Berita sepakbola

Rebuild Manchester United Kacau, Fans Mulai Murka

Rebuild Manchester United kembali menjadi sorotan setelah lini tengah mereka tampil tanpa kendali saat bertandang ke markas Fulham di Craven Cottage. Laga itu nyaris berakhir dengan kekalahan ketiga dalam sepekan, sebelum Matheus Cunha menyelamatkan satu poin lewat gol penyama kedudukan di menit-menit akhir. Namun cara United meraih hasil imbang tersebut justru memantik kemarahan suporter, bukan rasa lega.

Kemurkaan itu bukan tanpa alasan. Kepemilikan klub terus dikritik dan basis pendukung kian berang, sementara performa tim belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Momen paling mencolok terjadi ketika Michael Carrick menarik keluar Kobbie Mainoo sepuluh menit sebelum laga usai, sebuah keputusan yang langsung disambut cemoohan dari tribun tandang. Suasana di Craven Cottage pun berubah muram, mencerminkan kekecewaan yang sudah menumpuk.

Lini Tengah Manchester United Tanpa Kendali di Craven Cottage

Gol Fulham lahir dari situasi yang nyaris komikal, yakni gol bunuh diri Lisandro Martínez. Sebelumnya, Cunha kalah dalam duel dengan bek Fulham, Calvin Bassey, yang kemudian melesat ke depan dan melepas tembakan yang ditepis Senne Lammens. Bola muntah itu justru diteruskan Martínez ke gawangnya sendiri, melewati kipernya dan membuat Bernd Leno di kubu Fulham tertipu. United baru benar-benar terbangun setelah tertinggal, sebuah pola yang tidak menenangkan siapa pun.

Gary Neville, yang mengomentari laga tersebut untuk Sky Sports, menyoroti minimnya usaha para pemain selama 15 menit menjelang gol Fulham. Para pemain tampak sekadar menjalani pertandingan, menghindari duel, dan kehilangan keberanian dalam bertahan. United kesulitan keluar dari kotak penalti sendiri dan nyaris tak punya kontrol di lini tengah sepanjang fase tersebut.

Bruno Fernandes ditempatkan sebagai nomor 10, sementara Mainoo bermain lebih dalam bersama Youri Tielemans yang didatangkan dari Aston Villa pada musim panas lalu. Namun kemudahan Sander Berge dan Shea Charles mendominasi lini tengah Fulham menjadi bukti bahwa perombakan ruang mesin yang diusung Carrick masih jauh dari tuntas. Gol penyama kedudukan United pun terbilang beruntung, karena tembakan Cunha mengenai David Affengruber sebelum akhirnya masuk ke gawang.

Rebuild yang Berjalan Satu Posisi Setiap Musim

Salah satu persoalan paling mencolok dari rebuild Manchester United adalah ketidakmampuan mereka menangani lebih dari satu kebutuhan sekaligus. Dana yang sangat besar telah terbuang, hingga membuat United berada dalam posisi yang terasa mengada-ada: hanya mampu membenahi satu posisi setiap musim panas. Tahun lalu fokus tertuju pada lini serang, sedangkan jendela transfer terakhir dihabiskan untuk memperkuat lini tengah.

Padahal, opsi di posisi bek sayap dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi musim yang kembali dijalani di Liga Champions. United masih tampak sebagai operasi yang tanpa arah dan terus mengapung, sementara kepemilikan klub menjadi sasaran kemarahan dan basis pendukungnya makin berpotensi memberontak. Ketegangan ini menciptakan tekanan berlapis bagi staf pelatih di lapangan.

Menarik untuk dicermati bahwa United lebih memilih menambah jumlah pemain ketimbang kualitas pada musim panas ketika klub-klub pesaing justru menggelontorkan dana besar untuk gelandang. Andrey Santos, yang didatangkan dari Chelsea seharga £50 juta, bahkan tidak dimainkan dalam laga ini dan belum membuktikan diri di sepak bola Inggris. Sementara itu, Tielemans datang sebagai peluang senilai £35 juta, sebuah langkah yang lebih bersifat oportunistik.

Tekanan yang Semakin Berat untuk Carrick

Posisi Carrick kini berada di bawah tekanan besar. United baru mengumpulkan lima poin dari lima pertandingan dan sudah tersingkir dari Piala Carabao, hasil yang jelas jauh dari harapan. Keraguan soal apakah Carrick memang layak menangani tim akan semakin menguat seiring berjalannya kompetisi, terutama jika pola permainan tak kunjung membaik.

Meski demikian, Carrick bukan manajer pertama United yang kesulitan akibat kelemahan yang lebih luas di level klub, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Ia mewarisi persoalan struktural yang sudah mengakar, mulai dari kebijakan transfer hingga ketidakstabilan di kursi kepemilikan. Hal ini membuat penilaian terhadap kinerjanya menjadi rumit dan tidak bisa dilepaskan dari konteks di sekitarnya.

Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah indikasi bahwa para pemain tidak lagi menjalankan instruksi Carrick dengan baik. Kekhawatiran lain menyangkut kenyataan bahwa pendekatan rebuild yang dilakukan jendela demi jendela tetap menyisakan United tanpa gagasan yang jelas, baik saat menguasai bola maupun ketika kehilangan bola. Pernyataan Carrick yang menyebut United mengendalikan sebagian besar babak pertama pun terasa janggal di tengah penampilan timnya.

Masalah di Lini Depan yang Belum Terselesaikan

Lini serang yang seharusnya sudah dibenahi justru masih menjadi sumber masalah. United tampak lamban dengan dan tanpa bola, dan meski ada kilasan serangan, semuanya tidak meyakinkan. Absennya Benjamin Sesko karena cedera memang harus dimaklumi, karena membuat United kehilangan penyerang target man yang efektif untuk dimasukkan, tetapi minimnya kualitas di sepertiga akhir lapangan tetap terlihat nyata.

Satu-satunya peluang ketika kedudukan masih 0-0 lahir dari kesalahan pertahanan Fulham, yang berujung pada tembakan Fernandes yang mengenai tiang gawang. Cunha juga sempat menyentuh mistar, walau melalui defleksi yang cukup keras, sementara Marcus Rashford menyia-nyiakan dua peluang. Rashford turun di sisi kiri dan tampak menjanjikan sebelum akhirnya ditarik keluar, namun ia bukan satu-satunya penyerang United yang mudah menghilang dari permainan.

Bryan Mbeumo hampir menyamakan kedudukan, tetapi penampilannya di sisi kanan tidak konsisten sepanjang laga. Cunha terlihat tidak nyaman ketika dipasang sebagai nomor 9, sementara Carrick tampaknya belum sepenuhnya mempercayai Sesko. Situasi ini menimbulkan pertanyaan sulit, terutama karena rebuild yang menyasar lini serang justru masih bergantung pada pemain seperti Rashford, yang pada tahun lalu sempat masuk daftar jual.

Konteks yang Lebih Luas dan Langkah Selanjutnya

Ketimpangan dalam belanja pemain memperlihatkan gambaran yang lebih besar tentang arah klub. Manchester City menghabiskan £300 juta untuk tiga gelandang, sedangkan Arsenal menambah kedalaman skuad dengan membeli Bruno Guimarães seharga £75 juta. Sementara itu, United memilih pendekatan kuantitas, dan hasilnya belum sebanding dengan pengeluaran pesaing-pesaingnya.

Di sisi lain, ada satu titik harapan yang bisa dipegang Carrick, yaitu kembalinya Carlos Baleba dari cedera pergelangan kaki. Ia diharapkan menjalani debut usai jeda internasional, dan kehadirannya dianggap bisa memberi tenaga tambahan yang selama ini hilang. United memang tampak kurang bugar dan sering kalah dalam hal intensitas, sehingga sosok seperti Baleba menjadi kebutuhan mendesak, khususnya untuk memperkuat lini tengah saat bertransisi.

Fakta bahwa Fulham mampu berlari lebih cepat dan lebih gencar menjadi peringatan tersendiri. Alex Iwobi sempat melesat meninggalkan Tielemans pada babak pertama, dan serangan Josh King lewat kanal kanan-dalam berulang kali merepotkan pertahanan United. Fulham berkali-kali menembus lini tengah sebelum jeda, dan hanya penyelesaian akhir yang buruk membuat mereka gagal menambah gol.

Penutup

Sejumlah persoalan mengemuka dari laga ini: lini tengah yang kehilangan kendali, ketidakmampuan pemain menjalankan instruksi, dan lini serang yang belum tuntas dibenahi. Dengan lima poin dari lima pertandingan serta tersingkirnya United dari Piala Carabao, tekanan terhadap Carrick akan terus bertambah. Bahkan keputusan memasukkan Joshua Zirkzee saat United memburu gol penyama dirasa kurang ideal, mengingat penyerang Belanda itu baru mencetak lima gol liga sejak didatangkan dua tahun lalu.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul lebih besar daripada sekadar hasil satu pertandingan: mengapa pemain seperti Zirkzee belum juga dijual, dan mengapa rebuild Manchester United tak kunjung menemukan bentuk yang jelas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan seberapa jauh klub ini bisa melangkah musim ini.

Exit mobile version