Laga Nations League antara Republik Irlandia dan Austria di Stadion Aviva, Dublin, harus terganggu dua kali akibat aksi protes pro-Palestina, sebelum akhirnya berakhir imbang 2-2. Tuan rumah yang sempat unggul dua gol lewat Troy Parrott gagal mempertahankan keunggulan setelah Austria bangkit di babak kedua. Gol Alexander Prass dan Michael Gregoritsch memaksa pertandingan berakhir dengan skor sama kuat.
Aksi protes ini menjadi bagian dari gelombang ketegangan yang menyelimuti Republik Irlandia sepanjang pekan. Ketegangan tersebut muncul menyusul dua pertandingan Nations League mereka melawan Israel yang memicu perdebatan di dalam negeri. Meski pengamanan di stadion diperketat, insiden di lapangan tetap terjadi, menegaskan bahwa sepak bola sekali lagi menjadi panggung bagi ekspresi politik di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Protes Pro-Palestina Dua Kali Hentikan Laga di Aviva Stadium
Menurut laporan, pertandingan di Aviva Stadium terhenti dua kali pada 45 menit pertama. Gangguan pertama terjadi sekitar menit ke-20, ketika sejumlah bola tenis yang dibungkus stiker bergambar bendera Palestina dan bertuliskan “#StopTheGame” dilemparkan ke lapangan. Kelompok kampanye bernama Stop the Game dalam pernyataannya menyebut aksi itu sebagai “protes bola tenis terbatas”.
Insiden kedua berlangsung sekitar menit ke-35, saat seorang pria berlari masuk ke lapangan dari sisi yang berlawanan sambil membawa apa yang tampak seperti bendera Palestina. Ia langsung diterkam oleh petugas keamanan dan digiring keluar dari area pertandingan. Jeda ini menyusul gangguan pertama, yang membuat permainan sempat dihentikan sesaat agar bola-bola tenis dapat dibersihkan dari lapangan.
Dari sisi pertandingan, Troy Parrott membuka keunggulan Republik Irlandia pada menit ke-12 lewat gol yang memukau. Striker Real Betis itu menyadari dirinya berada dalam posisi bebas setelah menerima sundulan Adam Idah dari sebuah tendangan gawang, lalu melewati Philipp Lienhart dengan nutmeg sebelum menuntaskan serangan ke sudut bawah gawang. Sebelum gol tersebut, Sasa Kalajdzic sempat mencoba mengejutkan kiper Caoimhín Kelleher dengan lob dari tengah lapangan.
Parrott menggandakan keunggulan pada menit-menit akhir babak pertama lewat titik penalti. Hadiah penalti diberikan setelah Ryan Manning dijatuhkan di dalam kotak oleh Nicolas Seiwald, dan setelah pemeriksaan video assistant referee (VAR), Parrott melesakkan bola melewati kiper Austria. Kelleher juga sempat menahan peluang Patrick Wimmer di tengah tekanan yang dilancarkan Austria.
Namun keunggulan itu sirna di babak kedua. Alexander Prass memperkecil ketertinggalan pada menit ke-71 setelah Liam Kitching terkelabui, meski awalnya hakim garis mengangkat bendera offside yang kemudian dianulir VAR. Enam menit berselang, Michael Gregoritsch menyamakan kedudukan menjadi 2-2 setelah menipu Kelleher dengan arah tembakan ke sudut gawang.
Di sisa laga, kedua tim saling berusaha mencetak gol kemenangan. Kapten Republik Irlandia, Dara O’Shea, gagal mencetak gol setelah penyelamatan gemilang kiper Austria yang melompat tinggi, sementara Gregoritsch melepaskan tembakan yang melewati mistar gawang. Hingga peluit akhir berbunyi, tidak ada lagi gol yang tercipta.
Latar Belakang: Sepekan Penuh Ketegangan bagi Republik Irlandia
Pekan itu memang berjalan penuh gejolak bagi Republik Irlandia. Dua pertandingan Nations League yang melibatkan Israel telah memecah opini di negara tersebut dan memicu aksi protes, termasuk demonstrasi yang digelar di luar stadion sebelum pertandingan dimulai. Situasi ini membuat laga melawan Austria tidak lepas dari sorotan bernuansa politik.
Selanjutnya, Republik Irlandia dijadwalkan menghadapi Israel dalam laga “kandang” yang digelar tanpa penonton di Backa Topola, Serbia, pada hari Minggu. Manajer Heimir Hallgrímsson pada hari Rabu menegaskan bahwa timnya berencana tetap memainkan pertandingan tersebut. Keputusan itu oleh sebagian pihak dinilai kontroversial mengingat ketegangan yang tengah berlangsung.
Dari sisi komposisi tim, Hallgrímsson melakukan tiga perubahan, termasuk mengembalikan Finn Azaz, yang disambut hangat ketika namanya diumumkan lewat pengeras suara stadion sebelum laga. Kiper Gavin Bazunu, yang sebelumnya menyatakan diri tidak tersedia untuk pertandingan melawan Israel, kembali masuk ke skuad. Liam Scales dan John Egan juga dipercaya tampil sejak menit awal.
Dampak bagi Irlandia: Keunggulan Sirna dan Posisi di Grup B3
Hasil imbang ini membuat peluang Republik Irlandia untuk memuncaki Grup B3 sirna. Dengan kemenangan, mereka seharusnya bisa mengambil alih puncak klasemen. Namun setelah gagal mempertahankan keunggulan dua gol, mereka kini berada di posisi ketiga, di bawah Austria dan Kosovo, pada paruh pertama fase grup.
Masuknya dua pemain pengganti di kubu Austria terbukti menjadi titik balik yang merugikan Republik Irlandia. Gol Prass dan Gregoritsch menunjukkan bahwa Austria mampu memanfaatkan celah di lini belakang, termasuk saat Kitching terkelabui menjelang gol pertama. Kegagalan menjaga fokus di babak kedua pun menjadi catatan penting bagi Hallgrímsson dan pasukannya.
Selain soal klasemen, laga ini menempatkan para pemain dan federasi dalam sorotan publik yang lebih luas dari sekadar sepak bola. Pembagian opini di dalam negeri soal pertandingan melawan Israel membuat tekanan, baik dari suporter maupun kelompok kampanye, turut mewarnai jalannya pertandingan. Di tengah situasi itu, para pemain dituntut tetap fokus menghadapi jadwal yang padat.
Konteks Lebih Luas dan Laga Berikutnya Melawan Israel
Aksi di Dublin ini bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari gelombang protes pro-Palestina yang semakin sering mewarnai ajang olahraga internasional. Kelompok seperti Stop the Game memanfaatkan momen pertandingan berprofil tinggi untuk menyuarakan sikap mereka. Cara ini dipilih karena pertandingan sepak bola memiliki audiens global yang luas serta liputan media yang besar.
Dengan laga melawan Israel yang tinggal menghitung hari pada hari Minggu, potensi ketegangan serupa masih terbuka lebar. Pertandingan yang digelar tanpa penonton di Serbia itu kemungkinan tetap menjadi sasaran sorotan, baik dari media maupun kelompok kampanye. Pihak federasi dan aparat keamanan pun dituntut menyiapkan langkah antisipasi agar pertandingan bisa berjalan sesuai jadwal.
Penutup
Secara keseluruhan, laga Republik Irlandia melawan Austria di Aviva Stadium menjadi potret bagaimana isu politik dapat merembes ke lapangan hijau. Dua kali terganggu aksi protes pro-Palestina, tuan rumah akhirnya harus puas dengan hasil imbang 2-2. Hasil itu sekaligus membuat mereka kehilangan peluang memuncaki Grup B3 di paruh awal fase grup.
Yang tersisa kini adalah pertanyaan bagaimana Republik Irlandia menutup pekan yang penuh tekanan ini, terutama menjelang pertandingan kontroversial melawan Israel. Baik di atas lapangan maupun di luar lapangan, tantangan bagi Hallgrímsson dan para pemainnya belum berakhir. Sorotan publik dipastikan masih tertuju pada mereka dalam beberapa hari ke depan.
