Brighton kembali menunjukkan tajinya di Premier League dengan pesta gol saat menghancurkan rival mereka, Crystal Palace, 5-0 di Amex Stadium pada Minggu. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin biasa: Brighton tampil sebagai tim paling produktif di liga musim ini, sekaligus menghadirkan salah satu gol paling spektakuler yang pernah tercipta di kompetisi tersebut.
Bagi publik Amex, hasil ini terasa seperti pembalasan yang manis. Pada Februari lalu, Palace justru menang 1-0 di kandang Brighton, dan saat itu Seagulls terpuruk di peringkat 14 dengan hanya satu kemenangan dari 12 laga liga. Kini posisi keduanya berbalik total, dan euforia di tribun menjadi gambaran jelas betapa cepat perubahan terjadi di bawah asuhan Fabian Hurzeler.

Gol Diego Gomez dari 51 Meter Jadi Sorotan Utama
Momen paling banyak dibicarakan tentu saja gol kedua Brighton pada menit ketujuh. Gelandang asal Paraguay, Diego Gomez, melepaskan tembakan dari garis tengah setelah melihat kiper Palace, Walter Benitez, berada jauh dari sarangnya. Bola melesat sejauh 51 meter dan masuk tepat di bawah mistar gawang, sementara Benitez yang berusaha berlari kembali hanya bisa terjatuh tanpa mampu menjangkau.
Catatan statistik menempatkan gol tersebut sebagai yang terjauh di Premier League sejak Wayne Rooney mencetak gol dari 58 meter untuk Everton saat mengalahkan West Ham 4-0 pada November 2017. Sebelumnya, bek tengah Lewis Dunk memenangi gol terbaik bulan September lewat tembakan 35 meter ke gawang Coventry, tetapi jarak itu kini terasa biasa saja dibandingkan apa yang dilakukan Gomez.
“Begitu dia menendang, saya sudah tahu bola itu masuk. Dia merebut gelar gol terbaik musim ini dari saya,” ujar kapten Brighton, Lewis Dunk, sambil bercanda. Komentator BBC Radio 5 Sports Extra, Efan Ekoku, menambahkan bahwa gol itu “luar biasa dieksekusi, tepat melewati kepala kiper dari lingkaran tengah”. Sementara Gomez sendiri mengaku sempat bingung merayakannya. “Saat mencetak gol, saya tidak tahu harus lari ke mana atau berbuat apa,” kata pemain berusia 23 tahun itu.
Dipuji Setara Beckham, Kiper Palace Tak Disalahkan
Mantan kiper Newcastle yang kini menjadi pengamat Match of the Day, Shay Given, menyebut gol Gomez mengingatkan pada tembakan ikonik David Beckham untuk Manchester United melawan Wimbledon pada 1996. Menariknya, ia menolak menyalahkan Benitez atas posisinya yang tinggi. Menurutnya, dalam sepak bola modern kiper memang dituntut bermain sebagai sweeper untuk mengantisipasi bola terobosan di balik garis pertahanan yang tinggi.
“Posisinya sudah benar. Kita hanya perlu angkat topi untuk Gomez. Itu gol yang benar-benar brilian,” tegas Given. Pujian itu menegaskan bahwa apa yang dilakukan Gomez bukan hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari kemampuan membaca situasi dengan cepat.
Hurzeler sendiri tetap menjaga anak asuhnya agar tidak terbawa euforia. Ia menekankan bahwa timnya tidak pernah berlatih menembak dari jarak 50 meter, dan yang paling penting baginya justru hal-hal kecil yang masih bisa diperbaiki, seperti umpan-umpan pendek yang terlewat. “Tidak mudah mencetak gol seperti itu. Semua orang membicarakannya, tetapi bagi saya yang terpenting adalah aspek yang bisa kami tingkatkan,” ujarnya.
Produktivitas Brighton Hanya Kalah dari Barcelona
Dengan tambahan lima gol ke gawang Palace, Brighton kini mengoleksi 23 gol di liga, empat lebih banyak dari pemuncak klasemen Manchester City dan lebih dari dua kali lipat raihan Arsenal yang baru mencetak 11 gol. Mereka juga tercatat memiliki 10 pencetak gol berbeda, menjadikan skuad asuhan Hurzeler sebagai tim paling menghibur sejauh musim ini.
Sejak kompetisi kasta tertinggi Inggris berganti nama menjadi Premier League pada 1992, hanya tiga tim yang mencetak lebih banyak gol dalam tujuh laga pembuka: Arsenal (24 gol pada 2009-10), Manchester United (24 gol pada 2011-12), dan Manchester City (27 gol pada 2019-20). Di antara lima liga top Eropa, hanya Barcelona yang lebih produktif dengan 39 gol dari sembilan pertandingan La Liga.
Konsistensi itu terlihat dari rentetan hasil: menang 4-0 atas Aston Villa yang musim lalu finis keempat, 5-0 di markas Coventry, 3-0 kontra Arsenal, 2-0 di markas Sunderland meski bermain dengan sepuluh orang, dan kini 5-0 atas Palace. Brighton saat ini menempati peringkat ketiga dengan 16 poin dari tujuh laga, memicu harapan suporter akan tiket Liga Champions, bahkan kans bersaing di jalur juara.
Ujian Sebenarnya Baru Dimulai
Meski tampil impresif, Hurzeler dengan tegas menolak membicarakan peluang juara. “Kami harus tetap sangat rendah hati. Musim ini akan panjang. Kami tidak boleh merasa puas dan harus terus mendorong diri, serta memahami mengapa kami bisa sukses saat ini,” katanya. Pernyataan itu wajar, mengingat Brighton belum pernah finis lebih tinggi dari peringkat keenam di kasta tertinggi Inggris.
Ujian sesungguhnya menanti karena lima pertandingan berikutnya semuanya dimainkan di luar rumah. Rangkaian itu mencakup lawatan ke Liverpool dan Manchester City di liga, kembali ke Etihad Stadium pada babak 16 besar Carabao Cup, plus dua laga Conference League di Republik Ceko melawan Jablonec dan di Spanyol melawan Getafe. Brighton baru kembali ke Amex pada 8 November untuk menjamu Brentford.
Sejauh ini, performa mereka di kompetisi lain juga meyakinkan. Di Carabao Cup, mereka bangkit dari ketertinggalan 2-0 menjadi kemenangan 3-2 di Old Trafford dan menyingkirkan Manchester United. Di Conference League, status sebagai favorit dibuktikan dengan mencetak empat gol ke gawang Tromso dari Norwegia dan juara Lithuania, Kauno Zalgiris.
Given menilai Brighton punya potensi mengulang kejutan seperti Leicester City pada 2016 atau Blackburn Rovers pada 1995. Namun ia mengingatkan bahwa musim dingin yang panjang dan padatnya jadwal Eropa akan menguras tenaga. Ia juga menyoroti keunggulan lain Brighton: menjadi tim terbaik di liga untuk situasi bola mati dengan sembilan gol, serta menjadi tim paling produktif sekaligus paling sulit dibobol bersama tim lain.
Kesimpulan
Kemenangan 5-0 atas Crystal Palace menegaskan bahwa Brighton bukan hanya tim yang rajin mencetak gol, tetapi juga tim yang menghibur dan semakin matang di bawah Fabian Hurzeler. Gol Diego Gomez dari 51 meter menjadi simbol kepercayaan diri skuad, sementara 23 gol dalam tujuh laga menempatkan mereka di antara tim paling produktif di Eropa musim ini.
Namun, euforia di Amex bisa cepat berubah menjadi ujian berat. Dengan lima laga tandang beruntun melawan lawan-lawan kelas atas, bulan-bulan mendatang akan menjadi ukuran sebenarnya seberapa jauh Brighton bisa melangkah musim ini.