Sanksi Manchester City: 4 Skenario Usai Vonis 115 Dakwaan

Vonis dalam perkara 115 dakwaan Manchester City akhirnya terungkap, dan klub itu dinyatakan bersalah atas mayoritas pelanggaran aturan keuangan. Kabar ini bukan datang dari pengumuman resmi Premier League maupun Manchester City, melainkan dari laporan The Athletic yang lebih dulu membocorkannya ke publik. BBC Sport kemudian diberi tahu bahwa putusan tersebut dikirim pada pekan ini kepada para eksekutif klub, yang harus menandatangani perjanjian kerahasiaan sebelum diperbolehkan membuka berkasnya.

Artinya, pembicaraan soal sanksi Manchester City justru baru dimulai, bukan berakhir. Ada tiga pertanyaan besar yang kini menunggu jawaban: seberapa berat hukumannya, kapan dijatuhkan, dan apakah City akan mengajukan banding. Karena dakwaannya tergolong sangat serius, pengurangan poin tampaknya sulit dihindari, tentu dengan catatan bahwa banding bisa mengubah segalanya.

Manchester City

Vonis 115 Dakwaan: City Dinyatakan Bersalah

Kepastian bahwa putusan sudah ada datang setelah proses yang sangat panjang. Sidang perkara ini berjalan selama dua tahun sepuluh hari, sementara dakwaan pertama kali dilayangkan 1.329 hari lalu. Selama rentang waktu itu, praktis tidak ada kebocoran informasi sama sekali, sehingga banyak pihak menduga seluruh proses berjalan rapat tertutup.

Isi dakwaannya sendiri sangat luas. City menghadapi tujuh dakwaan terpisah terkait aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) di Premier League saja, ditambah lima dakwaan lain yang berkaitan dengan kompetisi UEFA. Tudingannya mencakup dugaan penggelembungan pendapatan sponsor yang dialirkan melalui rekening perusahaan demi memenuhi aturan financial fair play, pembayaran kepada pemain dan manajer, serta kegagalan mematuhi proses investigasi yang dijalankan.

Bila seluruh temuan itu dirangkum, ada semacam catatan kaki yang melekat pada era Premier League antara 2009 dan 2018. Dua klub tersukses di kompetisi tersebut, Chelsea dan Manchester City, sama-sama terseret. Bedanya, Chelsea mengakui praktik curang secara efektif, sedangkan City kini dinyatakan bersalah karena menembus aturan keuangan agar bisa membeli pemain yang lebih mahal daripada yang seharusnya mampu dibiayai klub.

Menariknya, Premier League sampai sekarang tetap bungkam. Manchester City pun tidak menyinggung soal vonis bersalah dalam pernyataannya; mereka hanya menegaskan bahwa dari sudut pandang klub, proses masih berjalan, sekaligus memberi sinyal kuat bahwa banding akan diajukan.

Kronologi dan Latar Belakang Kasus

Selama hampir tiga tahun, berkas kasus ini dijaga sangat ketat. Hanya sedikit orang yang mengetahui isinya, dan setiap eksekutif klub yang menerima dokumen putusan wajib menandatangani perjanjian kerahasiaan. Namun seketat apa pun sebuah proses dirancang, peluang informasi menyebar akan ikut meningkat begitu lingkaran orang yang tahu bertambah luas, dan itulah yang akhirnya terjadi.

Karena itulah, putusan panel independen yang dinanti-nanti ini sebaiknya tidak dipahami sebagai akhir dari segalanya. Yang terjadi justru sebaliknya: ini mungkin baru akhir dari permulaan. Ketidakpastian dan kekacauan diperkirakan bukan mereda, melainkan bertambah besar.

Perbedaan sikap antar klub juga membuat persoalan ini kian rumit. Chelsea memilih melapor sendiri dan mengakui kesalahannya, sehingga bisa bernegosiasi dengan Premier League hingga mencapai kesepakatan sanksi. Manchester City selama bertahun-tahun konsisten membantah, dan konsekuensinya penentuan hukuman harus melewati sidang sanksi terpisah yang digelar panel independen — proses yang jauh lebih panjang dan jauh lebih sulit diprediksi.

Sanksi Manchester City: Empat Skenario yang Mungkin Terjadi

Tidak satu pun skenario di bawah ini terasa menyenangkan, baik bagi City maupun bagi Premier League. Semuanya mengandung ketidakpastian, dan semuanya berpotensi menyeret kompetisi ke wilayah yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Yang perlu diingat, jadwalnya belum jelas sama sekali. Sidang penentuan sanksi bisa masih berbulan-bulan lagi, sementara hasil akhirnya berpotensi baru dipublikasikan setelah proses banding rampung.

Skenario 1: Tidak Ada Pengumuman Sanksi Musim Ini

Secara logika, menentukan hukuman semestinya lebih cepat daripada membuktikan kesalahan. Namun dalam perkara ini, tidak ada satu hal pun yang bisa dianggap pasti. Karena dakwaan dibantah, hukuman harus ditetapkan lewat sidang sanksi yang diselenggarakan panel independen, dan BBC Sport diberi tahu bahwa sidang itu masih bisa berjarak berbulan-bulan dari sekarang.

Dalam sidang tersebut, semua opsi berada di atas meja: denda, pengurangan poin, hingga degradasi. England City bahkan masih punya kemungkinan mengakui pelanggaran dan mencari kesepakatan sanksi, langkah yang secara umum lebih menguntungkan liga. Namun mengingat bantahan keras klub selama bertahun-tahun, skenario kesepakatan itu terasa sangat kecil peluangnya, dan panel pun tetap harus menelusuri ratusan halaman bukti sebelum memutuskan.

Sebagai gambaran besaran hukuman, Everton pernah kehilangan enam poin, yang dipangkas dari 10 poin setelah banding, lalu dikurangi dua poin lagi dalam kasus PSR terpisah. Nottingham Forest kehilangan empat poin. Keduanya digolongkan sebagai pelanggaran ringan, sementara dakwaan yang dihadapi City jauh lebih banyak dan jauh lebih berat, sehingga penalti poin dalam jumlah besar tampak nyaris tidak terhindarkan.

Kalau musim ini berlalu tanpa keputusan sanksi padahal publik sudah tahu City bersalah atas mayoritas dakwaan, integritas kompetisi menjadi taruhannya. Hukuman yang mundur ke musim ini ketika akhirnya dijatuhkan? Kemungkinan itu kecil. Bayangkan sebuah klub finis di zona degradasi, terdegradasi, padahal ia seharusnya bertahan seandainya sanksi City dijatuhkan musim ini.

Skenario 2: Sanksi Jatuh Musim Ini, tapi City Banding

Prosedur yang biasa berlaku adalah pengurangan poin langsung diterapkan begitu diputuskan, meski banding masih berjalan. Yang jadi soal adalah besarannya: pengurangan poin bisa sedemikian besar sehingga efeknya setara dengan degradasi. Bisa juga hukuman itu berupa denda raksasa, tetapi opsi ini tampak tidak sejalan dengan preseden pengurangan poin yang sudah dijatuhkan ke klub lain.

Ada pula kemungkinan yang lebih rumit: status keanggotaan Manchester City di Premier League dicabut. Sampai sekarang belum jelas bagaimana hukuman sebesar itu bisa diterapkan di tengah musim yang sedang berjalan, dan ketidakjelasan ini sendiri sudah cukup membuat liga pusing.

Pertanyaan berikutnya adalah soal waktu. Premier League biasanya meminta proses yang dipercepat dari lembaga arbitrase independen yang menangani kasus disipliner, tetapi kompleksitas perkara ini menunjukkan bahwa jalur cepat bukan hal yang mudah diwujudkan.

Ada pula peluang kecil, meski sangat tipis, bahwa hukuman baru diterapkan pada klasemen setelah banding diputus. Jika itu terjadi, klub-klub yang terdampak hampir pasti akan memprotes dan menuntut agar sanksi berlaku segera seperti biasanya.

Skenario 3: Banding Diputus Cepat dan Keputusan Penuh Diumumkan

Demi integritas Premier League, semua klub perlu tahu apa yang sebenarnya mereka perjuangkan, sehingga keputusan sedini mungkin jelas lebih baik. Sayangnya, tidak ada jaminan apa pun dalam perkara ini, dan penundaan selalu menjadi opsi yang paling mungkin terjadi.

Musim lalu, pengurangan poin untuk West Bromwich Albion terkait pelanggaran aturan profitabilitas dan keberlanjutan baru diumumkan pada 24 April. Meski akhirnya mereka bertahan di Championship, klub itu terlempar kembali ke perebutan degradasi saat merasa sudah aman, sekaligus memberi harapan baru bagi tim-tim di zona merah. Premier League tentu tidak ingin hal serupa berlarut hingga bulan kedua terakhir musim.

Dalam skenario ini, satu hal yang tidak boleh dilupakan: City juga bisa memenangkan banding, seperti yang mereka lakukan atas hukuman UEFA pada Juli 2020. Kemenangan itu akan dirayakan di Etihad Stadium, tetapi bukan berarti perselisihan seputar kasus ini otomatis berakhir.

Skenario 4: Perkara Ditutup, tapi Tidak Selesai

Sejumlah klub Premier League sedang mencari nasihat hukum soal kemungkinan menuntut kompensasi dari Manchester City. Sumber yang pernah menduduki posisi eksekutif senior di dua klub Premier League memperkirakan klub-klub akan mengajukan klaim kompensasi secara individual, sementara pengacara lain mengatakan kepada BBC bahwa proses itu bahkan bisa dipusatkan oleh liga.

Peraturan Premier League memang memberi ruang bagi klub untuk menempuh jalur hukum terhadap klub lain demi memperoleh kompensasi. Karena itu, menutup kasus ini secara teknis tidak berarti menutup semua persoalan yang mengikutinya — justru gelombang tuntutan baru bisa bermunculan setelahnya.

Kompetisi yang Kehilangan Kepastian

Dampak dari ketidakpastian ini jauh lebih luas daripada sekadar nasib satu klub. Bahkan laga lanjutan setelah jeda internasional pada 11 Oktober, ketika pemuncak klasemen sementara berpeluang unggul enam poin, bisa terasa kehilangan makna jika kejelasan soal sanksi tidak kunjung datang. Pertanyaan yang muncul sederhana tapi mengganggu: apa artinya memimpin klasemen jika juara akhirnya ditentukan di ruang sidang?

Kasus ini juga menimpa klub-klub yang selama ini dianggap sekadar penonton. Bukan hanya Manchester United dan Liverpool yang finis sebagai runner-up di musim-musim juara City, tetapi juga klub yang gagal masuk Liga Champions, gagal tampil di Eropa, atau bahkan terdegradasi. Ketidakpastian yang berlarut-larut adalah kabar buruk bagi Premier League sebagai sebuah kompetisi.

Ada argumen kuat bahwa kesepakatan sanksi merupakan jalan keluar terbersih. Namun jalan itu mungkin tidak nyaman bagi liga, karena mereka harus bernegosiasi dengan City, yang logikanya akan mengupayakan hukuman seringan mungkin.

Kompensasi: Babak Baru yang Menanti

Klaim kompensasi bisa menjadi babak paling berbelit dari seluruh persoalan ini. Pada Juni, Everton diperintahkan membayar 35 juta poundsterling kepada Burnley setelah melanggar aturan PSR selama tiga tahun. Burnley berargumen bahwa pelanggaran itu memengaruhi peluang mereka bertahan di Premier League, lalu menuntut ganti rugi atas kerugian yang timbul akibat degradasi. Everton mengajukan banding dan menyatakan akan menantang putusan itu secara menyeluruh, tetapi kasus tersebut memberi gambaran yang menarik tentang apa yang mungkin terjadi pada Manchester City.

Ketidakpastian berikutnya menyangkut statuta pembatasan yang seharusnya menetapkan batas waktu pengajuan klaim. Dua tahun lalu, Arsenal, Manchester United, Liverpool, dan Tottenham Hotspur dilaporkan telah mengamankan hak mereka untuk menuntut kompensasi. Nilai tuntutannya bisa sangat besar, mulai dari hilangnya kesempatan tampil di Liga Champions, kehilangan pendapatan komersial, sampai selisih hadiah uang untuk setiap posisi di klasemen.

Kieran Maguire, profesor keuangan sepak bola dari University of Liverpool, menyebut hal ini sebagai “penyangkalan atas sebuah kesempatan” oleh pihak yang merasa dirugikan. Menurutnya, statuta pembatasan tidak disebutkan dalam buku pegangan tradisional Premier League, meskipun ketentuan itu bisa saja digugat secara hukum oleh City.

Soal angkanya, Maguire memberi ilustrasi yang cukup mencengangkan. Liga Champions pada masa itu bernilai minimum 30 juta poundsterling, dan menjelang 2018 nilainya bisa mencapai 60 hingga 70 juta poundsterling hanya dari hadiah uang. Di atas itu masih ada klaim atas hilangnya pendapatan tiket dan bonus sponsor, ditambah bonus pemain untuk kualifikasi Liga Champions yang biasanya berkisar 25 persen dari gaji. Dengan rata-rata gaji pada 2012 sekitar 80.000 hingga 90.000 poundsterling per pekan, seperempatnya setara empat hingga lima juta poundsterling per tahun bagi satu pemain saja. Dari sana terlihat bagaimana angka-angka ini bisa terus menumpuk.

Penutup

Yang jelas, vonis bahwa Manchester City bersalah atas mayoritas dakwaan tidak menutup perkara, melainkan membuka rangkaian pertanyaan baru. Sanksi belum ditetapkan, sidang penentuan hukuman masih bisa berbulan-bulan lagi, banding hampir pasti diajukan, dan gelombang tuntutan kompensasi sudah mengintai di depan mata.

Bagi Premier League, ini adalah situasi yang sangat berantakan dan tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Pengurangan poin, denda, dan klaim ganti rugi hanyalah sebagian dari gambaran besarnya. Sementara semuanya belum jelas, klub-klub lain harus terus bertanding tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya mereka perebutkan musim ini.