Utang Manchester United Tembus £1 Miliar, Fans Murka

Utang Manchester United masih bertahan di atas £1 miliar meski Sir Jim Ratcliffe gencar melakukan berbagai langkah pemangkasan biaya. Klub juga mengonfirmasi telah merogoh £63,5 juta untuk membeli lahan yang akan dipakai membangun stadion baru mereka. Angka-angka itu terungkap dalam laporan keuangan terbaru yang dirilis di tengah gelombang protes penggemar terhadap kebijakan manajemen.

Situasi ini menjadi penting karena Manchester United baru saja mencatat pendapatan rekor sekaligus laba operasional, tetapi beban utang dan biaya finansial yang membengkak membuat fondasi keuangan klub tetap rentan. Laporan tersebut muncul saat United menjalani awal musim yang mengecewakan, terpuruk di posisi ke-12 Liga Premier, dan sudah tersingkir dari Piala EFL. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, klub juga tidak berlaga di kompetisi Eropa, sehingga capaian pendapatan yang tinggi justru terasa paradoks.

Manchester United
Soccer Football – Premier League – Fulham v Manchester United – Craven Cottage, London, Britain – September 20, 2026 Manchester United’s Bruno Fernandes reacts after the match Action Images via Reuters/Peter Cziborra EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR ‘LIVE’ SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Rincian Utang Manchester United yang Masih di Atas £1 Miliar

Angka utang keseluruhan Manchester United memang menunjukkan penurunan dari £1,3 miliar pada akhir Desember, tetapi nilainya masih melewati £1 miliar. Utang tersebut terdiri dari utang historis yang kini berada di £577,6 juta, saldo £111,4 juta pada fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility), serta sisa biaya transfer pemain. Menurut sumber internal klub, sisa biaya transfer itu mencakup sekitar 75% dari £473 juta yang tercatat sebagai “trade and other payables”.

Beban bunga menjadi sorotan utama karena mencatatkan lonjakan tajam. Biaya finansial netto sepanjang tahun mencapai £69,6 juta atau naik 228,3%, dan United menyebut sebagian besar kenaikan itu disebabkan oleh kerugian selisih kurs. Pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, menyoroti bahwa angka tersebut sendirian telah melampaui £1 miliar sejak pengambilalihan keluarga Glazer pada 2005. Artinya, persoalan utang Manchester United bukan sekadar soal pokok pinjaman, melainkan juga ongkos pembiayaan yang terus menggerus kas klub setiap tahun.

Kronologi: Dari Buyout Glazer hingga Pembiayaan Stadion Baru

Akar persoalan ini bisa ditelusuri jauh ke belakang, tepatnya ke pengambilalihan keluarga Glazer pada 2005 yang dilakukan melalui skema leveraged buyout. Skema itu membuat klub menanggung beban utang besar sejak awal, dan dampaknya masih terasa hampir dua dekade kemudian dalam bentuk biaya bunga yang menggunung. Itulah sebabnya Maguire menghitung total pembayaran bunga saja sudah menembus angka £1 miliar.

Pada musim panas, klub melakukan langkah refinancing dengan menambah $125 juta atau sekitar £94,14 juta ke dalam utang historisnya. Dari tambahan dana itu, £63,5 juta dialokasikan untuk membeli lahan bagi stadion baru yang akan dibangun sekitar 350 yard dari lokasi Old Trafford. Namun, klub belum menjelaskan ke mana sisa dana tersebut digunakan, sehingga menimbulkan tanda tanya di kalangan pengamat.

Proyek stadion sendiri diperkirakan menelan biaya lebih dari £2 miliar, angka yang jauh melampaui nilai pinjaman yang telah ditarik. Meski manajemen berargumen dana tambahan itu memang disiapkan untuk keperluan stadion, pinjaman tersebut tetap tercatat di dalam buku keuangan klub. Kondisi ini menempatkan Manchester United pada posisi yang rumit: di satu sisi harus membangun fasilitas masa depan, di sisi lain harus menanggung beban utang yang belum juga lunas.

Dampak: Penggemar Murka dan Belanja Transfer Minim

Kemarahan penggemar memuncak karena mereka menilai klub kurang berinvestasi pada skuad tim utama asuhan Michael Carrick. Sepanjang musim panas, United hanya mengeluarkan £148 juta untuk tiga pemain baru, yaitu Carlos Baleba, Andrey Santos, dan Youri Tielemans. Jumlah itu kurang dari sepertiga dari £458 juta yang dibelanjakan Manchester City, bahkan lebih rendah daripada tim yang baru promosi, Ipswich.

Kritik tidak berhenti pada total belanja, tetapi juga pada kebutuhan posisi yang dianggap terabaikan. Penggemar menyoroti tidak adanya bek kiri tambahan yang bisa menjadi pesaing Luke Shaw, yang sudah melewatkan tiga pertandingan karena cedera. Keluhan serupa muncul soal minimnya dukungan untuk lini depan, khususnya bagi Benjamin Sesko yang melewatkan pramusim karena pemulihan cedera tulang kering dan kini masalah itu kembali muncul.

Kekecewaan juga diarahkan pada kurangnya investasi untuk skuad tim putri di Women’s Super League. Saat ini tim putri United berada di posisi kedua dari bawah klasemen dengan hanya mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan. Bagi sebagian penggemar, hal ini memperkuat kesan bahwa prioritas klub bergeser ke proyek infrastruktur ketimbang performa tim di lapangan.

Strategi Pemangkasan Biaya dan Prospek ke Depan

Ratcliffe sebelumnya berargumen bahwa klub harus mengambil tindakan tegas untuk memangkas kerugian, dan itu terlihat dari sejumlah kebijakan penghematan. Dua gelombang pemutusan hubungan kerja membuat 450 orang kehilangan pekerjaan. Klub juga mengonfirmasi bahwa biaya gaji terbaru turun £11,3 juta menjadi £302 juta, yang menurut manajemen terutama disebabkan perubahan komposisi skuad tim utama putra dan penghematan dari program pengurangan jumlah karyawan dalam dua tahun fiskal terakhir.

Di sisi lain, United sempat menghemat £8,5 juta dari proyeksi pesangon £16,5 juta untuk pelatih Ruben Amorim setelah ia menerima pekerjaan di AC Milan. Meski penghematan itu membantu, biaya lain justru meningkat sehingga tekanan terhadap neraca keuangan klub tetap besar. Perbaikan tetap terlihat dari pendapatan rekor £677,6 juta dan laba operasional £22,6 juta, berbalik jauh dari kerugian £113,2 juta pada 2023-24.

Chief executive Omar Berrada menyatakan kegembiraannya atas capaian pendapatan rekor tersebut. “Kami senang telah mengamankan pendapatan rekor,” ujarnya. “Ini menunjukkan kekuatan mendasar bisnis kami, dan memperlihatkan dampak langsung dari kerja yang kami lakukan selama dua tahun terakhir.” Ia menambahkan, “Meski hasil ini menegaskan bahwa kami berada di jalur yang benar, kami akan terus mengambil pendekatan disiplin untuk memastikan keuangan kami tetap berkelanjutan. Dengan mempertimbangkan keberlanjutan finansial itu, kami telah memperkuat tim putra dan putri selama jendela musim panas, dan tim putra kami menyambut kembalinya sepak bola Liga Champions ke Old Trafford.”

Apa Artinya bagi Masa Depan Klub

Bagi Manchester United, kombinasi utang di atas £1 miliar dan biaya finansial yang melonjak menciptakan ruang gerak yang sempit di bursa transfer. Setiap keputusan belanja harus diimbangi dengan perhitungan keberlanjutan keuangan, terutama ketika klub ingin tetap bersaing di level tertinggi. Ketegangan antara ambisi membangun stadion baru dan kebutuhan memperkuat skuad menjadi dilema yang harus dijawab manajemen.

Di sisi lain, kembalinya Liga Champions ke Old Trafford berpotensi mendongkrak pendapatan dan membantu meringankan beban finansial. Namun, hal itu hanya akan berarti jika diikuti dengan hasil di lapangan dan pengelolaan biaya yang lebih efisien. Selama beban bunga tetap tinggi, sebagian besar keuntungan komersial klub akan tergerus untuk membayar kewajiban lama.

Kesimpulan

Utang Manchester United tetap menjadi persoalan serius meski pendapatan klub memecahkan rekor. Beban finansial yang naik lebih dari 228% dan pengeluaran £63,5 juta untuk lahan stadion baru menunjukkan bahwa pemangkasan biaya yang dilakukan Ratcliffe belum cukup menutup warisan utang lama, terutama jejak leveraged buyout Glazer pada 2005. Sementara itu, belanja transfer yang minim dan kurangnya investasi di sektor-sektor krusial membuat penggemar semakin vokal menyuarakan ketidakpuasan.

Ke depan, keseimbangan antara proyek stadion, belanja skuad, dan penghematan operasional akan menentukan arah klub. Tanpa strategi yang konsisten, gelombang protes berpotensi terus berlanjut, sementara target-target di lapangan menjadi semakin sulit diwujudkan.