Dua Sejarah Alternatif di Balik Sanksi Manchester City

Wacana soal sanksi Manchester City kembali mencuat dalam sebuah kolom yang ditulis Max Rushden, di mana ia membayangkan bagaimana keputusan hukum terhadap klub itu bisa melahirkan dua versi sejarah yang saling bertentangan di sepak bola Inggris. Rushden menggambarkan situasi tersebut seperti “Sliding Doors bertemu Biff’s Almanac”. Kedua referensi budaya pop itu berbicara soal kehidupan alternatif yang muncul ketika kita membayangkan dunia tanpa satu peristiwa tertentu—sebuah cara pandang yang pas untuk menggambarkan masa depan Premier League yang berpotensi terbelah.

Kolom itu lahir di tengah ketidakpastian soal apa yang akan terjadi pada City dan trofi-trofi yang mereka raih, serta tepat sebelum laga besar melawan Liverpool. Bagi Rushden, momen ini berbobot jauh lebih besar dari sekadar pertandingan biasa: publik menunggu, para pemain menunggu, dan pelatih pun dihadapkan pada pertanyaan yang tak nyaman. Dari situ ia menelusuri implikasi yang jauh lebih rumit—mulai dari hipotetis transfer hingga urusan geopolitik.

Manchester City

Wawancara Hadley dan Pertanyaan soal Sanksi Manchester City

Semuanya berawal dari sebuah wawancara. Pada Rabu sore waktu Inggris, Rushden mewawancarai Tony Hadley—vokalis Spandau Ballet yang merupakan penggemar Arsenal—di TalkSport untuk membahas tur big band yang sedang ia persiapkan. Keduanya memutar sedikit lagu Spandau Ballet dan mengobrol soal lagu-lagu klasik serta karier Hadley, termasuk pengalaman berkumpul dengan Frank Sinatra dan Tony Bennett.

Di sela obrolan, Rushden berusaha membawa percakapan kembali ke ranah olahraga. Hadley menyebut soal Arteta, laga Leeds di akhir pekan, dan mengangkat nama Billy Bremner, sembari menilai bahwa Rushden dan co-host-nya, Charlie Baker, terlalu muda untuk mengingat Bremner bermain. Persis di akhir sesi, Rushden melontarkan pertanyaan yang agak canggung—setengah bercanda—soal Manchester City yang dianggap akan berada di dasar klasemen pada akhir musim.

Hadley menjawab seperti seorang profesional. Ia tak terpancing membahas tuduhan yang menggantung di klub itu. Alih-alih memberi komentar tajam, ia memilih berbicara soal betapa tak terduganya dunia dan beralih membahas katalog lagu Natal dalam turnya. Bagi Rushden, manuver itu terasa seperti sebuah “sidestep” yang sangat rapi—menghindari bola keras tanpa kehilangan ketenangan.

Mengapa Laga Melawan Liverpool Jadi Panggung yang Sempurna

Rushden menilai tak ada waktu dan tempat yang lebih pas untuk memainkan laga ini selain bertandang ke Liverpool. Sebab, City adalah pihak yang beberapa kali menyalip Liverpool dalam perebutan gelar dengan selisih hanya satu atau dua poin. Tentunya, sebagaimana ditulisnya, dua dari gelar itu diraih setelah “masa pelanggaran” secara resmi berakhir—meski ia sendiri menilai hal itu tak perlu diperdebatkan lagi.

Dari titik inilah hipotetis mulai bermunculan tanpa henti. Rushden mengambil contoh: bagaimana jika saat itu City tak mampu membeli John Stones (tinggi 1,88 meter) dan harus puas dengan bek seperti Victor Lindelöf (1,87 meter)? Betapa vitalnya tambahan satu sentimeter tinggi Stones ketika ia menyapu bola di garis gawang menghadapi Liverpool di Etihad pada Januari 2019? Pertanyaan semacam ini, menurutnya, tidak akan pernah selesai.

Semua skenario imajinatif itu membuat Rushden menyebut situasinya sebagai “Sliding Doors bertemu Biff’s Almanac”. Maksudnya, setiap detail kecil—satu sentimeter tinggi pemain, satu transfer yang batal—bisa menghasilkan jalur sejarah yang sepenuhnya berbeda. Satu perubahan kecil pada masa lalu akan mengubah segalanya yang terjadi setelahnya, termasuk hasil-hasil pertandingan yang kita kenal sekarang.

Dua Sejarah Alternatif dan Pelajaran dari Serie A

Kekhawatiran soal masa depan dua versi sejarah ini bukan tanpa dasar. Hal itu pernah dijelaskan Nicky Bandini dalam episode Football Weekly. Menurutnya, Serie A sudah lebih dulu mengenal kondisi serupa: ada dua sejarah yang berbeda, tergantung dari mana seseorang memandang Juventus dan skandal Calciopoli.

Bandini menilai hal itu justru adalah kenyataan yang belum siap dihadapi sepak bola Inggris. Apa pun hasil keputusannya nanti, akan ada satu kelompok suporter yang sangat yakin trofi-trofi tersebut tak diraih secara sah sehingga tak layak dihitung, dan ada pula kelompok yang tak peduli dan tetap mengklaim trofi itu meski gelarnya dicabut. Ia menyebut ini sebagai masa depan kelam yang menanti Premier League: dua sejarah alternatif, persis seperti di Italia, di mana jumlah gelar Juventus terus dilaporkan berbeda oleh berbagai sumber karena masing-masing pihak menolak menerima putusan bahkan setelah upaya banding selesai.

Rushden sendiri cenderung berpihak pada mereka yang ingin mencopot gelar City, tetapi tidak memberikannya kepada pihak lain. Bukan hanya karena lucu melihat berapa banyak orang yang nantinya menyebut “Asterix”—plesetan atas tanda bintang di catatan gelar. Baginya, sepak bola tidak sesederhana itu. Jika City tidak merekrut pemain-pemain tertentu, mereka akan merekrut pemain lain; dan pemain-pemain lain itu tak akan bergabung ke klub yang sama. Pertandingan jadi berbeda, hasilnya berbeda, para pemain berlatih di kota yang berbeda, dan manajer diangkat serta diberhentikan secara berbeda pula.

Konsekuensinya bahkan menyentuh kehidupan pribadi para pemain. Mencabut makna sebuah gol, misalnya, adalah satu hal; tetapi bagaimana dengan seluruh kehidupan seorang pemain setelah momen itu? Rushden menyebut Sergio Agüero sebagai contoh: apakah ia harus mengulang seluruh hidupnya sejak 2011? Pertanyaan itu menunjukkan betapa rumitnya mengurai konsekuensi dari satu keputusan tunggal.

Geopolitik dan Dampak bagi Para Pemain

Bagi Rushden, alasan kita jatuh cinta pada sepak bola juga mencakup dimensi yang lebih besar: geopolitik. Ia mempertanyakan, jika sanksi yang dijatuhkan tidak berada pada tingkat paling berat, sulit untuk tidak berspekulasi apakah sudah terjadi sesuatu di balik koridor kekuasaan. Ia membayangkan perumpamaan seperti adegan dua orang duduk di bangku taman dengan tas kerja identik—sebuah kiasan soal negosiasi tertutup yang tak terlihat publik.

Ia lalu mengangkat pertanyaan hipotetis soal Uni Emirat Arab: apakah negara itu akan benar-benar menolak membatalkan investasinya pada sebuah pusat teknologi antara Cambridge dan Oxford jika Manchester City terdegradasi ke League Two? Menurut Rushden, ide bahwa kedua hal itu saling terhubung saja sudah terasa menggelikan. Ia sendiri mengangkatnya sebagai spekulasi untuk menunjukkan betapa jauhnya jangkauan persoalan ini dari sekadar urusan di lapangan.

Sementara semua pihak menunggu sanksi itu dijatuhkan—mungkin pada suatu Jumat yang sepi atau saat jeda internasional—City tetap harus memainkan pertandingan, apa pun maknanya nanti. Para pundit, tulis Rushden, akan sering menyebut kata “galvanise”, dan semua orang akan membahas soal mentalitas “kita melawan dunia”. Ia bahkan bertanya siapa pemain pertama yang akan menyindir Erling Haaland soal laga tandang ke Salford musim depan, dan menyebut Enzo Fernández sebagai kandidat sebelum menyadari sang pemain mungkin sedang sibuk memeriksa klausul pelepasan karena degradasi dalam kontrak yang ia tanda tangani musim panas. Ia juga menyiratkan bahwa pemain seperti Elliot Anderson, Dominik Szoboszlai, dan Florian Wirtz lebih sibuk dengan urusan di lapangan.

Simpati pada Fans dan Dilema Moral

Di tengah semua kegaduhan itu, Rushden menyatakan simpati kepada sebagian besar fans City. Namun ia mengecualikan satu figur: seorang pendengar yang dalam acara telepon radio menyamakan pelanggaran aturan klub dengan perjuangan Emmeline Pankhurst memperjuangkan hak suara perempuan. Meski begitu, ia mengakui bahwa kehilangan objektivitas semacam itu adalah bagian dari keindahan olahraga—tempat di mana semua orang bisa kehilangan akal sehat.

Rushden mengaku, di sisi paling saleh dirinya, ia ingin menyalurkan kemarahan kepada para pemilik klub. Mereka-lah, katanya, yang menyeret klub ke dalam situasi ini, sehingga seharusnya pergi—meski mengurai hal itu pun teramat rumit. Namun ia jujur mengakui dilema moralnya: jika ia berada di posisi City, apakah ia benar-benar akan menukar perjalanan dan pencapaian tertinggi yang pernah diberikan klub itu dengan finis di peringkat 12 setiap musim selama 15 tahun terakhir? Seperti semua dilema moral, ia menilai mudah untuk bersikap tegas ketika keputusan itu tak berdampak pada diri sendiri—terlebih ketika seseorang hanya duduk di gudang sambil berbicara dengan seorang bintang New Romantic.

Kolom Max Rushden ini pada akhirnya bukan sekadar ocehan soal sanksi Manchester City. Ia merangkai wawancara ringan dengan Tony Hadley, hipotetis transfer John Stones versus Victor Lindelöf, hingga pelajaran dari Serie A, menjadi satu renungan soal bagaimana satu keputusan bisa memecah sejarah sepak bola Inggris menjadi dua versi yang tak terdamaikan. Di satu sisi ada yang menuntut keadilan dengan mencopot gelar, di sisi lain ada yang akan tetap mengklaimnya apa pun yang terjadi.

Yang tersisa hanyalah ketidakpastian—soal kapan sanksi dijatuhkan, seberapa berat hukumannya, dan seberapa jauh dampaknya merembet ke ranah yang seharusnya tak berkaitan. Sambil menunggu, City tetap bermain, para pundit tetap berbicara, dan para penggemar tetap berdebat. Seperti kata Rushden, mudah untuk punya pendapat yang keras ketika semua ini tak menimpa diri kita sendiri.