Alex Scott Mundur dari Disney+, Fokus Proyek Baru

Keputusan Alex Scott mundur dari Disney+ menjadi salah satu sorotan terbaru di dunia sepak bola wanita. Mantan pembawa acara Football Focus itu meninggalkan perannya sebagai presenter liputan Liga Champions Wanita Eropa di platform streaming tersebut. Kabar ini menandai berakhirnya kerja sama Scott dengan Disney+, yang baru memegang hak siar kompetisi klub putri paling bergengsi di Eropa itu sejak 2025.

Menurut informasi yang beredar, langkah tersebut murni merupakan keputusan Scott sendiri. Ia memilih mengalihkan fokus ke sejumlah proyek lain, termasuk acara barunya, One More Word WSL, yang ia kembangkan bersama dua mantan pemain timnas Inggris, Anita Asante dan Fara Williams. Kepergian salah satu wajah paling dikenal dalam liputan sepak bola wanita Inggris ini pun memunculkan pertanyaan soal arah penyiaran kompetisi tersebut ke depan.

Alex Scott

Alasan Alex Scott Mundur dari Disney+

Scott bukan sosok baru di dunia penyiaran olahraga. Ia lebih dulu dikenal sebagai bek timnas Inggris dan Arsenal sebelum beralih menjadi presenter, dan pernah membawakan sejumlah acara olahraga besar untuk BBC, termasuk liputan Olimpiade 2020. Ia juga sempat tampil sebagai peserta dalam acara hiburan populer seperti Strictly Come Dancing di BBC dan I’m a Celebrity … Get Me Out of Here! di ITV. Kombinasi pengalaman sebagai atlet dan presenter inilah yang membuat kehadirannya di kursi pembawa acara Liga Champions Wanita terasa penting.

Selama lima musim, Scott membawakan acara Football Focus di BBC sebelum acara itu ditutup pada tahun ini. Di awal musim Women’s Super League (WSL), ia meluncurkan One More Word melalui rumah produksinya sendiri, First Cap Productions. Acara tersebut, menurut penuturannya, lahir sebagai respons atas keputusan BBC menghentikan program highlights WSL mingguan. Dengan kata lain, kepergiannya dari Disney+ bukan tanpa arah, melainkan bagian dari pergeseran fokus ke proyek yang ia kendalikan sendiri.

Dalam wawancara dengan The Observer bulan ini, Scott menyoroti cara industri memperlakukan acara sepak bola wanita. “Saya merasa selalu ada alasan yang dikemukakan soal acara sepak bola wanita tidak berjalan, entah karena jumlah penonton atau kebutuhan menghemat biaya,” ujarnya. “Padahal menurut saya, jika dikerjakan dengan benar, acara seperti itu bisa berhasil, terutama jika diberi ide atau format baru.” Pernyataan ini memberi gambaran bahwa keputusannya berpisah berkaitan erat dengan visinya soal bagaimana konten sepak bola wanita seharusnya dibuat.

Kritik terhadap Kualitas Produksi Disney+

Di sisi lain, liputan Disney+ untuk Liga Champions Wanita musim ini sempat menuai kritik. Kualitas produksi dinilai kurang memuaskan pada putaran pembuka. Sejumlah masalah teknis muncul dan mengganggu jalannya siaran, sehingga pengalaman menonton para penggemar ikut terdampak. Kritik tersebut menjadi konteks penting mengapa posisi presenter di liputan ini menjadi sorotan publik.

Salah satu insiden yang paling disorot adalah jeda iklan tak terjadwal yang memotong babak kedua pertandingan Arsenal melawan HB Køge. Laga yang berakhir 1-0 untuk Arsenal itu terhenti lebih dari tiga menit akibat tayangan iklan tersebut. Gangguan semacam ini jelas mengganggu alur pertandingan yang seharusnya dinikmati penonton secara utuh.

Scott sendiri tidak menutup mata terhadap persoalan itu. “Pada akhirnya, apakah saya setuju dengan semua keputusan yang diambil? Tentu tidak. Apakah saya mencoba memberi masukan? Ya, tapi saya hanya bisa berbuat sebatas kemampuan saya,” katanya kepada The Observer. Ia menambahkan, “Tapi tidak ada yang melihat percakapan dan perjuangan yang saya lakukan di balik layar. Namun saya bisa menegakkan kepala dan tahu bahwa saya selalu berusaha semaksimal mungkin demi kebaikan yang lebih besar bagi olahraga wanita.”

Respons Disney+ dan Kelanjutan Liputan

Pihak Disney+ menyampaikan penghargaan atas kontribusi Scott selama menangani liputan kompetisi tersebut. “Kami ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Alex Scott atas kontribusinya terhadap liputan Liga Champions Wanita Uefa di Disney+,” ujar seorang juru bicara. “Gairahnya terhadap sepak bola wanita dan kompetisi ini terlihat jelas selama ia bersama kami, dan kami menghargai semua yang telah ia berikan. Kami mendoakan kesuksesan untuknya.”

Dari kubu Scott, perwakilannya menegaskan bahwa hubungan baik tetap terjaga. “Alex bersyukur atas kesempatan bekerja bersama tim Disney+, dan berharap mereka bisa terus bekerja sama di masa depan,” ujar perwakilannya. Sumber lain yang dihubungi The Guardian juga menyebut hubungan presenter tersebut dengan Disney masih positif. Ini menunjukkan bahwa kepergian Scott lebih bersifat profesional dan berbasis pilihan karier, bukan akibat konflik terbuka.

Liputan Disney+ untuk Liga Champions Wanita diproduksi oleh ESPN. Pada 2025, Disney memperoleh kesepakatan eksklusif berdurasi lima tahun untuk menyiarkan kompetisi tersebut di sejumlah wilayah siaran Eropa. Tim presenter mereka dipastikan akan tetap berisi nama-nama seperti Shebahn Aherne, Nedum Onuoha, dan Lianne Sanderson, dengan jajaran komentator yang mencakup Vicki Sparks dan Jacqui Oatley. Kompetisi sendiri akan kembali bergulir pada 28 Oktober mendatang.

Dampak bagi Karier Scott dan Industri Penyiaran

Bagi Scott, keputusan ini mempertegas posisinya sebagai figur yang ingin lebih mandiri dalam mengelola konten. Dengan membangun One More Word lewat First Cap Productions, ia tidak lagi sekadar menjadi wajah di depan kamera, tetapi juga mengendalikan arah dan format acaranya. Langkah ini sejalan dengan kritiknya bahwa acara sepak bola wanita bisa berhasil asalkan diberi ide dan pendekatan baru.

Dampaknya bagi industri penyiaran juga menarik dicermati. Ketika seorang presenter sekaliber Scott memilih fokus pada produksi sendiri, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa model kerja sama dengan platform besar tidak selalu sejalan dengan visi para pelakunya. Pemegang hak siar seperti Disney pun dituntut untuk memastikan kualitas produksi tetap terjaga, terutama setelah kritik pada putaran pembuka musim ini.

Di sisi lain, kepergian Scott menimbulkan pertanyaan soal daya tarik jangka panjang liputan sepak bola wanita di platform streaming. Tanpa salah satu ikon seperti dirinya, Disney+ perlu membuktikan bahwa kualitas penyiaran dan kedekatan dengan penggemar tetap dapat dijaga. Publik tentu akan menantikan bagaimana tim presenter yang tersisa mengisi peran tersebut.

Konteks Lebih Luas Sepak Bola Wanita

Kasus ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah program sepak bola wanita justru menghadapi tantangan serupa, seperti penutupan acara highlights WSL mingguan oleh BBC. Situasi tersebut menunjukkan bahwa meski popularitas sepak bola wanita terus tumbuh, dukungan terhadap program pendukungnya tidak selalu berjalan seiring.

Scott, yang genap berusia 42 tahun pada Rabu, tampaknya ingin menempatkan diri di tengah perubahan lanskap itu. Ia menyoroti bahwa selama ini terlalu banyak alasan yang dipakai untuk membenarkan kegagalan acara sepak bola wanita. Baginya, persoalan utamanya kerap bukan pada minat penonton, melainkan pada cara acara tersebut dikemas dan dipromosikan.

Dengan kompetisi yang kembali bergulir pada 28 Oktober, perhatian akan tertuju pada bagaimana Disney+ merespons kritik dan melanjutkan liputannya. Perkembangan karier Scott melalui One More Word juga akan menjadi tolok ukur, apakah pendekatan produksi mandiri mampu menghadirkan acara sepak bola wanita yang benar-benar diminati penonton. Apa pun hasilnya, dinamika ini menjadi bagian penting dari perjalanan sepak bola wanita menuju sorotan yang lebih besar.

Keputusan Alex Scott mundur dari Disney+ menegaskan bahwa pilihan karier dan visi pribadi kini memainkan peran besar dalam industri penyiaran olahraga. Meski berpisah, kedua belah pihak menyatakan tetap menjaga hubungan baik, sementara Disney+ melanjutkan liputan dengan tim presenter yang ada. Yang paling dinantikan berikutnya adalah sejauh mana sepak bola wanita, baik di panggung klub Eropa maupun di level domestik, akan terus mendapat ruang dan kualitas siaran yang layak.