Timnas Inggris berhasil menyelesaikan misi pertama mereka di Piala Dunia 2026 dengan menjadi juara Grup L setelah mengalahkan Panama. Namun, jika benar-benar ingin menjadi juara, Inggris Piala Dunia 2026 harus segera memperbaiki sejumlah kelemahan yang terlihat jelas selama fase grup. Juru taktik Thomas Tuchel mungkin optimistis, tapi kenyataan di lapangan belum sepenuhnya meyakinkan.
Kemenangan 2-1 atas Panama memastikan langkah Inggris ke babak 32 besar dan akan berhadapan dengan DR Congo di Atlanta, Rabu (17:00 BST). Fase grup memang sudah terlewati dengan sukses — dua kemenangan dan satu hasil imbang — tetapi bila jujur, perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Masih ada celah yang perlu ditambal jika Inggris ingin melaju jauh di turnamen ini.

Misi Terselesaikan, Tapi Belum Mengesankan
Tuchel mengakui perjuangan keras anak asuhnya. “Kami bekerja keras dan siap menghadapi itu. Saya sering mengatakan bahwa kami terlalu terbawa ekspektasi dan tuntutan terhadap diri sendiri,” ujarnya kepada BBC Sport. “Kami ingin memenangkan grup, dan hari ini kami berhasil. Saya mendorong semua orang untuk menikmatinya.”
Meski begitu, tak banyak senyum terlihat di babak pertama. Inggris kesulitan membongkar pertahanan Panama yang berada di peringkat ke-42 dunia. Sama seperti saat melawan Ghana, lini belakang The Three Lions kembali menunjukkan kerapuhan. Untungnya, di akhir laga kualitas individu pemain Inggris membuat perbedaan.
Bellingham: Pahlawan di Saat Genting
Sosok Jude Bellingham kembali menjadi penentu. Sebelum turnamen, ada perdebatan apakah ia layak menjadi starter mengingat performa gemilang Morgan Rogers. Namun Tuchel tetap memercayainya, dan Bellingham membalas dengan gol krusial ke gawang Kroasia serta penampilan luar biasa saat melawan Panama.
Bermain bersama Rogers di lini tengah tanpa Declan Rice yang diistirahatkan (karena cedera hamstring dan akumulasi kartu kuning), Bellingham tidak hanya mencetak gol pembuka, tetapi juga memberikan umpan untuk gol Harry Kane. Kane pun kini menjadi pencetak gol terbanyak Inggris sepanjang sejarah final Piala Dunia dengan 11 gol, melewati catatan Gary Lineker.
Jika Inggris ingin menjadi juara di Piala Dunia 2026, performa terbaik Bellingham mutlak diperlukan. Penampilannya saat melawan Panama memberi sinyal bahwa ia siap memikul tanggung jawab besar.
Keputusan Kontroversial di Bek Sayap
Tuchel kembali mendapat sorotan terkait pilihan bek sayapnya. Setelah Reece James cedera hamstring lagi — yang oleh Tuchel disebut “tak terduga” tapi sebenarnya sudah bisa diprediksi — bek tengah Jarell Quansah dipaksa bermain di posisi kanan. Quansah kemudian cedera dan digantikan Djed Spence, satu-satunya bek sayap kanan murni yang tersisa.
Trent Alexander-Arnold, bek kanan alami yang sangat berbakat, justru tidak masuk dalam skuad Inggris pilihan Tuchel. Mantan kapten Inggris Alan Shearer mengomentari, “Kita belum tahu apakah keputusan itu akan disesali. Baru akan terlihat saat melawan lawan yang lebih kuat.”
Masalah di lini pertahanan bukan hanya di posisi full-back. Wayne Rooney menambahkan, “Area yang paling butuh stabilitas adalah kiper dan empat bek. Dan di sini kami belum mendapatkannya.”
Pertahanan Rawan, Kembalinya Rice Sangat Dinanti
Pertahanan Inggris terbukti rentan. Panama melepaskan 13 tembakan tepat sasaran dan nyaris mencetak gol penalti jika bukan karena offside tipis. Tuchel memang sudah berganti-ganti pasangan bek tengah — dari Konsa-Stones ke Konsa-Guehi — tapi hasilnya belum benar-benar solid.
John Stones hanya tampil lima kali starter di Premier League musim lalu sebelum hengkang dari Manchester City. Apakah ia disimpan untuk fase knockout? Atau sudah tidak masuk dalam rencana utama? Tuchel tidak memberi jawaban jelas.
Harapan besar ada pada kembalinya Declan Rice di babak 32 besar. Rice dianggap sebagai perisai kelas dunia yang bisa menutup celah yang ditinggalkan Bellingham dan Rogers saat bermain ofensif. “Dengan Rice, tim akan lebih seimbang,” kata Tuchel, meskipun ia tetap percaya diri dengan pilihan taktisnya.
Rashford Mulai Unjuk Gigi
Marcus Rashford mendapat kesempatan starter menggantikan Anthony Gordon yang tampil mengecewakan. Penyerang Manchester United yang sempat dipinjamkan ke Barcelona musim lalu itu menjadi ancaman terbesar Inggris di babak pertama. Beberapa peluang ia dapatkan, meski penyelesaian akhirnya masih kurang sempurna.
“Marcus terus berusaha. Dia sangat bisa diandalkan setiap kali saya memainkannya,” puji Tuchel. Rashford diprediksi akan tetap menjadi pilihan utama di laga berikutnya melawan DR Congo.
Kesimpulan
Inggris memang lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026 sebagai juara grup, namun masih ada pekerjaan rumah besar. Stabilitas pertahanan, keputusan taktis di posisi bek sayap, dan konsistensi serangan harus segera diperbaiki. Tuchel menyebut fase grup sebagai “babak kedua” dari perjalanan ini; kini “babak ketiga” dimulai. Jika Inggris tidak segera bangkit dan memperbaiki kelemahan, impian mengulang sukses 1966 bisa sirna di tangan lawan yang lebih kuat.