Saga panjang dugaan pelanggaran keuangan Manchester City akhirnya menemui titik terang. Sumber-sumber yang dikutip sejumlah media mengonfirmasi pada Jumat lalu bahwa klub raksasa Inggris itu dinyatakan bersalah atas hampir seluruh dari lebih dari 100 tuduhan yang diajukan Premier League. Keputusan komisi independen tersebut muncul hampir dua tahun setelah sidang perkara digelar pada akhir 2024, menutup rangkaian penyelidikan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Perkara ini nyaris tidak punya padanan dalam sejarah sepak bola Inggris. Sebuah klub lama yang gagah dan bersahaja diambil alih pada 2008 oleh keluarga kerajaan Abu Dhabi, kemudian disuntik dana raksasa hingga menjelma menjadi juara berulang kali. Ironinya, gelar-gelar itu diraih justru saat liga yang memahkotainya tengah menuntut klub tersebut atas dugaan kecurangan finansial berskala besar. Selama proses investigasi yang dimulai sejak Desember 2018, tim besutan Pep Guardiola mengoleksi lima gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions.

Rincian Tuduhan Pelanggaran Keuangan Manchester City
Skala tuduhan yang dihadapi City juga tidak memiliki preseden. Liga menuding klub tersebut gagal menyajikan informasi keuangan yang akurat selama sembilan musim berturut-turut, yakni dari 2009-10 hingga 2017-18. Tuduhan itu bukan soal kesalahan administratif kecil, melainkan dugaan bahwa gambaran posisi keuangan klub — terutama yang berkaitan dengan pendapatan sponsorship — tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
Sejumlah tuduhan lain menyangkut kontrak dan kepatuhan pada aturan kompetisi. Berikut poin-poin utamanya:
- Gagal mencantumkan rincian pembayaran secara penuh dalam kontrak manajer Roberto Mancini pada periode 2009-10 sampai 2012-13.
- Gagal menyertakan detail pembayaran lengkap dalam kontrak pemain sepanjang 2010-11 hingga 2015-16.
- Melanggar regulasi financial fair play UEFA pada 2013-14 sampai 2017-18.
- Melanggar aturan profitabilitas dan keberlanjutan (profitability and sustainability) Premier League pada 2015-16 hingga 2017-18.
- Tidak bekerja sama dengan penyelidikan liga sejak 2018-19 hingga musim 2022-23, termasuk kewajiban menyediakan dokumen dan informasi kepada Premier League “dengan iktikad baik yang sepenuhnya”.
Rentang waktu tuduhan, yaitu 2009-10 sampai 2022-23, persis membentang dari awal era kejayaan klub di bawah kepemilikan Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Ia merupakan anggota keluarga penguasa Abu Dhabi, sekaligus wakil presiden dan wakil perdana menteri Uni Emirat Arab. Masa dominasi itu dimulai dengan kemenangan Piala FA pada 2011 setelah 35 tahun tanpa trofi, lalu berpuncak pada gelar Premier League 2012 yang diraih Mancini lewat gol Sergio Agüero di menit ke-94.
Dari Bocoran Der Spiegel sampai Penyelidikan Resmi
Akar kasus ini dapat dilacak ke November 2018. Majalah Jerman, Der Spiegel, menerbitkan dokumen internal City hasil peretasan terhadap surel klub. Dokumen yang paling merusak adalah korespondensi dan berkas keuangan yang tampaknya menunjukkan bahwa grup pemilik di bawah Sheikh Mansour menanggung sebagian besar nilai sponsorship klub dari maskapai Abu Dhabi, Etihad — sponsor yang namanya juga tersemat pada stadion.
Publikasi itu memunculkan dugaan bahwa rezim City berupaya mengakali aturan financial fair play demi membiayai belanja besar yang dibutuhkan untuk bersaing di sepak bola modern. Aturan FFP diperkenalkan UEFA pada 2011, lalu diadopsi Premier League pada 2013 dengan semangat serupa: membatasi kerugian yang boleh ditanggung pemilik klub. Belanja harus berasal dari pendapatan yang dihasilkan klub sendiri, seperti hak siar, hak komersial, tiket penonton, dan sponsorship. Pemilik tidak diperkenankan memakai sponsor sebagai kendaraan untuk menyuntik dana tambahan.
Sejak beberapa hari setelah pengambilalihan, kursi ketua City dipegang Khaldoon Al Mubarak, tokoh politik dan bisnis senior Abu Dhabi yang lama menjadi penasihat Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, penguasa UEA. Dunia sepak bola butuh waktu untuk memahami bahwa ambisi, keahlian, dan pendanaan sebesar itu benar-benar hadir di City — klub yang sebelumnya sempat beberapa kali salah langkah, termasuk terdegradasi ke kasta ketiga pada 1998. Bagi yang mencermati, transformasi menyeluruh klub sebenarnya sudah terlihat sejak awal.
Fase baru itu memang dimulai dengan kerugian besar karena membeli pemain top, termasuk kedatangan Carlos Tevez dari Manchester United pada musim panas 2009. Dalam 18 bulan, Mansour telah menanamkan dana £395 juta. Ketika manajer Mark Hughes diberhentikan karena dinilai gagal memenuhi “target yang telah disepakati dan ditetapkan”, muncul anggapan bahwa klub berbelanja sembarangan. Keraguan itu sirna setelah Agüero mencetak gol bersejarah yang mengunci gelar Premier League 2012.
Upaya Manchester City Menghadang Penyelidikan
Der Spiegel juga mengungkap pendekatan internal klub yang keras, bertolak belakang dengan citra publiknya. Dalam salah satu surel, pengacara internal City, Simon Cliff, menulis bahwa Mubarak menolak sanksi finansial dari penyelidikan UEFA sebelumnya atas kerugian besar klub pada 2012 dan 2013 yang akhirnya berujung pada penyelesaian damai. Menurut Cliff, Mubarak “lebih memilih menghabiskan 30 juta untuk 50 pengacara terbaik di dunia guna menggugat UEFA selama 10 tahun ke depan”.
Menghadapi pemberitaan Der Spiegel, City merilis pernyataan yang nadanya kemudian menjadi pola sepanjang kasus ini: kemarahan dan ketersinggungan. “Kami tidak akan memberikan komentar apa pun atas materi di luar konteks yang diduga diretas atau dicuri,” kata klub. “Upaya merusak reputasi klub ini terorganisasi dan jelas.” City selalu membantah melakukan kesalahan apa pun.
Badan internal UEFA yang bertugas menegakkan FFP tetap membuka penyelidikan atas dugaan kecurangan dan informasi menyesatkan. Premier League menyusul pada Maret 2019 dengan mengumumkan penyelidikan sendiri, meski saat itu perhatian publik lebih tersedot pada pertarungan terbuka City dengan UEFA. Pada Februari 2020, kamar adjudikasi UEFA menyimpulkan City bersalah melakukan penipuan terkait sponsorship dari mitra komersial utama Etihad dan perusahaan telekomunikasi UEA, Etisalat, lalu menjatuhkan larangan tampil dua tahun di Liga Champions.
City mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Pada Juli 2020, CAS membatalkan temuan dan larangan tersebut, tetapi menilai klub gagal bekerja sama dengan penyelidikan UEFA dan mendendanya €10 juta. Setelah itu City meraih gelar Premier League ketiga di era Guardiola, dan nyaris tidak ada kabar soal penyelidikan apa pun. Baru pada Juli 2021 sebuah putusan pengadilan Inggris dipublikasikan dan mengungkap bahwa proses Premier League terus berjalan — serta bahwa City dan para pengacaranya berupaya memblokirnya di setiap tahap.
Putusan itu menyingkap bahwa Premier League memulai investigasi pada Desember 2018 sebagai respons atas pemberitaan Der Spiegel. City menolak menyerahkan informasi dan dokumen yang diminta, sehingga liga melayangkan keluhan disipliner pada Agustus 2019. Ketika komisi dibentuk, City menantang sistem dan komisi tersebut karena dinilai tidak cukup independen. Liga menempuh jalur arbitrase, membentuk tribunal berisi tiga pengacara senior, dan City kembali menantangnya. Tribunal menolak tantangan itu dan pada 2 November 2020 memerintahkan City menyerahkan dokumen kepada Premier League. Hakim Nyonya Justice Moulder akhirnya memutus perkara itu pada Maret 2021 dan memenangkan liga, sekaligus memerintahkan putusannya dipublikasikan.
Dampak dan Implikasi bagi Klub maupun Liga
Titik balik besar terjadi pada Februari 2023, ketika Premier League tiba-tiba mengumumkan tuduhan luar biasa terhadap City. Liga menuding klub melakukan pelanggaran aturan keuangan secara luas dan terus-menerus hampir sepanjang dekade pertama proyek Mansour. Tuduhan utama soal kegagalan menyampaikan informasi keuangan yang akurat dan beriktikad baik itu dimulai dari 2009-10 dan berlangsung tanpa jeda hingga 2017-18.
Seiring berjalannya kasus, prestasi City terus menumpuk. Tiga bulan setelah tuduhan diumumkan, klub kembali menjuarai Premier League. Pada Juni 2023, Sheikh Mansour dan Sheikh Mohamed hadir di tribun Istanbul ketika City akhirnya meraih trofi Liga Champions. Pada 2023-24, City juara liga lagi — rekor empat gelar beruntun, dan yang keenam bagi Guardiola. Premier League tetap memahkotai klub itu sebagai juara, sementara tuduhan-tuduhannya perlahan bergerak menuju sidang.
Pertanyaan yang menggantung lama kini semakin mendesak: mungkinkah City dicabut gelarnya, dan sejauh apa sanksi yang bisa dijatuhkan? Hingga kini hal itu belum terjawab. Menurut sumber, City masih dapat mengajukan banding atas temuan bersalah tersebut. Karena kabar ini bocor tanpa konfirmasi resmi dari Premier League maupun City, dan tanpa putusan lengkap dari panel, jalan ceritanya masih panjang.
City sendiri menyatakan bahwa prosesnya “masih berlangsung, dengan sejumlah elemen penting yang belum selesai, dan terikat kerahasiaan yang ketat”. Pernyataan itu menegaskan bahwa apa yang sudah beredar belum tentu menjadi akhir dari perkara. Bagi Premier League, casus ini juga menjadi ujian kredibilitas: seberapa mampu liga paling kaya di dunia menegakkan aturannya sendiri terhadap anggota paling dominan.
Konteks Lebih Luas: Aturan Keuangan dan Ambisi Abu Dhabi
Kasus City tidak berdiri sendiri. Ia menjadi penanda era ketika klub-klub Inggris banyak dimiliki kekayaan dari Timur Tengah dan Amerika Serikat, sementara aturan pengeluaran semakin ketat di tingkat domestik maupun Eropa. Dana besar dikucurkan bukan hanya untuk pemain, tetapi juga untuk memperluas stadion, membangun akademi dan kampus klub, serta membeli jaringan klub di berbagai negara. Hierarki City sejak awal menyadari Barcelona adalah model ideal, dan membangun ulang klub mengikuti garis itu — termasuk mendatangkan Guardiola pada 2016, manajer yang pernah membawa kesuksesan bagi Barcelona.
Al Mubarak paham betul bahwa memimpin klub Premier League yang sukses dan menarik adalah etalase bagi Abu Dhabi. Sejak awal, deretan sponsor klub termasuk otoritas pariwisata Abu Dhabi, yang mempromosikan negara itu ke dunia lewat papan iklan di sekeliling lapangan. Manajemen juga menggarap sisi komunitas dan warisan klub bagi pendukung, serta berinvestasi pada fasilitas lokal untuk meraih simpati.
Pada 2017-18, sebagian besar struktur sudah terbangun, Guardiola meraih gelar pertamanya, investasi pribadi Mansour tercatat £1,3 miliar, dan klub mulai mencetak laba. Justru di titik itulah pemberitaan Der Spiegel mendarat sebagai tantangan eksplosif, membuka dugaan manipulasi finansial sekaligus cara kerja internal yang keras. Kombinasi kesuksesan di lapangan dan tuduhan kecurangan itulah yang membuat kasus ini begitu sulit dilepaskan dari perbincangan tentang masa depan pengawasan keuangan sepak bola.
Penutup
Ringkasnya, Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir semua tuduhan pelanggaran keuangan yang mencakup sembilan musim pelaporan, kontrak manajer dan pemain, aturan FFP UEFA, aturan keberlanjutan Premier League, hingga penolakan bekerja sama sepanjang penyelidikan. Semua itu terjadi berdampingan dengan lima gelar liga dan satu trofi Liga Champions — sebuah paradoks yang belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Inggris.
Namun cerita ini belum benar-benar selesai. Belum ada konfirmasi resmi dari Premier League atau City, belum ada putusan lengkap panel, dan banding masih terbuka. Apa pun yang terjadi selanjutnya, kasus ini sudah meninggalkan gambaran ekstrem tanpa preseden tentang bagaimana kekuasaan, uang, dan aturan bertabrakan di jantung sepak bola modern.