Menjelang final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina, kritik tajam dilontarkan oleh bek Spanyol, Aymeric Laporte. Ia menilai Argentina sebagai tim yang gemar meninggalkan bekas pada lawan dengan pendekatan fisik yang berlebihan. Laporte menyebut gaya bermain seperti itu seharusnya tidak ditoleransi dalam sepak bola, terutama di turnamen bergengsi seperti Piala Dunia.
Komentar Pedas Laporte Soal Gaya Bermain Argentina
Dalam wawancara dengan Marca, mantan pemain Manchester City itu menegaskan bahwa kekerasan Argentina di Piala Dunia 2026 sudah melampaui batas wajar. “Tugas wasit adalah mengendalikan situasi agar tidak kacau. Jika satu atau dua pemain diizinkan bertindak seperti itu, pertandingan akan menjadi bencana,” ujar Laporte. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak anti terhadap agresivitas dalam batas aturan, tetapi apa yang dilakukan Argentina dalam beberapa laga terakhir sangat mengejutkan.
“Mereka tim yang suka meninggalkan jejak pada lawan. Hal seperti itu tidak boleh terjadi dalam sepak bola, terlebih di kompetisi utama. Ini bisa membuat Anda tidak tenang dan marah,” tegas pemberberusia 32 tahun tersebut.

Bukti di Lapangan: Semi-Final Argentina vs Inggris
Kritik Laporte didasari oleh performa Argentina saat menghadapi Inggris di babak semi-final. Meski menang 2-1 berkat dua gol akhir, Argentina melakukan 15 pelanggaran. Tiga menit pertama pertandingan, Enzo Fernandez sudah memberikan tekel keras dari belakang ke Elliot Anderson hingga mengenai leher pemain Inggris itu, namun ia tidak mendapat kartu. Publik Inggris juga kecewa karena gol kemenangan Argentina dinilai diawali oleh pelanggaran Lionel Messi terhadap Djed Spence.
Insiden-insiden ini memperkuat anggapan bahwa kekerasan Argentina di Piala Dunia 2026 tidak mendapat sanksi setimpal dari wasit. Sebelumnya, Mesir juga mengeluhkan perlakuan istimewa terhadap Argentina dan Messi saat mereka bertemu di babak 16 besar. Saat itu Argentina tertinggal 0-2, lalu bangkit mencetak tiga gol, termasuk gol kemenangan di menit ke-92.
Reaksi Tim Spanyol: Diplomatis namun Waspada
Pelatih Luis de la Fuente
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memilih bersikap diplomatis. “Saya menghormati semua pendapat dan memiliki kekaguman besar terhadap Argentina yang menjadi juara Amerika dan dunia,” ujarnya. Ia menekankan bahwa final akan menjadi pertunjukan hebat antara dua tim nasional yang memiliki bakat dan sikap yang mirip. “Wasit akan mendukung kami agar sepak bola berada pada level yang diharapkan dari final Piala Dunia,” tambahnya.
Gelandang Rodri
Gelandang Manchester City, Rodri, juga enggan terprovokasi. “Kami akan lihat bagaimana pertandingan berjalan. Saya lebih suka berpikir Argentina adalah tim yang memberikan segalanya tanpa menempuh jalan seperti itu. Jika situasi seperti itu terjadi, kami harus mengabaikannya dan tetap bermain sesuai rencana agar tidak terpancing,” katanya dalam konferensi pers di New York.
De la Fuente juga memastikan pemain muda Lamine Yamal fit setelah absen latihan, dan lebih memilih membahas sisi positif final daripada terus memperdebatkan taktik fisik Argentina.
Respons dari Kubu Argentina
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, tidak ditanya soal kritik taktik timnya. Ia justru berbicara tentang persahabatannya dengan De la Fuente yang terjalin sejak 2017 saat Scaloni mengambil lisensi kepelatihan profesional. “Dia mengenal saya secara pribadi, tapi itu tidak berarti dia tahu apa yang saya pikirkan soal sepak bola. Kami belum banyak berbicara tentang gaya bermain, meskipun ada pola serupa dalam hal penguasaan bola,” ungkap Scaloni.
Argentina yang telah tiga kali juara dunia berusaha menjadi tim pertama sejak Brasil (1958-1962) yang meraih gelar Piala Dunia secara beruntun. Final melawan Spanyol akan menjadi panggung untuk membuktikan bahwa mereka bisa menang tanpa mengandalkan pendekatan kontroversial.
Kesimpulan: Pertarungan Gaya di Final Piala Dunia 2026
Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina tidak hanya mempertemukan dua tim elite, tetapi juga dua filosofi berbeda. Di satu sisi, Spanyol yang mengedepankan penguasaan bola dan ketenangan; di sisi lain, Argentina yang dikenal agresif dan kadang dianggap menggunakan kekerasan Argentina di Piala Dunia 2026 sebagai alat untuk mengintimidasi lawan. Kritik Laporte membuka diskusi penting tentang batas agresivitas dalam sepak bola modern. Bagaimanapun, wasit akan menjadi kunci untuk memastikan pertandingan berlangsung adil dan berkualitas sesuai standar final Piala Dunia.