Tekanan terhadap Russell Martin Leicester City kembali memuncak, dan sang manajer mengaku bingung kenapa dirinya bisa membuat begitu banyak orang kesal. Dalam wawancara dengan BBC East Midlands Today, ia menilai kritik yang mengarah kepadanya belakangan ini sudah berubah menjadi serangan yang sifatnya sangat personal. Menurut Martin, hal itu datang dari sebagian awak media dan terutama dari kalangan penggemar.
Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Leicester City dipermalukan Oxford United dengan skor 4-0 di ajang League One pada Sabtu lalu. Kekalahan itu menjadi yang kedua dalam lima pertandingan, menandai awal yang berat bagi klub yang baru saja turun ke kasta ketiga sepak bola Inggris. Leicester kini berada di posisi ke-18, sebuah titik terendah sepanjang sejarah klub berusia 142 tahun tersebut.
Kritik Russell Martin Leicester City yang Sudah Jadi Sangat Personal
Martin mengakui bahwa gelombang kritik yang ia terima bukan lagi sekadar penilaian soal taktik atau hasil pertandingan. Ia menyebut sebagian pengamat di media dan sejumlah penggemar telah menyerang dirinya secara pribadi, bukan lagi membahas pekerjaannya sebagai pelatih. Meski begitu, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak terlalu mengganggu dirinya secara langsung.
“Kritik itu sudah jadi sangat personal, dari beberapa orang di media dan jelas dari para penggemar,” ujar Martin kepada BBC East Midlands Today. “Sudah begitu adanya, dan saya harus menghadapinya. Sejujurnya itu tidak terlalu memengaruhi saya, tapi sangat sulit bagi orang-orang di sekitar saya, yang mengenal saya, memahami saya, dan tahu siapa saya sebenarnya.”
Pria berusia 40 tahun itu bahkan mengaku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan mengapa dirinya begitu sering menjadi sasaran. Ia menceritakan bahwa salah satu pemainnya sempat bertanya langsung soal derasnya kritik yang datang dari luar lingkungan klub. Pemain tersebut, kata Martin, jelas melihat berbagai pemberitaan yang beredar, sementara ia sendiri tak mampu menjelaskan alasannya.
Awal Berat Leicester City dan Gaya Main yang Jadi Sorotan
Fokus terhadap Martin sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum kekalahan dari Oxford. Ia dikenal sebagai pelatih yang menganut gaya sepak bola berbasis penguasaan bola tinggi dan umpan-umpan pendek, sebuah pendekatan yang ia bawa selama 123 hari menangani Rangers di Scottish Premiership musim lalu. Gaya itu kini ia terapkan di King Power Stadium, dan sebagian pihak menilai pendekatan tersebut tidak cocok dengan situasi Leicester saat ini.
Kontekstnya memang tidak mudah. Leicester baru saja mengalami degradasi beruntun, dari Premier League lalu turun dari Championship, sehingga musim ini mereka harus berkutat di kasta ketiga Inggris. Status klub yang pernah menjuarai Premier League pada 2016 membuat setiap hasil buruk terasa jauh lebih mencolok dibandingkan klub-klub lain di divisi yang sama. Posisi ke-18 di klasemen memperkuat kesan bahwa proyek yang dibangun Martin belum berjalan sesuai rencana.
Kekalahan 4-0 dari Oxford United menjadi pemicu utama memburuknya situasi. Bukan hanya karena margin skornya besar, tetapi juga karena hasil itu mempertegas pola yang dianggap meresahkan: Leicester kesulitan mengubah penguasaan bola menjadi kemenangan. Dari sinilah kritik yang tadinya seputar taktik bergeser menjadi serangan terhadap pribadi sang manajer.
Pemain Membela Martin, Legenda Klub Justru Meragukan
Di tengah derasnya kecaman dari luar, para pemain Leicester justru tampil membela sang manajer. Mantan penyerang Foxes, Matt Piper, menyebut penampilan melawan Oxford sebagai “penampilan yang layak berujung pemecatan”, sementara mantan pemain Leicester lainnya, Matt Heath, meragukan bahwa para penggemar akan bisa diyakinkan oleh gaya bermain seperti itu. Kritik dari figur yang pernah membela klub memang menambah beban tersendiri bagi Martin.
Namun kapten tim Harry Souttar menegaskan bahwa hasil buruk kontra Oxford sepenuhnya kesalahan para pemain, bukan taktik pelatih. Bek muda berusia 20 tahun, Jayden Joseph, juga menyatakan bahwa seluruh skuad yakin filosofi sepak bola Martin hanya butuh waktu dan kesabaran agar benar-benar berjalan. Dukungan dari dalam ruang ganti itu menjadi kontras yang tajam dengan tekanan yang datang dari tribun dan media.
Martin sendiri menyadari adanya jurang antara persepsi publik dan kenyataan di lapangan. Ia mempersilakan orang berbicara langsung dengan para pemain atau staf yang pernah bekerja dengannya, lalu membandingkannya dengan mereka yang belum pernah melihat prosesnya secara utuh dan mungkin hanya menonton beberapa potongan klip. “Persepsi dan kenyataannya sangat berbeda,” katanya. Ia juga mengakui bahwa siapa pun yang mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang akan selalu menjadi sasaran tembak.
Komitmen pada Filosofi Bermain dan Tantangan ke Depan
Meski berada di bawah tekanan besar, Martin tidak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan prinsipnya. Ia mengakui bahwa dirinya memang harus tampil lebih baik, terus berkembang, dan belajar dari apa yang terjadi di Leicester. Namun ia menegaskan komitmennya terhadap cara bermain yang ia yakini, sekaligus mengakui bahwa proses tersebut tidak selalu berjalan mulus.
“Saya mencintai apa yang saya kerjakan, saya mencintai pekerjaan saya, dan saya selalu suka mengembangkan orang serta pemain dengan cara bermain yang menurut saya bisa memunculkan versi terbaik dari diri mereka,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa segala sesuatu kadang membutuhkan waktu, dan ia akan selalu memilih memulai sesuatu yang benar-benar ia yakini, yang fokus pada pengembangan pemain sekaligus meraih kemenangan. Ia bahkan menyebut dirinya mungkin berada di pekerjaan yang salah untuk itu.
Setelah meninggalkan Rangers, Martin mengaku menghabiskan waktu cukup lama di luar sepak bola. Periode itu ia manfaatkan untuk menonton berbagai jenis pertandingan dan mengasah kemampuannya sebagai pelatih. Hal yang paling membuatnya frustrasi di Leicester bukanlah prosesnya, karena ia mengaku sangat menikmatinya, melainkan kenyataan bahwa hasil di lapangan belum mampu mencerminkan perkembangan yang ia rasakan.
Dalam konteks yang lebih luas, situasi ini menggambarkan tantangan yang kerap dihadapi pelatih beraliran penguasaan bola di Inggris. Pendekatan semacam itu umumnya membutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan dari klub maupun suporter untuk bisa berbuah hasil. Ketika hasil belum datang sementara ekspektasi tinggi, tekanan biasanya berpindah dari soal taktik menjadi soal apakah sang pelatih masih layak dipertahankan. Bagi Leicester, pertanyaan itu akan terus bergantung pada hasil pertandingan-pertandingan berikutnya.
Penutup
Russell Martin Leicester City berada dalam posisi yang tidak nyaman: performa tim belum sesuai harapan, klasemen menunjukkan posisi terendah sepanjang sejarah klub, tetapi ia tetap percaya pada gaya bermain yang ia bangun. Menariknya, justru para pemainnya yang paling vokal membela, sementara kritik terkeras datang dari kalangan penggemar, media, dan sejumlah mantan pemain. Persoalannya kini bukan hanya soal taktik, melainkan seberapa lama kesabaran semua pihak bisa bertahan.
Martin sendiri menyatakan yakin bahwa pendekatannya akan membuahkan hasil, dan ia menegaskan tidak akan melakukannya jika tidak percaya. Sampai keyakinan itu terbukti di atas lapangan, sorotan terhadap dirinya diperkirakan belum akan mereda. Bagi Leicester City, hasil pertandingan berikutnya akan menjadi ujian paling nyata atas arah yang sedang mereka tempuh.
