Aturan High Impact Player (HIP) di NWSL tidak lagi dibebani syarat yang kaku. Liga sepak bola perempuan Amerika Serikat itu dan Asosiasi Pemain NWSL (NWSLPA) mencapai kesepakatan untuk menghapus kriteria kontroversial dalam aturan tersebut, sehingga kini siapa pun berpeluang meraih gaji tertinggi di liga tanpa harus lolos seleksi berdasarkan daftar nama atau popularitas.
Kesepakatan ini menutup salah satu perselisihan paling menonjol antara liga dan serikat pemain dalam beberapa tahun terakhir. Aturan HIP sendiri baru diperkenalkan pada akhir tahun lalu sebagai jalan agar klub bisa menahan bintangnya dari tawaran klub Eropa, tetapi mekanisme penentuannya justru memicu keluhan hukum. Karena itu, penyelesaian ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan penanda bagaimana NWSL menata ulang hubungan kerja dengan para pemainnya di tengah pertumbuhan liga yang cepat.

Isi Kesepakatan: Kriteria Dihapus, Ambang Gaji 12 Persen
Inti dari kesepakatan yang diumumkan pada Jumat itu adalah penghapusan seluruh kriteria kelayakan yang sebelumnya melekat pada status High Impact Player. Selama ini, pemain hanya bisa menyandang status tersebut jika memenuhi salah satu dari delapan kriteria, mulai dari menit bermain bersama tim nasional Amerika Serikat, pengakuan Ballon d’Or, penghargaan NWSL Best XI, hingga pencantuman dalam daftar media seperti Top 100 versi Guardian serta sebuah peringkat yang mengurutkan atlet berdasarkan daya jual pasar.
Dengan kesepakatan baru, mulai 1 Januari 2027 klub bisa menetapkan pemain mana pun sebagai High Impact Player asalkan nilai gajinya mencapai minimal 12 persen dari batas gaji dasar. Liga tetap memiliki ruang untuk menetapkan batas jumlah pemain HIP di tiap klub, sehingga aturan ini tidak otomatis berubah menjadi pintu bebas tanpa kendali.
Perubahan ini terasa signifikan karena versi awal aturan hanya memberi kelonggaran bagi sekitar 100 pemain yang lolos kriteria. Daftar itu memang memuat nama seperti Trinity Rodman dan Sophia Wilson, tetapi justru menyingkirkan sosok sekelas Sam Kerr, peraih dua kali gelar MVP NWSL, serta bintang timnas Amerika Serikat Catarina Macario. Ketimpangan semacam itulah yang membuat mekanisme seleksi dianggap tidak adil.
Kronologi dan Julukan “Rodman Rule”
Aturan HIP diperkenalkan liga pada Desember tahun lalu sebagai respons atas gelombang pemain yang berlabuh ke Eropa, wilayah yang tidak terikat batas gaji. Lewat aturan ini, klub diizinkan mengeluarkan tambahan hingga 1 juta dolar AS di atas batas gaji demi merekrut pemain bintang — batas gaji untuk musim 2026 sendiri ditetapkan sebesar 3,7 juta dolar AS. Aturan ini disahkan dewan gubernur liga dan mulai berlaku pada 1 Juli.
Mekanisme tersebut lantas dikenal luas sebagai “Rodman Rule” karena kemunculannya bertepatan dengan saga kontrak berkepanjangan Trinity Rodman bersama Washington Spirit. Pada November, sebelum aturan HIP lahir, Spirit berupaya memperpanjang kontrak Rodman dengan nilai rata-rata lebih dari 1 juta dolar AS per tahun. Namun Komisioner NWSL Jessica Berman menolak kesepakatan itu karena menilai strukturnya yang dibebankan di belakang melanggar aturan liga.
NWSLPA kemudian mengajukan keluhan atas nama Rodman dan menyebut penolakan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap hak kebebasan pemain. Beberapa pekan berselang, liga memperkenalkan aturan HIP. Rodman akhirnya memperpanjang kontrak dengan Spirit pada Januari lewat kesepakatan bernilai lebih dari 2 juta dolar AS per tahun, menjadikannya salah satu kontrak termahal di liga.
Dampak bagi Pemain, Klub, dan Keseimbangan Kompetisi
Bagi para pemain, penghapusan kriteria berarti nilai kontrak menjadi satu-satunya ukuran, bukan lagi rekam jejak di media sosial, daftar sponsor, atau pencapaian di level tertentu. Keluhan NWSLPA selama ini berargumen bahwa klasifikasi pemain berdasarkan kriteria tersebut melanggar hukum perburuhan federal sekaligus Perjanjian Kerja Bersama (CBA) yang sudah disepakati. Dengan hilangnya kriteria, praktik penggolongan yang dinilai sewenang-wenang itu tak lagi punya dasar.
Bagi klub, keleluasaan menjadi lebih besar tetapi tetap terikat disiplin anggaran. Sejumlah pemain yang sebenarnya memenuhi kriteria lama telah menandatangani atau memperbarui kontrak dengan mekanisme HIP, antara lain Lindsey Heaps (Denver), Barbra Banda (Orlando), dan Rose Lavelle (Gotham). Perlu dicatat, klub tidak diwajibkan mengungkapkan siapa saja pemain yang direkrut menggunakan mekanisme ini.
Liga pun tidak kehilangan alat kendali sepenuhnya. NWSL masih bisa menolak kontrak yang dicurigai sebagai upaya mengakali batas gaji, tetapi keputusan itu wajib diberitahukan kepada serikat pemain disertai penjelasan dalam waktu 72 jam. Liga juga diwajibkan menyampaikan pembaruan informasi soal batas gaji dan pendapatan kepada klub sepanjang tahun, sebuah bentuk transparansi yang sebelumnya tidak dijamin.
Enam Keluhan Diselesaikan, Termasuk Kebijakan Sepatu
Kesepakatan ini sebenarnya mencakup enam keluhan sekaligus, bukan hanya soal aturan HIP. Salah satunya adalah keluhan atas penolakan proposal kontrak antara Washington Spirit dan Rodman, yang sempat tetap terbuka meski sang pemain kemudian menandatangani kontrak baru. Penyelesaian menyeluruh ini menunjukkan bahwa perselisihan antara liga dan serikat pemain berlapis dan saling terkait.
Sengketa lain yang ikut diselesaikan menyangkut kebijakan alas kaki liga, yang selama ini mengatur merek apa saja yang boleh dipakai pemain saat bertanding. Sepanjang musim ini, sejumlah pemain menerima peringatan hingga denda karena memakai sepatu dari merek yang bukan sponsor resmi. Dalam kesepakatan baru, liga akan menghormati perjanjian endorsement yang sudah ada bagi sebagian besar pemain dan menarik kembali denda-denda sebelumnya.
Respons kedua pihak mencerminkan nada penyelesaian yang relatif konstruktif. Direktur NWSLPA Meghann Burke mengatakan kepada ESPN, yang pertama kali memberitakan kesepakatan ini, bahwa hasil tersebut “jelas menjadi bukti kekuatan dan komitmen NWSLPA dalam menegakkan ketentuan Perjanjian Kerja Bersama”. Sementara itu, Wakil Presiden Eksekutif NWSL Bill Ordower menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah bagian alami dari hubungan kerja yang matang, terutama di liga yang tumbuh secepat NWSL, dan yang terpenting adalah cara menyelesaikannya.
Ordower menambahkan bahwa perjanjian ini memberi pemain, klub, dan liga kejelasan serta kepastian yang lebih besar ke depan, sekaligus melindungi integritas dan keseimbangan kompetisi yang menjadi fondasi NWSL. Pernyataan itu semacam pengakuan bahwa aturan awal memang menimbulkan ketidakpastian bagi semua pihak yang terlibat.
Konteks Lebih Luas: Bersaing dengan Liga Eropa
Langkah NWSL menghapus kriteria HIP tidak bisa dilepaskan dari tekanan kompetitif lintas benua. Klub-klub Eropa tidak dibatasi aturan batas gaji, sehingga mereka leluasa menawarkan kontrak besar kepada pemain terbaik Amerika. Aturan HIP lahir sebagai jawaban atas arus kepergian talenta itu, dan penyempurnaannya kini menjadi upaya lanjutan agar liga tetap kompetitif tanpa mengorbankan hak-hak pemain.
Pola serupa sebenarnya lazim terjadi di liga-liga yang tengah berkembang pesat: aturan dibuat cepat untuk merespons pasar, lalu diperbaiki lewat proses perundingan ketika menuai gugatan. Yang membedakan NWSL adalah keberadaan serikat pemain yang cukup kuat untuk memaksa revisi melalui mekanisme hukum ketenagakerjaan, bukan sekadar lewat lobi internal.
Ke depan, mata akan tertuju pada bagaimana klub menggunakan keleluasaan baru ini setelah 1 Januari 2027, termasuk apakah liga benar-benar memakai opsi membatasi jumlah pemain HIP per klub. Jika ambang 12 persen dari batas gaji dasar menjadi patokan, struktur pengeluaran klub berpotensi bergeser ke arah yang lebih terkonsentrasi pada segelintir pemain bintang.
Penutup
Kesepakatan antara NWSL dan NWSLPA pada dasarnya menutup bab kontroversi aturan High Impact Player: delapan kriteria kelayakan dihapus, digantikan ambang gaji minimal 12 persen dari batas gaji dasar yang mulai berlaku 1 Januari 2027. Penyelesaian ini juga merangkum enam keluhan sekaligus, dari sengketa kontrak Trinity Rodman hingga kebijakan sepatu yang dendanya kini ditarik kembali.
Yang tersisa adalah pekerjaan rumah bersama: memastikan mekanisme baru benar-benar menjaga keseimbangan kompetisi tanpa kembali menciptakan celah yang merugikan pemain. Bagi NWSL, kemampuan menyelesaikan perselisihan lewat perundingan ini setidaknya menunjukkan bahwa liga belajar menyesuaikan aturan secepat ia tumbuh.