Larry Berg resmi ditunjuk sebagai komisaris baru Major League Soccer (MLS) dan akan mulai menjabat pada 1 Januari. Sederet prioritas komisaris baru MLS itu langsung menantinya, mulai dari masa depan hak siar hingga negosiasi kontrak pemain. Berg menggantikan Don Garber yang telah memimpin liga selama 28 tahun dan akan mengakhiri masa baktinya pada akhir tahun ini.
Dalam konferensi pers perdananya di kantor pusat MLS, Manhattan, Berg sempat melontarkan candaan ketika ditanya soal rencana siaran liga. “Sebagai komisaris yang akan datang, saya boleh menyerahkan pertanyaan itu kepada komisaris yang sekarang,” ujarnya sambil tertawa. “Hanya untuk beberapa bulan lagi,” sahut Garber yang duduk di sampingnya. Momen itu menggambarkan transisi kepemimpinan yang tengah berlangsung di liga yang selama ini menyebut dirinya sebagai “challenger brand” alias merek penantang.

Masa Depan Hak Siar Menjadi Ujian Pertama
Salah satu pertanyaan terbesar yang akan dihadapi Berg adalah arah kebijakan siaran MLS setelah kontrak dengan Apple berakhir pada musim 2028-29. Kesepakatan streaming bersama Apple sejak awal dianggap sebagai langkah berani, dengan nilai awal 250 juta dolar AS per tahun. Namun, Apple dinilai masih minim pengalaman dalam menyiarkan olahraga, sementara tingkat adopsi platformnya belum sebanding dengan jaringan televisi tradisional.
Memasuki tahun keempat kerja sama, konten tambahan yang ditawarkan platform tersebut di luar pertandingan dan acara pramusim yang sesekali tayang nyaris habis. Sejumlah sumber di industri juga mengakui adanya pengurangan jumlah kamera pada pertandingan MLS dibandingkan musim perdana pada 2023. Kondisi ini jelas memengaruhi kualitas tayangan yang dinikmati para penggemar setia liga.
Data mengenai respons penonton terhadap kemitraan ini masih sangat langka. Pada Juli 2025, Garber menyebut rata-rata tayangan MLS ditonton 120.000 penonton unik per pertandingan, sebuah data langka di era platform streaming yang cenderung merahasiakan angka penonton. Meski MLS tak akan pernah menyamai ketertarikan publik terhadap Piala Dunia, rekor jumlah penonton sepak bola pada ajang 2026 menjadi pengingat bahwa masih banyak potensi penonton yang bisa diraih.
Mengapa Hak Siar Begitu Krusial?
Kesepakatan hak siar tidak bisa diremehkan karena menjadi sumber pendapatan signifikan bagi liga dan dibagikan kepada seluruh klub. Kontrak siaran yang lemah bisa mempersulit jalan bahkan liga terbesar sekalipun, seperti pelajaran pahit yang dialami Ligue 1. MLS tidak boleh mengambil langkah mundur, tetapi pertanyaannya adalah apakah solusi streaming eksklusif tetap menjadi pilihan terbaik ke depan.
Kualitas Lapangan dan Aturan Roster yang Perlu Dievolusi
Kandidasi Berg menguat berkat perannya memimpin komite olahraga dan kompetisi, dan Garber menegaskan bahwa Berg telah dipilih jauh sebelum menunjukkan aspirasi menjadi komisaris. Komite ini bertugas mengevolusi aturan roster MLS secara bertahap demi meningkatkan standar permainan di lapangan. Berg sendiri tidak ragu menyampaikan ambisinya dalam konferensi persnya beberapa waktu lalu.
“Kami punya banyak pekerjaan. Fondasinya jelas luar biasa, tetapi saya rasa semuanya dimulai dari kualitas di lapangan,” ujar Berg. “Semua orang ingin memanfaatkan momentum Piala Dunia, tetapi mereka punya pandangan berbeda tentang caranya. Tugas saya menampung semua masukan itu dan menyusun rencana ke depan. Kadang hanya butuh sedikit kreativitas.”
Kerangka aturan saat ini sebenarnya tidak kekurangan kreativitas, meski banyak pihak menganggap aturan seperti discovery rights dan pembatasan slot pemain terlalu rumit. Mekanisme tersebut membatasi klub-klub ambisius untuk membelanjakan dana sesuai keinginan di seluruh skuad mereka. Sementara itu, klub yang ingin menjadi “penjual pemain” hanya bisa menginvestasikan sebagian dari keuntungan transfer ke talenta berikutnya.
Perubahan Kalender dan Dampaknya pada Roster
Pergantian kalender kompetisi MLS akan menyelaraskan jadwal transfer dengan liga-liga top dunia lainnya, dan para pemilik klub sudah mulai berdiskusi tentang evolusi aturan roster. Argumen utama di balik perubahan kalender ini didasari oleh alasan olahraga semata. Tanpa reinventasi radikal dalam cara penyusunan skuad, perubahan kalender tersebut akan terasa sia-sia dan kehilangan maknanya.
Menjembatani Kesenjangan dengan Liga MX, Amerika, dan Dunia
Di akhir sesi konferensi persnya, Berg menyinggung perlunya meningkatkan kesadaran publik terhadap Leagues Cup, turnamen musim panas tahunan yang mempertemukan klub MLS dan Liga MX. Perluasan turnamen ini bertepatan dengan kesepakatan MLS bersama Apple, tetapi empat tahun berjalan belum cukup untuk menjadikannya tontonan wajib. Padahal Leagues Cup seharusnya menjadi ajang uji kemampuan MLS melawan klub-klub terbaik Meksiko.
Sejak 2022, klub MLS selalu berhasil mencapai final kompetisi tingkat kawasan Concacaf Champions Cup, mematahkan tren dominasi klub Meksiko selama bertahun-tahun. Namun, kedalaman skuad biasanya membuat klub terbaik MLS berada dalam posisi kurang menguntungkan dibandingkan raksasa seperti Monterrey, Club América, atau Chivas. Kesenjangan kualitas ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi liga.
Ambisi ini juga meluas ke luar Amerika Utara. Presiden Conmebol Alejandro Domínguez telah membuka peluang bagi klub MLS dan Liga MX untuk berpartisipasi di Copa Libertadores di masa depan. Namun dengan pembatasan pembangunan skuad yang ada saat ini, sulit membayangkan klub MLS mampu bersaing dengan River Plate, Palmeiras, atau Flamengo dalam waktu dekat.
Panggung Dunia dan Dampaknya bagi MLS
Inter Miami berhasil meraih perhatian dan pengakuan yang selama ini diinginkan MLS setelah mengalahkan Porto, kemenangan kompetitif pertama MLS atas lawan asal Eropa. Namun tidak semuanya berjalan mulus; LAFC milik Berg kesulitan di Piala Dunia Antarklub setelah menjadi tim terakhir yang lolos melalui play-in. Keikutsertaan rutin di Piala Dunia Antarklub seharusnya menjadi prioritas mengingat besarnya hadiah yang ditawarkan hanya untuk tampil saja.
Meningkatkan Relevansi Klub di Pasar Masing-Masing
Keberhasilan Berg bersama rekan-rekan pemiliknya membangun tim kedua di Los Angeles bukanlah pencapaian kecil, terutama di tengah bayang-bayang kegagalan Chivas USA. LAFC juga patut diapresiasi karena membangun hubungan baik dengan suporter yang tergabung dalam kelompok 3252, yang menciptakan atmosfer pertandingan khas dan menarik. Klub ini berhasil mendapatkan lokasi stadion di dalam kota, membangun fasilitas yang bagus, dan menjadi bagian mapan dari lanskap olahraga Los Angeles.
Dukungan suporter LAFC terasa autentik dan sering digunakan MLS sebagai materi iklan dalam berbagai kampanye. Namun, liga membutuhkan lebih banyak klub dengan gambaran sekuat itu. Di balik kesuksesan LAFC, masih ada sejumlah klub warisan yang berjuang lama untuk menjadi relevan di pasar besar seperti Colorado, Houston, New England, dan Dallas.
Klub-klub tersebut sebenarnya ikut berkembang bersama liga dalam beberapa hal, tetapi tidak di aspek lainnya. Membenahi masalah ini sebenarnya sudah menjadi prioritas sejak era Garber, tetapi pekerjaannya masih jauh dari selesai. Berg dituntut untuk mencari formula agar setiap klub bisa memiliki ikatan yang kuat dengan komunitasnya masing-masing.
Negosiasi CBA, Prioritas Komisaris Baru MLS yang Paling Mendesak
Semua faktor di atas akan dipertimbangkan dalam agenda paling mendesak yang menanti Berg: negosiasi perburuhan yang semakin dekat. MLS dan Asosiasi Pemain MLS (MLSPA) sebelumnya merundingkan ulang ketentuan kontrak pada 2021 akibat pandemi Covid-19, dengan perpanjangan kesepakatan hingga akhir 2027. Batas waktu itu kini semakin dekat, dan cara Berg menangani proses tawar-menawar pertamanya akan menentukan nada hubungan kedua belah pihak di masa depan.
Berbeda dengan masa sebelumnya ketika Berg hanya satu dari 30 suara pemilik klub, kini ia memimpin dengan menampung aspirasi dari seluruh kelompok kepemilikan. Hasil negosiasi ini akan berdampak jangka panjang pada sisa masa kepemimpinannya sebagai komisaris. Sejak kesepakatan 2021 diratifikasi, MLS telah mengalami banyak perubahan besar yang ikut membentuk lanskap baru liga.
Liga telah mengubah format play-off dengan menambahkan babak best-of-three dan wild card, meski Berg mengisyaratkan akan ada perubahan lebih lanjut dalam konferensi persnya. MLS juga meluncurkan MLS Next Pro untuk menghubungkan akademi dengan tim utama, dan empat klub baru telah bergabung dalam beberapa tahun terakhir. Banyak momen pertengahan 2020-an yang akan dikenang berkat aksi Lionel Messi di Amerika Serikat, tetapi pemain berusia 39 tahun itu tidak akan selamanya berkeliling stadion MLS.
Negosiasi ini akan memperjelas prioritas dan kerangka kerja untuk babak baru liga yang secara resmi dipegang oleh Berg. Belum ada indikasi akan terjadi penghentian kompetisi, tetapi perundingan CBA yang berlarut-larut bisa memicunya. Itu akan menjadi skenario buruk bagi momentum liga yang sedang membangun.
Lima prioritas di atas menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi Berg sebagai komisaris baru MLS. Mulai dari kontrak hak siar yang harus dirancang ulang, aturan roster yang perlu disegarkan, hingga negosiasi CBA yang menuntut kejelian, semuanya akan menentukan arah liga dalam dekade berikutnya. Berg sendiri tampak sadar bahwa fondasi yang ditinggalkan Garber sudah kuat, tetapi ia juga memahami bahwa stagnasi bukanlah pilihan.
- Merancang ulang strategi hak siar setelah kontrak Apple berakhir pada 2028-29
- Mengevolusi aturan roster demi meningkatkan kualitas permainan di lapangan
- Menjembatani kesenjangan dengan Liga MX dan kompetisi global
- Meningkatkan relevansi klub di pasar masing-masing
- Menavigasi negosiasi CBA dengan serikat pemain hingga 2027
Dengan Piala Dunia 2026 yang sudah di depan mata dan Lionel Messi yang semakin mendekati akhir kariernya, MLS berada di persimpangan penting. Keputusan yang diambil Berg dalam beberapa tahun pertama akan menentukan apakah liga ini mampu naik kelas atau justru kehilangan momentum yang sudah dibangun. Semua mata kini tertuju pada langkah pertama komisaris baru tersebut.