Kontroversi VAR kembali mencuat di Premier League setelah gol kemenangan Erling Haaland untuk Manchester City dalam derby melawan Manchester United tetap disahkan, padahal ada pelanggaran offside yang luput dari pengamatan. Manchester City menang 1-0, tetapi proses di balik keputusan itu dicatat sebagai salah satu kesalahan VAR paling fatal yang pernah terjadi di kompetisi tersebut. Insiden ini membuka kembali perdebatan soal bagaimana teknologi seharusnya membantu wasit, bukan justru menambah masalah.
Insiden ini menyoroti betapa besarnya tekanan yang dihadapi para hakim video untuk mengambil keputusan secepat mungkin. Video assistant referee Matt Donohue dan asistennya, Blake Antrobus, dilaporkan gagal menyadari bahwa Enzo Fernandez berada sekitar tiga yard dalam posisi offside sebelum ia mencoba menyundul bola. Akibatnya, gol yang seharusnya dianulir justru disahkan dan menentukan hasil akhir pertandingan.
Kronologi Kontroversi VAR yang Mengubah Hasil Derby
Review berlangsung dengan tempo yang terburu-buru. Rekaman komunikasi antara Donohue dan operator replay memperlihatkan bagaimana ia berulang kali mendesak agar proses berjalan cepat, dengan kata-kata seperti “Let’s go, let’s go” dan “quick, quick, quick”. Desakan itu memang bertujuan mengefisienkan waktu, tetapi berujung pada keputusan yang keliru.
Inti kesalahannya terletak pada langkah yang dilewati. Donohue meminta operator menghentikan video pada replay pertama, tepat ketika Josko Gvardiol menyentuh bola untuk memberi umpan silang ke kotak penalti. Ia kemudian langsung beralih ke teknologi semi-otomatis offside tanpa menilai gambaran secara utuh.
Seharusnya tim VAR menilai keseluruhan fase serangan, mulai dari umpan silang hingga bola menyentuh kepala Haaland. Dengan begitu, posisi dan pengaruh Fernandez bisa terlihat dengan jelas. Namun hal itu tidak dilakukan, sehingga situasi di dalam kotak penalti baru dipertimbangkan setelah fase serangan selesai dianalisis. Pada titik itu, fokus Donohue dan Antrobus hanya tertuju pada apakah Fernandez menyentuh bola atau tidak.
Peran Asisten VAR dan Titik Gagal dalam Prosedur
Kritik tidak hanya mengarah ke Donohue. Kontribusi Antrobus sebagai asisten VAR (AVAR) dinilai sama berpengaruhnya terhadap kesalahan tersebut. Tugas AVAR adalah menjadi pengendali dan penyeimbang, memastikan VAR tidak melewatkan hal penting. Peran itu justru tidak berjalan maksimal.
Dalam proses review, Antrobus hanya menyebut “no, yeah” terkait kemungkinan sentuhan Fernandez. Ucapan itu keluar hanya satu detik sebelum Donohue mengucapkan keputusan akhirnya. Artinya, tidak ada koreksi atau pengecekan tambahan yang benar-benar mendalam pada momen krusial tersebut, padahal seharusnya justru di situ AVAR berperan.
Menariknya, Antrobus sebelumnya terlibat dalam satu-satunya penundaan VAR panjang musim ini, yaitu saat laga Brentford melawan Sunderland. Gol Dan Ballard dianulir karena offside subjektif terhadap Kevin Danso, dan prosesnya memakan waktu lebih dari empat menit. Banyak kritik muncul atas lamanya keputusan tersebut, sehingga bisa jadi hal itu memengaruhi cara kerja Antrobus di laga berikutnya. Meski demikian, kita tidak bisa memastikan hal itu sepenuhnya.
Tekanan Kecepatan dan Dampaknya bagi Premier League
Premier League menjadikan “penerapan VAR yang lebih efisien untuk mengurangi penundaan” sebagai salah satu prinsip sepak bola musim ini. Survei pemangku kepentingan, yang melibatkan manajer, pelatih, dan pendukung, menempatkan kecepatan keputusan sebagai tema utama perbaikan VAR. Desakan ini mau tidak mau menciptakan tekanan tersendiri bagi para hakim video di lapangan.
Ada dampak positif yang terlihat dari sisi statistik. Rata-rata penundaan VAR, termasuk saat wasit memberi pengumuman kepada penonton, berkurang dari 46 detik menjadi 36 detik per pertandingan dibandingkan musim sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa upaya percepatan memang membuahkan hasil, setidaknya secara kuantitatif.
Namun, kesalahan VAR lainnya musim ini, yakni kegagalan memberi penalti kepada Arsenal saat melawan Aston Villa, juga diduga muncul karena insiden tersebut dibersihkan terlalu cepat. Hal ini memicu pertanyaan besar: apakah sepak bola mulai mengutamakan kecepatan di atas akurasi? Kepala wasit Howard Webb memang menampung keinginan akan review yang lebih cepat, tetapi tetap harus menjaga keseimbangan antara keduanya.
Sebagian pihak yang diuntungkan oleh keputusan tersebut, termasuk Enzo Maresca, menyatakan simpati. Menurutnya, mengambil keputusan dalam 10 hingga 20 detik bukan hal yang mudah bagi para hakim video. Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan adalah bagian dari pekerjaan, sebagaimana pelatih dan pemain pun bisa keliru.
Investasi Pro Ref dan Tantangan Menyiapkan Spesialis VAR
Pro Ref telah menanamkan banyak pelatihan dan sumber daya untuk membuat VAR seefisien dan seakurat mungkin. Namun, ketika kesalahan sebesar ini terjadi, besarnya investasi tidak bisa menutupi kegagalan yang muncul. Muncul pula seruan agar VAR ditangani oleh para spesialis, padahal Donohue sendiri adalah spesialis menurut definisi Premier League.
Tiga musim lalu, Pro Ref membuka kesempatan bagi kandidat yang ingin menjadi hakim video. Semua pelamar menjalani tes bakat, sekitar 15 orang lolos ke tahap akhir pelatihan, dan 10 di antaranya telah memimpin pertandingan di Premier League. Donohue termasuk di dalamnya, dan laga Minggu itu merupakan penampilannya sebagai hakim video untuk ke-65 kali. Perkembangannya bahkan membawanya masuk daftar internasional dan ditugaskan di babak kualifikasi kompetisi klub UEFA.
Hanya dua VAR yang memiliki catatan bersih dalam dua musim terakhir, yakni Nick Hopton dan Neil Davies, keduanya lulusan program akselerasi yang sama. Mendorong wasit untuk berhenti bertugas di lapangan dan menghabiskan kariernya di ruang VAR memang tidak mudah, dan hal itu pun tidak menjamin keberhasilan. Lee Mason dan Mike Dean, satu-satunya VAR penuh waktu di Premier League yang diangkat setelah pensiun, justru diberhentikan Webb beberapa bulan setelah ia menjabat karena rangkaian kesalahan.
Pelajaran dari Liga Lain dan Insiden Serupa
Spanyol, melalui La Liga dan divisi kedua, adalah salah satu liga yang memiliki tim hakim khusus yang hanya bertugas sebagai VAR dan tidak pernah memimpin di lapangan. Meski begitu, kontroversi di sana tidak berbeda dengan yang terjadi di Inggris. Pada awal musim lalu, VAR bahkan sepenuhnya melewatkan bahwa pemain yang mencetak gol berada dalam posisi offside saat bola dimainkan.
Sebaliknya, ada contoh ketika proses yang lebih lambat justru menghasilkan keputusan yang benar. Musim lalu, gol penyama kedudukan West Ham di masa tambahan waktu melawan Arsenal dianulir setelah proses yang memakan waktu lebih dari empat menit. Meski memakan waktu, VAR pada akhirnya sampai pada hasil yang tepat, menunjukkan bahwa ketelitian tidak selalu harus dikorbankan demi kecepatan.
Pro Ref diperkirakan akan menghadapi pertanyaan mengenai prosesnya, terutama mengapa seorang VAR begitu tergesa-gesa dalam review di salah satu laga terbesar musim ini. Obsesi terhadap kecepatan berpotensi menggerus semua kerja keras di balik layar. Namun, persoalan ini tampaknya lebih luas daripada sekadar tindakan seorang VAR, karena menyangkut budaya dan ekspektasi yang berkembang di sepak bola.
Kesalahan VAR di derby Manchester menjadi pengingat bahwa mengejar kecepatan tanpa mengorbankan akurasi adalah tugas yang rumit. Proses yang terburu-buru, langkah yang terlewat, dan peran AVAR yang tidak optimal semuanya berkontribusi pada keputusan yang mengubah hasil pertandingan. Alih-alih sekadar menyalahkan satu orang, evaluasi menyeluruh terhadap prosedur menjadi langkah yang lebih masuk akal.
Hingga kini, pertanyaan besarnya bukan hanya soal siapa yang salah, tetapi bagaimana Premier League menyeimbangkan tuntutan efisiensi dengan ketelitian. Tanpa perbaikan pada proses, kontroversi serupa berpotensi terulang di laga-laga besar berikutnya. Pada akhirnya, kecepatan seharusnya menjadi hasil dari prosedur yang rapi, bukan alasan untuk melewati langkah penting.
