Tuchel Puji Hasil, Tapi Kecewa dengan Performa
Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, mengaku tidak puas dengan penampilan anak asuhnya meski berhasil mengalahkan Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026. “Kami mempersulit diri sendiri. Hasilnya fantastis, tapi saya tidak senang dengan performanya,” ujar Tuchel usai pertandingan. Meski begitu, ia tetap memuji semangat juang para pemain.
Tuchel menambahkan, “Saya terkesan dengan usaha, semangat tim, dan keyakinan untuk mengatasi kesulitan. Namun, sebagai pelatih, saya tahu kami bisa bermain lebih baik. Banyak momentum berganti, kami bermain ceroboh, banyak kesalahan teknis, tidak cukup cepat, dan tidak repetitif.” Pertanyaan besar kemudian muncul: jika permainan belum sesuai harapan, kenapa Inggris terus memenangkan pertandingan?
Gaya Bermain yang Diinginkan Tuchel
Saat memilih skuad Piala Dunia, Tuchel sudah menunjukkan preferensi taktik yang jelas. Pemain dipilih berdasarkan kemampuan mengisi peran tertentu—misalnya Jude Bellingham dan Morgan Rogers bersaing untuk posisi nomor 10. Sistem ini didasari prinsip-prinsip utama:
- Menguasai penguasaan bola
- Tekanan agresif saat kehilangan bola
- Umpan terukur untuk memancing tekanan lawan
- Setelah memancing tekanan, percepat serangan untuk mencari ruang bagi penyerang
- Melawan blok bertahan, serang dari sayap menggunakan segitiga lebar dan rotasi untuk menciptakan peluang
Sepanjang turnamen, prinsip-prinsip ini hanya terlihat dalam kilasan. Tuchel jelas belum puas dengan konsistensi penerapannya.
Apa yang Kurang Saat Lawan Norwegia?
Hampir semua kritik Tuchel setelah laga berfokus pada permainan saat menguasai bola. Norwegia bertahan dengan formasi 4-5-1, sementara Inggris menyerang dalam formasi 3-2-5. Tiga bek, dua gelandang (Declan Rice dan Elliot Anderson), serta bek kiri Nico O’Reilly yang ikut menyerang membentuk lini depan berjumlah lima pemain.
Tuchel menyebut timnya “tidak cukup repetitif” — istilah yang jarang terdengar. Maksudnya, ia ingin melihat penguasaan bola dalam durasi panjang dengan umpan-umpan pendek untuk menarik keluar pemain Norwegia. Ini penting untuk membuka ruang bagi penyerang, baik di sayap maupun dengan umpan panjang.
Di fase grup lawan Ghana yang juga pakai 4-5-1, Tuchel berteriak “pendek, pendek, pendek” sebelum mencari “switching panjang”. Hal itu sempat terlihat di babak pertama lawan Norwegia, saat Anderson mengirim umpan panjang ke Noni Madueke. Sayang, para pemain sayap tidak bisa memanfaatkan momen tersebut. Seiring waktu, pola repetitif memancing tekanan ini meredup. Penguasaan bola Inggris turun drastis dari 68% di babak pertama menjadi 44% di babak kedua.
Potensi Segitiga Lebar yang Belum Dimaksimalkan
Rotasi posisi dalam segitiga lebar seharusnya menjadi senjata utama Inggris. Tuchel frustrasi karena Norwegia memberi kondisi ideal untuk menerapkannya, tapi timnya “tidak cukup cepat”. Gelandang sayap Norwegia tidak turun ke lini belakang, melainkan tetap sejajar dengan gelandang tengah. Di belakang mereka, empat bek Norwegia bertahan dengan formasi sempit.
Ini membuka beberapa solusi lewat segitiga lebar. Contoh: Anthony Gordon, Anderson, dan O’Reilly bergerak dari sayap kiri ke posisi lebih dalam di dalam. Bek kanan Norwegia, Julian Ryerson, tidak diikuti, sehingga O’Reilly atau Anderson bisa masuk ke ruang kosong di belakang. Sayangnya, Inggris tidak memanfaatkan ruang itu dengan cepat. Pola serupa berhasil dilakukan Irak dan Prancis saat melawan Norwegia, padahal kedua tim itu tidak terlalu mengandalkan pendekatan Tuchel.
‘Takut’ dan ‘Ceroboh’
Pada contoh lain, bola tidak segera diumpan ke pemain bebas di sayap. Sebaliknya, Marc Guehi malah memaksakan umpan melalui tengah dan kehilangan bola di area berbahaya. Inilah yang dimaksud Tuchel dengan kata “ceroboh”.
Asisten pelatih Anthony Barry pernah mengungkapkan di laga pembuka lawan Kroasia, “Kami tidak bermain melalui celah, tidak mempercepat permainan sesuai keinginan. Kami jatuh ke pola takut.” Meski Inggris sudah mencapai semifinal, penilaian itu masih relevan lima pertandingan kemudian.
Bagaimana Inggris Terus Menang?
Meski gagal mengeksploitasi kelemahan Norwegia saat pertandingan berjalan seperti latihan serangan versus pertahanan, Inggris tetap menang. Gol pertama bermula dari umpan panjang kiper Norwegia yang jatuh ke kaki Anderson. Norwegia yang bersiap merebut bola justru ketahuan dalam posisi tidak teratur.
Anderson membawa bola dengan kuat ke depan, menarik Ryerson, sehingga Gordon bisa berlari bebas di sayap. Bek tengah Ajer harus keluar menutup Gordon, dan gelandang Berge turun ke lini belakang—sesuatu yang tidak dilakukan dalam formasi rapi. Akhirnya, umpan silang ke Bellingham yang datang terlambat dan tidak terkawal berbuah gol indah. Pola serupa juga terjadi di gol pembuka lawan Meksiko, dengan Rice membawa bola dan Bellingham kembali menjadi eksekutor.
Ini menunjukkan kualitas individu pemain Inggris yang mampu memanfaatkan momen disorganisasi lawan. Sulit melatih timing dan insting Bellingham, atau kemampuan membawa bola Rice dan Anderson. Untuk gol kemenangan lawan Norwegia, lagi-lagi momen dari sepak pojok membuat Norwegia tidak dalam formasi 4-5-1. Morgan Rogers melepaskan tembakan jarak jauh, bola ditepis, dan Bellingham dengan antisipasi cemerlang mencetak gol kedua.
Kesimpulan: Antara Taktik dan Insting
Bellingham sendiri mengakui, “Pertandingan terbagi dalam banyak aspek—teknis, taktis, dan yang terbesar adalah psikologis, mengelola tekanan.” Cara pemain Inggris tampil gemilang dalam situasi chaos patut diacungi jempol. Ini menunjukkan kekuatan mental sekaligus kualitas individu yang tinggi.
Namun, Tuchel percaya “performa membantu Anda memenangkan pertandingan”. Tugasnya adalah menciptakan kondisi yang lebih andal untuk menciptakan peluang sepanjang laga. Dengan Argentina sebagai lawan di semifinal—tim yang memiliki kerentanan di sisi sayap—Tuchel pasti akan terus fokus membuat segitiga lebar bekerja optimal. Inilah kunci kemenangan Inggris di Piala Dunia 2026: kombinasi antara disiplin taktik sang pelatih dan naluri pemain bintangnya.
