Tim nasional Amerika Serikat (USMNT) menutup jendela internasional yang luar biasa panjang dengan catatan empat kemenangan beruntun, dan yang paling mencolok dari rentetan itu adalah siapa yang tidak ada di lapangan. Tanpa Christian Pulisic, tim asuhan Mauricio Pochettino itu tetap tampil rapi, solid, dan produktif. Jika ada satu kesimpulan besar dari USMNT tanpa Pulisic, itu adalah bahwa tim ini perlahan berhenti bergantung pada satu sosok penyelamat.
Selama beberapa dekade, sepak bola Amerika Serikat terbiasa menunggu seorang pemain istimewa untuk mengangkat tim ke level berikutnya. Pola itu berulang dari generasi ke generasi, dan Pulisic adalah nama terbaru dalam daftar panjang tersebut. Karena itu, jendela pertandingan setelah Piala Dunia kali ini terasa penting: ia bukan sekadar rangkaian uji coba, melainkan pembuktian bahwa skuad AS kini punya kedalaman yang tidak lagi bergantung pada kehadiran satu bintang.
Empat Kemenangan Beruntun Tanpa Sang Bintang
Pochettino memulai kiprah pasca-Piala Dunia dengan keputusan yang sekilas terasa janggal: ia meluncurkan gerakan pemuda di kamp pelatihan pertamanya. Padahal, inti timnya belum benar-benar menua — kecuali bek Tim Ream, hampir semua pemain utama masih nyaman berada di sisi benar usia 30 tahun. Meski demikian, sang pelatih tetap memanggil 13 pemain debutan sekaligus delapan remaja.
Hasilnya di lapangan justru membenarkan langkah tersebut. Para pemain muda yang diselingi basis veteran yang kokoh mencatat kemenangan 4-1 atas Peru dan 4-2 atas Chile. Setelah itu, mereka menghajar Meksiko dengan skor telak 3-0 dalam pertandingan yang berjalan tanpa ampun bagi lawan.
Pada laga terakhir, Selasa, AS menutup jendela internasional raksasa itu dengan kemenangan matang 1-0 atas Kanada. Pertandingan berlangsung kasar dan berantakan, tetapi AS berhasil mengatasinya. Ini catatan penting karena Kanada adalah tim yang ketangguhan dan fisiknya sering menyulitkan AS dalam beberapa tahun terakhir.
Yang paling mengejutkan bukan hanya banyaknya talenta muda yang menunggu di urutan kedalaman skuad, atau kini mungkin sudah tampil di permukaan. Yang mengejutkan adalah betapa sedikitnya kerinduan tim ini pada Pulisic. Menonton tim yang tenang dan tertata meraih empat kemenangan beruntun, Anda bisa saja lupa bahwa ia bahkan tidak ikut serta.
Pola Lama: Menunggu Seorang Penyelamat
Akar kebiasaan ini bisa dilacak jauh ke belakang. Pada 1990, pelatih USMNT saat itu, Bob Gansler, membuat keputusan berani dan agak kontroversial dengan meninggalkan tiga veteran berjasa di rumah. Ia membawa tim muda yang minim pengalaman ke Piala Dunia di Italia, penampilan pertama AS dalam 40 tahun. Gansler belakangan mengenang bahwa ia tidak hanya berpikir untuk 1990, tetapi juga untuk dekade 1990-an secara keseluruhan.
Pada 1998, Steve Sampson juga menatap masa depan. Ia sebenarnya mendapat posisi pelatih USMNT karena keberuntungan dan nyaris kehilangan jabatannya menjelang Piala Dunia tahun itu, namun ia tetap melontarkan pernyataan yang percaya diri kepada Washington Post. Menurutnya, dalam 10 hingga 15 tahun, AS akan merebut gelar juara, dan ia yakin hal itu akan terwujud karena orang Amerika selalu menuntaskan apa yang mereka putuskan untuk lakukan.
Sejak periode itu, tumbuh keyakinan yang jarang diucapkan terang-terangan: bahwa USMNT adalah tim masa depan. Keyakinan itu tidak pernah benar-benar hilang, dan selalu mengerucut pada satu atau dua nama pemain. Pada 2002, terobosan AS di Piala Dunia digerakkan oleh energi dan bakat tanpa beban dua pemain berusia 20 tahun, Landon Donovan dan DaMarcus Beasley.
Ketika keduanya tersendat di Piala Dunia 2006, muncul pemain muda lain, Clint Dempsey. Pada tahun yang sama, seorang remaja 16 tahun bernama Freddy Adu menjalani debutnya bersama USMNT. Pola pun terbentuk: komunitas sepak bola AS menunggu diangkat ke level berikutnya oleh seorang penyelamat, entah anak muda berikutnya atau mungkin yang setelahnya lagi.
Dari Donovan ke Dempsey, lalu ke Pulisic
Dempsey bertahan lebih lama daripada Donovan dan mulai memudar tepat saat Christian Pulisic muncul. Bahkan ketika sebuah generasi yang cukup gemilang terbentuk di sekitarnya, Pulisic tetap dipandang sebagai pemain yang ditunggu untuk membuat sesuatu terjadi di Piala Dunia 2026. Turnamen itu menjadi puncak dari proyek pembangunan ulang tim nasional selama delapan tahun.
Harapannya, Pulisic akan mengaktifkan mode pahlawan seperti yang sempat ia tunjukkan sebentar di Qatar pada 2022. Saat itu ia melemparkan tubuhnya ke depan untuk menghalau umpan silang meski harus menanggung cedera memar panggul, lalu menyelesaikan peluang penentu ke gawang Iran yang menentukan hidup-mati AS di turnamen tersebut.
Namun hal itu tidak pernah terjadi pada 2026. Selain penampilan bagus di babak pertama laga pembuka, Piala Dunia di kandang sendiri berjalan sebagai kegagalan bagi Pulisic, dan kampanye USMNT berakhir tanpa gaung. Fakta bahwa tim justru tampil meyakinkan tanpa dirinya menambah bobot pertanyaan tentang seberapa besar sebenarnya ketergantungan tim ini pada satu pemain.
Pochettino, Debutan, dan Beban yang Terbagi
Absennya Pulisic sejalan dengan absennya Weston McKennie, salah satu pemain penopang USMNT selama setengah dekade terakhir. Keduanya memilih bertahan di klub Italia masing-masing: Pulisic di Milan dengan harapan memakai waktu libur untuk kembali mendapat tempat di hati pelatihnya, sementara McKennie di Juventus untuk memulihkan cedera.
Tanpa keduanya, banyak pemain mengambil alih tanggung jawab. Kontribusi datang dalam porsi besar maupun kecil, dan pemain bergantian menjadi penentu momen penting. Efeknya, beban tidak pernah menumpuk pada satu orang saja — sesuatu yang dulu sulit dibayangkan terjadi di skuad AS.
Nama-nama seperti Cavan Sullivan bisa jadi berikutnya dalam garis suksesi bintang USMNT, atau mungkin giliran Julian Hall, Adri Mehmeti, Zavier Gozo, Justin Ellis, atau Mathis Albert. Tetapi tidak ada indikasi bahwa tim ini adalah kapal yang harus didorong Sullivan dengan tenaganya sendiri. Ini bukan timnya Sullivan, berbeda dengan yang pernah disampaikan pelatih Bruce Arena kepada Pulisic setelah AS gagal lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia.
Kedalaman Skuad sebagai Tanda Kemajuan Sejati
Pelajaran utama dari jendela internasional yang padat ini, yang mencakup lebih banyak pertandingan dibandingkan perjalanan USMNT di beberapa turnamen besar, adalah bahwa tim ini mungkin akhirnya tidak lagi bergantung pada satu pemain atau sekelompok kecil pemain. Jika program ini benar-benar memasuki era pasca-penyelamat, itu adalah tanda kemajuan yang lebih jelas daripada munculnya satu prodigi baru.
Yang tumbuh pada tim ini, dan pada sepak bola Amerika Serikat secara luas, adalah kedalaman skuad seperti yang dulu membuat penggemar AS iri kepada negara-negara sepak bola yang lebih mapan. Kedalaman itu memberi pelatih ruang untuk memutar pemain, menutup celah saat bintang absen, dan tetap kompetitif dalam jadwal yang melelahkan.
Dalam artikel aslinya, penulis Leander Schaerlaeckens menyebut fenomena ini sebagai upaya keluar dari ketergantungan pada Pulisic. Schaerlaeckens sendiri adalah penulis buku The Long Game: US Men’s Soccer and Its Savage, Four-Decade Journey to the Top, or Thereabouts dan mengajar di Marist University. Tulisan tersebut merupakan kutipan dari Soccer Desk, buletin dari Guardian US.
Jika pada Piala Dunia 2030 nanti iklan televisi di AS tidak semuanya menampilkan pemain yang sama — seperti yang terjadi pada musim panas lalu ketika Pulisic mendominasi blok iklan — itu akan menjadi langkah maju berikutnya. Pergeseran semacam itu memang tidak terdengar dramatis, tetapi justru itulah ukuran kemajuan yang sesungguhnya.
Kesimpulan
Empat kemenangan beruntun atas Peru, Chile, Meksiko, dan Kanada menunjukkan bahwa USMNT kini punya lebih dari sekadar satu penyelamat. Pochettino berani memberi ruang kepada 13 debutan dan delapan remaja, dan mereka membayarnya dengan performa yang matang serta hasil yang konsisten.
Jika era ketergantungan pada satu bintang mulai berakhir, itu adalah kabar baik bagi sepak bola Amerika Serikat. Tim yang tidak lagi menunggu penyelamat adalah tim yang jauh lebih siap menghadapi turnamen besar berikutnya.
