Mantan manajer Manchester United Erik ten Hag menilai Cristiano Ronaldo mengecewakan Manchester United pada masa kepemimpinannya. Dalam wawancara dengan The Athletic, Ten Hag mengatakan Ronaldo mengecewakan tim dan juga dirinya karena klub sudah merencanakan masa depan bersama pemain Portugal itu. Pernyataan ini membuka kembali sorotan terhadap perpisahan kontroversial Ronaldo dari Old Trafford pada 2022.
Pernyataan Ten Hag penting karena memberi sudut pandang dari pihak manajemen tentang konflik yang berujung pada kepergian Ronaldo. Sebelumnya, Ronaldo lebih dulu menyuarakan kekecewaannya melalui wawancara pada November 2022. Kini, publik mendapat gambaran lebih lengkap tentang benturan antara ambisi manajer, status bintang besar, dan kebutuhan tim.

Ten Hag Sebut Ronaldo Kecewakan Manchester United
Ten Hag menyampaikan penilaian itu saat mengenang masa kerjanya di Old Trafford. Ia mengatakan Ronaldo mengecewakan tim dan mengecewakan dirinya karena sejak awal ia sudah merencanakan kerja sama dengan sang pemain. Sebelum datang ke United, Ten Hag bahkan terbang ke Portugal untuk berbicara dengan Ronaldo tentang arah yang ingin ia bangun.
Meski begitu, Ten Hag menegaskan bahwa ia tetap menghormati Ronaldo sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola. Namun, pada saat itu ia harus mengambil keputusan rasional sebagai manajer. Keputusan tersebut adalah mempertahankan pemain-pemain yang ia kagumi dan dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan tim.
Pernyataan ini muncul setelah Ten Hag lebih dulu mengambil langkah tegas terhadap Ronaldo. Pada Oktober 2022, ia tidak memainkan Ronaldo dalam laga Premier League melawan Chelsea. Keputusan itu diambil setelah Ronaldo menolak masuk sebagai pemain pengganti saat United menghadapi Tottenham tiga hari sebelumnya.
Kronologi Konflik Ronaldo dan Ten Hag
Ronaldo kembali ke Manchester United dari Juventus pada 2021 saat tim masih dilatih Ole Gunnar Solskjaer. Ketika itu usianya sudah 36 tahun, tetapi kepulangannya tetap menjadi momen besar bagi klub. Situasi berubah ketika Ten Hag mengambil alih kursi manajer pada musim panas 2022.
Hubungan keduanya memanas setelah Ronaldo tidak dimainkan melawan Chelsea. Ronaldo kemudian memberikan wawancara pada November 2022 yang mengguncang klub. Dalam wawancara itu, ia mengatakan merasa dikhianati United, tidak menghormati Ten Hag, dan merasa dipaksa keluar sebelum akhirnya kepergiannya disepakati bersama.
Di bawah Ten Hag, Ronaldo hanya mencetak tiga gol dalam 16 penampilan sebelum meninggalkan klub pada musim 2022-23. Angka itu jauh dari standar seorang penyerang yang pernah menjadi ikon di Old Trafford. Perpisahan mereka pun menjadi salah satu episode paling menonjol dalam sejarah modern Manchester United.
Alasan Ten Hag: Ronaldo Tak Menyiapkan Kondisi
Ten Hag juga membantah anggapan bahwa ia menuntut Ronaldo melakukan pressing hingga kelelahan. Menurutnya, masalahnya bukan sekadar soal pressing, melainkan kondisi fisik dan kesiapan pemain. Ia menilai Ronaldo tidak berlari baik saat tim menguasai bola maupun ketika kehilangan bola.
Alasan yang disebut Ten Hag adalah Ronaldo tidak mempersiapkan diri dengan benar. Ia menegaskan bahwa setiap tim papan atas harus merangkul pemain top, tetapi pemain top juga wajib bekerja untuk tim. Pernyataan ini menempatkan disiplin dan kerja kolektif sebagai hal yang tidak bisa ditawar.
Ten Hag menambahkan bahwa Ronaldo pernah memberi tahu para pemain untuk menghemat tenaga saat latihan. Ia memahami bahwa pemain yang sangat bugar bisa memiliki sesi tertentu untuk menghemat tenaga. Namun, menurut Ten Hag, pemain tetap harus lebih dulu berlatih untuk mencapai level kebugaran yang tepat.
Dampak bagi Manchester United
Konflik ini menunjukkan bagaimana Manchester United harus memilih antara mempertahankan status bintang besar dan menjaga kewenangan manajer. Ten Hag menyiratkan bahwa keputusan soal Ronaldo adalah bagian dari upaya menegakkan aturan tim. Ia ingin pemain yang ia kagumi tetap berada di dalam proyek, bukan sekadar nama besar yang sulit diatur.
Bagi Ronaldo, episode ini menegaskan bahwa masa keduanya di United tidak berjalan sesuai harapan. Ia datang sebagai ikon yang kembali ke klub lamanya, tetapi pergi dengan cara yang penuh ketegangan. Bagi United, kepergiannya meninggalkan pertanyaan tentang arah permainan dan cara klub mengelola pemain senior.
Ten Hag sendiri tetap menyoroti masalah gol sebagai persoalan utama selama tiga tahun ia menangani United. Ia mengatakan kebutuhan akan gol menjadi isu terbesar di sepanjang masa kepemimpinannya. Pernyataan itu relevan dengan keputusan soal Ronaldo, karena produktivitas dan kesiapan fisik menjadi bagian dari pertimbangan manajer.
Konteks Lebih Luas dan Perkembangan Terbaru
Publikasi wawancara Ten Hag bertepatan dengan kabar Ronaldo mendapat sanksi dari Federasi Sepak Bola Portugal. Ronaldo dijatuhi suspensi 30 hari dan denda 255 euro atau sekitar £215 karena meninggalkan kamp timnas Portugal pada bulan sebelumnya. Sanksi itu menambah sorotan terhadap situasi Ronaldo di level internasional.
Di sisi lain, Ten Hag sudah tidak lagi menangani Manchester United setelah diberhentikan pada Oktober 2024. Selama di Old Trafford, ia sempat mempersembahkan Carabao Cup pada 2023 dan FA Cup pada 2024. Ia juga mengungkapkan keinginannya mendatangkan Frenkie de Jong, Harry Kane, dan Declan Rice, serta menolak penjualan Scott McTominay ke Napoli pada Agustus 2024.
Ten Hag menyebut pada musim pertamanya ia sudah melihat masalah di posisi bek tengah dan gelandang tengah. Ia terutama membutuhkan seorang ahli strategi, lalu menegaskan bahwa tim juga membutuhkan gol. Menurutnya, persoalan gol itulah yang menjadi masalah terbesar sepanjang tiga tahun masa kepemimpinannya di Manchester United.
Kesimpulannya, pernyataan Ten Hag memperjelas bahwa kepergian Ronaldo bukan sekadar soal hasil di lapangan. Ada benturan soal peran, kedisiplinan, kesiapan fisik, dan cara sebuah tim dibangun. Dalam kasus ini, Ronaldo dinilai mengecewakan Manchester United menurut kacamata manajer, sementara Ronaldo sendiri merasa tidak dihormati dan dipaksa keluar.
Bagi pembaca, episode ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara bintang besar dan manajer tidak selalu berjalan mulus. Keputusan taktis dan manajerial sering kali harus diambil meski menyangkut nama besar. Manchester United, Ronaldo, dan Ten Hag sama-sama meninggalkan babak yang penuh ketegangan dalam sejarah klub.