Best slot Ever

Kisah Suporter Boston Legacy FC Bangun Budaya Klub

Kelompok suporter Boston Legacy FC, Boston Independent Supporters’ Association (ISA), menempuh perjalanan lebih dari dua tahun sebelum akhirnya bisa menyaksikan tim yang mereka bela benar-benar turun ke lapangan. Bahkan sebelum klub barunya di NWSL punya nama, maskot, atau skuad, mereka sudah rajin mengorganisasi diri dan bersiap menyambut waralaba tersebut. Puncaknya terjadi pada 14 Maret 2026, ketika kerja panjang itu berbuah menjadi sebuah pawai menuju Gillette Stadium pada laga pembuka Legacy.

Momen ini punya bobot emosional yang besar bagi sepak bola wanita di Boston. Kota ini sempat kehilangan klub profesionalnya hampir satu dekade, sehingga kehadiran kembali sebuah tim di kompetisi teratas Amerika Serikat terasa seperti babak baru yang lama dinanti. Ketika NWSL mengumumkan Boston sebagai kota ekspansi pada September 2023, sekelompok penggemar langsung bergerak membentuk wadah suporter, jauh sebelum pemilik klub merilis identitas resmi tim.

Pawai Pertama dan Tifo “Our Legacy Takes Flight”

Pada hari pembuka musim itu, anggota Boston ISA berbaris masuk ke stadion dengan mengikuti marching band dari Boston Public Schools. Mereka mengangkat syal bertuliskan “Up the Swans” di atas kepala, lalu menuju tribun suporter di belakang gawang utara. Di sana, mereka membentangkan tifo yang sudah mereka lukis dengan tekun selama berjam-jam.

Tulisan “Our Legacy Takes Flight” bisa terbaca dari berbagai sudut stadion berkapasitas hampir 65.000 kursi itu. Gambar angsa terbang dengan syal hitam-hijau di lehernya menangkap semangat tim baru yang baru saja lepas landas di hadapan lebih dari 30.000 penonton. Sejak titik itu, anggota ISA menjaga energi pertandingan selama lebih dari 90 menit dengan nyanyian, tarian, kibaran bendera, dan tabuhan drum.

Paige Wetzel, salah satu anggota Boston ISA, mengenang laga perdana Legacy sebagai momen yang meledak begitu saja. “Kami semua sudah membangun momen ini, lalu para pemain masuk ke lapangan, tifo terangkat, dan semuanya langsung dimulai,” katanya. Ia menyebut perasaan setelah bertahun-tahun merencanakan tanpa pernah melihat timnya bermain, lalu tiba-tiba bisa menyaksikan mereka berlaga sambil bersorak, sebagai ledakan kegembiraan yang luar biasa.

Membangun Budaya Suporter Sebelum Tim Punya Identitas

Energi yang sama terus dibawa Boston ISA ke setiap laga kandang Legacy sepanjang musim, entah hujan atau cerah, menang atau kalah, penonton sedikit atau banyak, di Massachusetts maupun Rhode Island. Bagi mereka, konsistensi inilah yang membedakan kelompok suporter dari penonton biasa. Mereka hadir bukan hanya saat tim sedang dalam performa terbaik.

Jammy Torres Millet, mantan community marketing manager Legacy yang menjadi penghubung ISA sejak September 2024 hingga meninggalkan klub pada Juni lalu, menilai kelompok suporter sebagai inti dari pengalaman hari pertandingan. “Menurut saya kelompok suporter adalah detak jantung hari pertandingan,” ujarnya. Mereka, lanjutnya, adalah pihak yang menghidupkan energi dan semangat penggemar melalui nyanyian serta drum.

Membangun kelompok semacam itu untuk tim yang belum punya identitas jelas tentu bukan pekerjaan mudah. Nyanyian dan tradisi memang akan tumbuh seiring waktu, tetapi anggota Boston ISA ingin para pemain Legacy merasakan dukungan sejak sepakan pertama. Legacy sendiri adalah salah satu dari dua tim ekspansi yang bergabung dengan NWSL tahun ini.

Tantangan lain datang dari belum adanya stadion tetap. Legacy menghabiskan musim pertama mereka berpindah antara Gillette di Foxborough, Massachusetts, dan Centreville Bank Stadium di Pawtucket, Rhode Island, sambil menunggu White Stadium di Boston yang masih dalam pembangunan hingga 2028. Kondisi ini memaksa para suporter menyesuaikan logistik dan tetap hadir di dua lokasi berbeda sepanjang musim.

Sejarah kelam sepak bola wanita Boston juga menjadi latar penting. Boston Breakers, klub yang berlaga di NWSL generasi pertama yang berisi delapan tim beserta tiga liga pendahulunya, bubar mendadak setelah musim 2017, dan banyak penggemar masih menyimpan luka atas kejadian itu. Anna Esten, ketua keanggotaan Boston ISA, menyebut semangat besar untuk memastikan dukungan bagi tim baru inilah yang mendorong orang-orang bergabung dan membangun organisasi.

Peran ISA Saat Branding BOS Nation FC Menuai Kritik

Menurut Torres Millet, ketika ia bergabung dengan klub pada September 2024, ISA sudah lebih dulu menjalin komunikasi dengan salah satu pendiri klub. Sebelum identitas klub terbentuk, anggota ISA fokus membangun jaringan dengan manajemen, menghadiri acara komunitas yang digelar grup pemilik Boston, dan menyebarkan pesan bahwa dukungan yang terlihat dan nyata akan menjadi bagian penting dari kesuksesan tim.

Peran independen itu langsung diuji pada Oktober 2024. Grup pemilik Boston saat itu memperkenalkan branding awal dengan nama BOS Nation FC dan kampanye pemasaran yang menuai kecaman publik karena tagline-nya, “Too Many Balls”. Setelah gelombang kritik, manajemen kembali ke meja gambar dan akhirnya memilih nama Boston Legacy FC dengan logo angsa.

ISA terlibat dalam proses tersebut dengan memberikan masukan lewat beberapa focus group dan menjelaskan mengapa para penggemar sangat kecewa pada branding awal. Torres Millet menilai focus group itu menjadi cara untuk membangun kembali kepercayaan dan merawat hubungan yang sempat terganggu. Ia juga menyoroti hal istimewa dari memberi suara kepada penggemar dalam pembentukan klub, sesuatu yang tidak selalu dilakukan ketika tim olahraga profesional dibangun dari nol.

Esten menegaskan bahwa ISA tetap independen dari tim dan tidak bergantung secara finansial kepada klub. Posisi itu, katanya, memungkinkan mereka mengadvokasi dan memperjuangkan hal-hal yang dianggap penting bagi para penggemar. Selain urusan strategis, perannya juga mencakup pekerjaan teknis seperti mengelola spreadsheet dan memperbarui basis data keanggotaan bila diperlukan.

Drum, “Honk”, dan Identitas Bermain yang Agresif

Di luar pertandingan, ISA menggelar tailgate di area parkir sebelum laga kandang dan watch party di beberapa brewery lokal untuk laga tandang. Tabuhan drum mereka bergema di seluruh tribun, memastikan energi yang dirasakan pemain di lapangan tidak pernah surut, bahkan saat tim sedang tertinggal. Dukungan tanpa syarat ini menjadi penopang di tengah musim debut yang berat.

Seperti umumnya tim ekspansi pada musim pertama, Legacy memulai dengan lambat. Banyak pemain baru mengenal NWSL dan belum punya cukup waktu berlatih bersama sebelum musim bergulir. Tim mencatat lima kekalahan beruntun di awal, menahan imbang lawan di laga keenam, dan baru meraih kemenangan pertama pada laga ketujuh. Hingga saat ini, Legacy berada di posisi ketiga dari bawah klasemen dengan rekor 6-12-5.

Kelompok suporter tetap punya banyak cara menghidupkan tribun. Mereka mengibarkan bendera negara asal para pemain di belakang gawang dan memadukan nama pemain dengan referensi lokal dalam nyanyian. Untuk kiper Casey Murphy, mereka menyanyikan “Dropkick Murphy” ketika ia melepaskan bola dari areanya, sebuah sindiran akrab pada band lokal yang membawakan lagu “I’m Shipping Up to Boston”.

Ada pula tradisi “honk”. Pemimpin nyanyian memegang megafon dan meneriakkan, “If you’re not honking, you’re not Boston”, lalu para suporter meneriakkan “honk” dengan tempo yang makin cepat. Teriakan itu dimaksudkan menirukan suara angsa, tetapi sekaligus sengaja dibuat menjengkelkan, sebagaimana angsa dan para penggemar olahraga bisa bersikap. Identitas itu terbawa ke lapangan: angsa adalah burung agresif, dan Legacy musim ini memimpin NWSL dalam jumlah kartu kuning.

“Kami ingin orang datang ke Boston dan membencinya,” kata Murphy dalam konferensi pers seusai laga pada Maret. “Terlepas dari menang atau kalah, kami ingin mereka benci bermain melawan kami.” Bek Bianca St-Georges menyuarakan hal serupa setelah pertandingan pada Mei. “Melakukan pelanggaran bukan masalah bagi kami. Itu memang kami. Kami tidak takut,” ujarnya.

Dampak dan Konteks Lebih Luas bagi Budaya Suporter NWSL

Meghann Burke, direktur eksekutif NWSL Players Association, menilai kelompok suporter sebagai mitra kunci dalam olahraga ini. Mereka, katanya, tidak hanya hadir di hari pertandingan atau menciptakan suasana khas sepak bola lewat nyanyian, drum, tifo, dan asap. Lebih dari itu, mereka memberi pertandingan rasa memiliki dan mengubahnya menjadi sesuatu yang dirasakan serta dibawa orang dalam keseharian.

Bagi para pemain, keberadaan kelompok suporter juga berkaitan erat dengan isu hak dan keadilan. Burke menyebut kelompok suporter hadir ketika momennya paling penting, berdiri di persimpangan antara hak pemain dan hak pekerja, serta mendorong olahraga ini menjadi lebih adil dan akuntabel. Di tribun ISA, bendera Pride dan bendera trans selalu terlihat berkibar.

Sebelum Legacy turun ke lapangan sekalipun, ISA sudah bergabung dengan koalisi “Trans People Belong” yang dibentuk oleh kelompok-kelompok suporter NWSL. Langkah ini memastikan tim Boston punya keterwakilan dalam advokasi bagi penggemar dan atlet trans di seluruh cabang olahraga. Sikap ini menunjukkan bahwa tribun suporter yang dikenal agresif justru dirancang sebagai ruang yang terbuka bagi banyak orang.

Esten mengaitkan hal itu dengan budaya olahraga wanita yang menurutnya cenderung inklusif. Ia menyebut penggemar olahraga pria paling fanatik kadang membuat orang merasa tidak semua pendukung punya tempat. Karena itu, ISA ingin menegaskan bahwa siapa pun yang ingin mendukung Legacy akan diterima di kelompok mereka.

Menatap White Stadium pada 2028

Anggota Boston ISA berkomitmen terus hadir untuk para pemain, liga, dan satu sama lain. Mereka menantikan 2028, ketika Legacy akhirnya punya stadion sendiri dan tak lagi menjadi tim pendatang baru. Sampai saat itu tiba, drum mereka akan terus mengiringi pertandingan di Centreville Bank Stadium dan di mana pun tim bermain.

Esten mengakui perjalanan ini berliku, dengan banyak hal berubah di tengah jalan, mulai dari branding tim hingga lokasi stadion. Namun satu prinsip tetap dipegang: ISA ingin menjadi kelompok suporter tempat semua orang bisa bergabung dan merasa diterima. Baik penggemar fanatik Breakers maupun orang yang baru menonton pertandingan pertamanya pada 14 Maret, semuanya diundang menjadi bagian dari kelompok ini.

Pada akhirnya, kisah suporter Boston Legacy FC menunjukkan bahwa dukungan tidak selalu lahir dari tradisi panjang. Ia bisa dibangun dari nol oleh orang-orang yang percaya pada sebuah tim bahkan sebelum tim itu punya nama, dan justru dari situlah budaya pertandingan tumbuh menjadi sesuatu yang bertahan lama.

Exit mobile version