Babak pertama di Houston menjadi mimpi buruk bagi Brasil. Para pemain tim samba harus menahan malu saat mereka tertinggal 1-0 dari Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Jika skor bertahan, Brasil akan tersingkir lebih cepat dari sebelumnya sejak 1966—sebuah noda hitam dalam sejarah sepak bola mereka. Publik di tanah air sudah bersiap mengecam, tetapi Carlo Ancelotti punya rencana lain.
Pelatih asal Italia yang dikenal tenang di bawah tekanan itu membuktikan lagi julukannya sebagai “Crafty Carlo”. Dengan serangkaian perubahan taktik di babak kedua, Brasil berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1 yang dramatis. Bagi Brasil, kemenangan di Piala Dunia 2026 ini menjadi yang pertama kali mereka menang setelah tertinggal di fase gugur sejak 2002.
Krisis di Babak Pertama: Brasil 45 Menit dari Kehancuran
Jepang tampil disiplin dan agresif. Mereka tidak memberi ruang bagi para pemain Brasil untuk mengembangkan permainan. Brasil yang biasanya dielu-elukan sebagai raja sepak bola menyerang justru tampil tanpa daya. “Saya ingin menekankan besarnya humiliasi yang dihadapi Brasil saat jeda,” kata Tim Vickery, pakar sepak bola Amerika Selatan, kepada BBC Radio 5 Live. “Brasil adalah negara tradisionalis yang sombong. Gagal di babak 32 besar oleh tim Asia adalah bencana besar.”
Ancelotti, yang menjadi pelatih asing pertama bagi Brasil di Piala Dunia, mengakui ada masalah, tetapi tidak panik. “Saya tetap percaya pada tim,” ujarnya. Sikap tenang itulah yang kemudian menjadi fondasi kebangkitan.
Sentuhan ‘Crafty Carlo’: Tenang di Tengah Badai
Tidak ada pergantian pemain besar—hanya Endrick yang masuk menggantikan Lucas Paqueta yang cedera. Namun, perubahan mental dan pendekatan taktik terjadi drastis. “Kadang kemampuan terbesar Ancelotti adalah tidak melakukan apa-apa,” tambah Vickery. “Dia oase ketenangan di tengah kekacauan.”
Di ruang ganti, Ancelotti hanya menekankan bahwa tim harus percaya diri. “Kami tidak tersesat seperti di babak pertama melawan Maroko,” katanya. Hasilnya, di babak kedua Brasil tampil dengan intensitas tinggi dan tujuan yang jelas. Mereka tidak lagi bermain rumit seperti biasanya, melainkan langsung mengirim bola ke kotak penalti lawan.
Perubahan Taktik yang Membalikkan Keadaan
Pada babak pertama, Brasil hanya melakukan 12 umpan silang. Di babak kedua, jumlahnya melejit menjadi 28 umpan silang—setara dengan satu umpan setiap dua menit. Jepang kewalahan menghadapi serangan langsung ini. Tidak heran gol penyeimbang Casemiro lahir dari skema sederhana ini. “Perubahan Ancelotti membuat perbedaan besar,” ujar mantan bek Inggris Stephen Warnock. “Jepang tidak bisa mengatasi bola-bola ke dalam kotak.”
Brasil tidak lagi mencoba menggiring bola melewati lini pertahanan Jepang dengan umpan-umpan pendek. Mereka langsung mengirim bola ke area berbahaya dan memanfaatkan pergerakan pemain dari sisi buta. Pendekatan pragmatis ini kontras dengan romantisme sepak bola Brasil, tetapi Ancelotti tegas: “Satu-satunya hasil yang bisa diterima adalah kemenangan.”

Kemenangan Dramatis: Gol Penentu di Menit Akhir
Ketika pertandingan tampak akan berakhir dengan perpanjangan waktu, Jepang melakukan kesalahan fatal. Bruno Guimarães dan Gabriel Martinelli menunjukkan ketenangan luar biasa untuk mencetak gol kemenangan di menit ke-95. Sorak sorai menggema di stadion. Brasil selamat. Ancelotti hanya tersenyum tipis.
Mantan pemain Brasil Lucas Leiva menyebut kemenangan ini sebagai “penyelamat bangsa”. Sementara itu, Chris Sutton menambahkan, “Crafty Carlo melakukannya lagi. Itulah yang dia lakukan.” Dengan kemenangan ini, Brasil melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Pantai Gading atau Norwegia.
Pelajaran Penting dari Comeback Brasil di Piala Dunia 2026
Pertandingan ini menunjukkan bahwa meskipun Brasil memiliki pemain-pemain berbakat, faktor pelatih menjadi pembeda. Ancelotti membawa pengalaman menang di lima liga Eropa dan lima gelar Liga Champions ke tim nasional. Di Piala Dunia 2026, ia membuktikan bahwa ketenangan dan kemampuan membaca pertandingan bisa mengubah arah sejarah. “Kami harus mengatasi kesulitan dan terus maju,” ujar Ancelotti. “Itulah yang dilakukan tim.”
Brasil memang belum tampil sempurna, tetapi mereka menunjukkan mental juara. Kemenangan dramatis ini bisa menjadi momentum untuk terus melaju. Dengan Ancelotti di kursi pelatih, para pendukung boleh berharap lebih—sang master taktik kembali menyelamatkan negaranya dari humiliasi di Piala Dunia 2026.










