terbaik pula.
Manajer United, Michael Carrick, juga menyampaikan kebingungannya. Dia mempertanyakan keberadaan orang-orang di ruangan dengan semua layar yang seharusnya membantu pengambilan keputusan seperti itu. Yang lebih mengkhawatirkan baginya adalah jika cara tersebut sudah menjadi tafsir resmi sepak bola saat ini, terutama soal apa yang dianggap tidak mengganggu jalannya permainan. Dia menyebut penjelasan yang diberikan sangat mengejutkan, dan meski keputusan itu tidak mengubah musim, dampaknya terhadap pertandingan sangat besar.
Kartu Merah Foden dan Posisi Fernandes
Gol tersebut lahir setelah babak pertama yang juga sarat kontroversi, ketika Foden menerima kartu merah langsung karena menendang Fernandes. Gelandang City itu menguasai bola di sisi kanan wilayahnya sendiri sebelum ditekan Fernandes yang menjatuhkannya. Foden kemudian menendang ke arah tubuh pemain Portugal itu saat masih terjatuh di lapangan, dan wasit Michael Oliver mengusirnya pada menit ke-23.
Rekaman ulang menunjukkan Fernandes lebih dulu menendang punggung Foden sebelum pemain timnas Inggris itu membalas. Insiden tersebut diperiksa VAR, yang kemudian mengonfirmasi keputusan di lapangan, dan Fernandes tidak diberi kartu apa pun. Hal ini memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah Fernandes sebenarnya beruntung karena terhindar dari kartu merah?
Para pengamat terbelah dalam menilai insiden itu. Mantan penyerang Manchester United, Wayne Rooney, tidak menganggapnya layak kartu merah dan menyebut tindakan Foden “lebih seperti sentuhan atau gestur daripada sebuah tendangan”. Gary Neville mengaku “terkejut” karena Fernandes tidak menerima kartu atas perannya, sementara Roy Keane justru menilai kesalahan berada pada Fernandes karena dia mengenainya dan memberi tendangan kecil. Keane menambahkan bahwa meski tindakan itu mungkin diklasifikasikan sebagai kekerasan, menurutnya Foden tidak seharusnya mendapat kartu merah.
Dampak bagi Kedua Kubu
Bagi Manchester City, keputusan yang menguntungkan mereka menjadi penentu kemenangan di kandang rival, sebuah hasil yang tetap tercatat sebagai kemenangan derby meski dibayangi kontroversi. Namun mereka juga harus menerima kenyataan kehilangan Foden lebih awal, yang berpotensi berdampak pada laga-laga berikutnya. Situasi ini menunjukkan bahwa dalam satu pertandingan, satu tim bisa sekaligus diuntungkan dan dirugikan oleh keputusan wasit.
Di sisi lain, Manchester United menutup laga dengan rasa kecewa yang sulit dihilangkan. Kekalahan derby dan hilangnya poin di kandang menjadi beban tersendiri, terlebih karena mereka merasa telah dijelaskan aturan yang sama berkali-kali namun tetap berujung pada keputusan yang membingungkan. Seruan agar tafsir aturan offside dan penggunaan VAR lebih konsisten pun kembali menguat.
Insiden semacam ini memperlihatkan bahwa teknologi tidak otomatis menghapus perdebatan, terutama ketika aturan offside menyangkut unsur subjektif seperti “berdampak pada lawan”. Selama penilaian itu masih bergantung pada interpretasi manusia, kontroversi serupa berpotensi terulang di laga-laga besar berikutnya.
Pada akhirnya, kemenangan Manchester City atas Manchester United akan terus dikenang bersama sejumlah pertanyaan yang belum tuntas. Posisi Fernandez, alasan awal gol dianulir, hingga keputusan kartu merah Foden menjadi tiga titik yang membuat laga ini lebih banyak dibicarakan karena kontroversinya daripada kualitas permainannya. Bagi para penggemar, kasus ini menjadi pengingat bahwa pemahaman atas aturan offside dan peran VAR sama pentingnya dengan jalannya pertandingan itu sendiri.
