Hasil imbang Australia vs Brasil 1-1 menutup pertandingan yang digelar di Queensland Country Bank Stadium, Townsville, pada Jumat malam. Nestory Irankunda nyaris mengantar Socceroos meraih kemenangan bersejarah lewat gol tendangan bebasnya pada menit ke-68, tetapi Rayan menyamakan kedudukan melalui sundulan pada tendangan terakhir laga.
Malam itu Townsville memang kedatangan banyak bintang. Bruno Guimarães, Raphinha, dan Vinícius Júnior masuk dalam starting XI Brasil, dengan Endrick memimpin lini depan dan Estêvão beroperasi di sisi sayap, semuanya diarahkan Carlo Ancelotti dari bangku cadangan. Namun sorotan utama justru jatuh kepada pemain muda Australia, Nestory Irankunda, yang mampu tampil menonjol di tengah deretan nama besar tersebut.

Irankunda Mencuri Panggung Bintang-Bintang Brasil
Momen itu seolah bisa dirasakan hampir semua orang di stadion yang terisi penuh oleh 25.440 penonton. Ketika Paul Okon-Engstler memenangkan tendangan bebas sekitar 25 yard dari gawang Brasil, laga terasa seperti sedang menunggu sebuah eksekusi. Dan ketika Irankunda berdiri di belakang bola, tidak ada keraguan soal apa yang akan dia lakukan; pemain berusia 20 tahun itu punya banyak hal, tetapi rasa percaya diri bukan salah satu yang kurang darinya.
Eksekusinya pun sesuai harapan. Bola melengkung melewati pagar betis pemain Brasil dan jatuh tepat di dalam gawang, meninggalkan kiper Hugo Souza yang hanya bisa menatap tanpa mampu berbuat apa-apa. Selebrasi salto langsung diperlihatkan Irankunda saat ia berlari ke arah bendera sudut, sementara senyum tipis terlihat di wajah Tony Popovic di bangku cadangan.
Masih banyak aspek permainan Irankunda yang perlu diasah, terutama soal konsistensi dan pengambilan keputusan di lapangan. Meski begitu, aksi-aksi seperti itulah yang kembali menegaskan besarnya potensi sang pemain bagi masa depan Socceroos. Di laga yang mempertemukan sebagian pemain terbaik dunia, dia mampu membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan.
Rayan Selamatkan Brasil di Detik Terakhir
Gol Irankunda memicu reaksi keras dari Brasil. Mereka melancarkan serangan bertubi-tubi untuk menghindari kemungkinan rasa malu karena kalah dari Australia, tim yang secara tradisi dianggap levelnya di bawah mereka. Tekanan itu akhirnya berbuah tepat pada tendangan terakhir pertandingan, ketika sepak pojok Raphinha dari sisi kiri disambut sundulan Rayan.
Sundulan itu diarahkan ke gawang dengan kekuatan yang cukup untuk membuat Patrick Beach tak bisa berbuat banyak. Meski sempat menyentuh bola, kiper Australia itu tidak mampu mencegah bola membentur mistar dan melewati garis gawang. Brasil pun terhindar dari kekalahan, sekaligus membatalkan kemenangan yang sudah berada di depan mata bagi tuan rumah.
Raphinha, yang tengah berada dalam performa terbaiknya bersama Barcelona, memang menjadi pengirim bola pada momen krusial itu. Bola mati terbukti menjadi salah satu senjata paling efektif Brasil sepanjang laga, dan kali ini eksekusinya berjalan persis seperti yang mereka butuhkan.
Ancaman Brasil dan Gol Estêvão yang Dianulir VAR
Brasil sebenarnya sudah sempat menembus gawang Australia tepat sebelum turun minum. Estêvão, pemain berusia 19 tahun yang sedang naik daun, menuntaskan peluang dengan penyelesaian yang tenang dan terukur, tetapi VAR menganulir gol itu karena adanya pelanggaran Bruno Guimarães terhadap Harry Souttar dalam proses terjadinya gol. Keputusan tersebut dinilai sudah tepat.
Sebelumnya, akselerasi cepat Vinícius Júnior membuka ruang bagi Estêvão untuk melepaskan tembakan yang berhasil diblok. Raphinha juga menciptakan ruang di luar kotak penalti dan melepaskan tembakan yang melebar tak lama setelah pertandingan melewati menit ke-60. Deretan peluang itu menunjukkan bahwa Brasil tidak pernah benar-benar kehilangan kendali atas jalannya serangan.
Reaksi Popovic dan Ancelotti soal Hasil Imbang Australia vs Brasil
Pelatih Australia, Tony Popovic, mengaku kecewa, tetapi justru melihat rasa kecewa itu sebagai tanda kemajuan timnya. “Saya pikir ini mungkin tanda kemajuan kalau kami merasa agak kecewa, dan ruang ganti terasa agak sunyi,” ujarnya. “Menurut saya itu pertanda bagus.”
“Ya, tentu saja Anda senang mendapat satu poin dalam laga seperti ini melawan Brasil. Tapi ketika Anda memimpin sampai tendangan terakhir, tentu Anda meninggalkan lapangan dengan sedikit kecewa. Setelah itu mereda, saya yakin kami bisa menilai keseluruhan penampilan dan merasa sangat puas. Tapi saya justru senang ada rasa kecewa itu, karena saya juga merasakannya,” lanjutnya.
Dari kubu Brasil, Carlo Ancelotti menilai hasil ini bukanlah kekalahan. “Rasanya tidak seperti kekalahan karena ini hasil imbang. Kami bisa saja menang; kami punya peluang. Kami harus bersabar. Kami bangkit setelah kebobolan dan meraih hasil imbang yang pantas,” katanya. Menurutnya, laga ini adalah ujian yang harus dilalui timnya untuk memberi kesempatan kepada para pemain dan terus melangkah.
Ancelotti juga mengaku tidak terkejut dengan perlawanan yang ditunjukkan Australia. “Bukan kejutan. Mereka bertahan sangat keras dan sangat baik. Kami bermain baik, tapi hal seperti ini bisa terjadi. Pertandingan melawan Australia tidak mengejutkan saya,” ujarnya.
Kualitas Lapangan Queensland Country Bank Stadium Jadi Sorotan
Di balik hasil imbang itu, ada satu faktor yang sama-sama mengganggu kedua tim, yakni kondisi lapangan Queensland Country Bank Stadium. Permukaan lapangan digambarkan seperti arena es dan semakin memburuk seiring berjalannya pertandingan. Padahal, lapangan tersebut baru terakhir dipakai 20 hari sebelumnya untuk dua pertandingan sekaligus, yaitu laga North Queensland Cowboys di kompetisi NRL dan NRLW.
Keraguan terhadap permukaan lapangan terlihat dari jeda singkat dan gerakan yang sengaja dilakukan dengan hati-hati oleh para pemain. Meski begitu, hal itu tidak menghalangi sejumlah pemain terjatuh ke rumput seiring pertandingan berjalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, terutama mengingat besarnya peran pemerintah negara bagian Queensland sebagai penyelenggara rangkaian dua pertandingan ini, yang promosinya terlihat di mana-mana sepanjang pekan.
Ancelotti pun angkat bicara soal hal ini. “Lapangannya tidak bagus. Lapangan… sulit bermain di lapangan seperti ini. Dan kami berharap ada lapangan yang lebih baik untuk pertandingan berikutnya,” ujarnya.
Sinyal Kemajuan Socceroos di Bawah Popovic
Di luar kekecewaan, ada banyak hal positif yang bisa diambil Australia dari laga ini. Aksi penyelamatan heroik dan determinasi keras di lini belakang sudah menjadi ciri khas Socceroos di bawah Popovic. Namun, kali ini ada tambahan lain yang membuat penampilan mereka terasa lebih meyakinkan.
Australia juga menunjukkan keberanian dalam menguasai bola. Ada fase ketika mereka bertahan lebih tinggi di lapangan, dan ada pula momen ketika pemain berani menggiring bola serta melewati lawannya secara langsung. Sikap semacam itu yang membuat hasil imbang ini terasa lebih bermakna daripada sekadar tambahan satu poin.
Beberapa catatan penting dari laga ini antara lain:
- Laga berakhir 1-1 di hadapan 25.440 penonton yang memenuhi stadion.
- Gol tendangan bebas Irankunda lahir pada menit ke-68 dari jarak sekitar 25 yard.
- Brasil menyamakan kedudukan lewat sundulan Rayan pada tendangan terakhir laga.
- Gol Estêvão sebelum jeda dianulir VAR karena pelanggaran Bruno Guimarães.
Hasil imbang Australia vs Brasil 1-1 menyisakan dua rasa sekaligus: kelegaan bagi Brasil yang terhindar dari kekalahan, dan kekecewaan bagi Australia yang nyaris mencatat kemenangan besar. Momen tendangan bebas Irankunda menjadi bukti bahwa Socceroos memiliki talenta muda yang siap bersinar di panggung besar. Kualitas lapangan juga meninggalkan catatan tersendiri yang perlu dibenahi penyelenggara.
Rangkaian dua pertandingan ini masih menyisakan satu laga lagi, dan Ancelotti sendiri menyebut ujian berikutnya sudah menanti. Bagi Australia, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi penampilan seperti ini di laga-laga berikutnya. Jika mampu melakukannya, bukan tidak mungkin Socceroos kembali mencuri perhatian di panggung yang lebih besar.