Batal Diubah, Kick-off Inggris vs Meksiko Piala Dunia 2026 Tetap Pukul 01.00 WIB

FIFA Urung Ubah Jadwal, Kick-off Inggris vs Meksiko Piala Dunia 2026 Tetap Sesuai Rencana

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Meksiko dipastikan tetap berlangsung sesuai jadwal awal, yaitu Senin pukul 01.00 WIB. Keputusan ini muncul setelah FIFA membatalkan rencana memajukan laga tersebut.

Sehari sebelumnya, FIFA sempat mengusulkan agar pertandingan dimajukan menjadi Minggu pukul 19.00 WIB (12.00 waktu setempat). Usulan itu langsung memicu kegaduhan di kalangan ofisial dan suporter kedua negara.

Kick-off Inggris

Kronologi Pembatalan Perubahan Kick-off Inggris vs Meksiko

Badan sepak bola dunia itu menggelar pembicaraan dengan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Federasi Sepak Bola Meksiko pada Jumat. Meski prakiraan cuaca menunjukkan potensi badai petir di waktu yang diusulkan, FIFA tidak memberikan alasan resmi di balik rencana perubahan tersebut.

Sumber BBC Sport melaporkan bahwa FIFA hampir saja mengumumkan penjadwalan ulang. Namun, begitu kabar itu bocor, ofisial Inggris dan Meksiko sama-sama marah. FA bahkan meminta waktu untuk meninjau lebih detail ramalan cuaca sebelum mengambil keputusan.

Dalam diskusi lanjutan, muncul kekhawatiran mengenai dampak perubahan pada persiapan pemain, perjalanan suporter, dan logistik penyelenggaraan pertandingan besar. Akhirnya, diputuskan bahwa kick-off Inggris vs Meksiko Piala Dunia 2026 tetap pada waktu asli, yaitu pukul 18.00 waktu setempat (Minggu malam) atau 01.00 WIB (Senin dini hari).

Peraturan FIFA untuk Piala Dunia 2026 memang menyebutkan bahwa pihaknya berhak “membatalkan, menjadwalkan ulang, atau memindahkan” pertandingan. Namun, setelah mendapat perlawanan dari kedua asosiasi, FIFA memilih untuk tidak menggunakan hak tersebut.

Reaksi Pemain dan Pelatih atas Isu Perubahan Jadwal

Sikap Tenang Pemain Inggris

Ketika berita perubahan jadwal mencuat, para pemain Inggris tengah menyelesaikan latihan di markas mereka di Kansas City. Winger Marcus Rashford menyebut situasi itu “tidak ideal” namun menegaskan skuad tetap siap. “Cara kami mempersiapkan pertandingan harus sama, apa pun waktunya,” ujarnya.

Penyerang Morgan Rogers juga tidak ambil pusing. “Kami akan siap tanpa memedulikan jam berapa pun pertandingannya. Kami sudah menantikannya,” katanya.

Kekecewaan Pelatih Meksiko

Sebaliknya, pelatih Meksiko Javier Aguirre mengaku tersentak. Dalam wawancara dengan stasiun radio lokal Grupo Formula, ia menyebut usulan perubahan itu sebagai “tendangan ke perut”. “Kami harus mengubah segalanya. Persiapan kami hampir hancur karena kami sudah memprogram enam jam yang harus ditelan,” keluhnya.

Aguirre menambahkan bahwa ia tidak pernah diajak berkonsultasi. “Mereka bahkan tidak meminta pendapat saya. FIFA mengatur, FIFA memutuskan, dan saya hanya mematuhi. Kami beradaptasi, tidak ada alasan, dan kami harus bermain serta menang,” tegasnya.

Cuaca Ekstrem Jadi Bayang-bayang Sepanjang Piala Dunia 2026

Ancaman cuaca ekstrem memang menjadi isu laten di turnamen yang digelar bersama oleh Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat ini. FIFA telah menerapkan jeda hidrasi wajib selama tiga menit di setiap babak karena suhu tinggi, meskipun aturan itu tetap berlaku bahkan di kondisi yang lebih sejuk.

Meksiko sendiri sudah mengalami gangguan akibat cuaca saat laga sebelumnya melawan Ekuador yang tertunda satu jam karena petir di Mexico City. Sementara itu, pertandingan Prancis versus Irak di Philadelphia juga ditunda lebih dari dua jam karena kondisi cuaca buruk.

Musim panas lalu, Piala Dunia Antarklub yang juga digelar di AS mencatat enam kali penundaan besar terkait cuaca dari 63 pertandingan. Menjelang laga Inggris vs Meksiko, suhu di Mexico City diperkirakan sekitar 20°C saat kick-off. Jika pertandingan dimajukan ke siang hari, suhu bisa mencapai 23°C.

Altitud dan Rekor Angker Estadio Azteca

Selain cuaca, ketinggian stadion menjadi sorotan. Estadio Azteca berada di 2.240 meter di atas permukaan laut. Meksiko hanya kalah dua kali dari 89 pertandingan di stadion ikonik ini. Pada ketinggian tersebut, tekanan barometrik lebih rendah, udara lebih tipis, dan oksigen yang masuk ke aliran darah berkurang. Akibatnya, pemain bisa mengalami peningkatan detak jantung, sesak napas, dehidrasi, serta kelelahan lebih cepat.

Dampak Perubahan Jadwal terhadap Suporter, Pub, dan Sekolah

Seandainya jadwal diubah, lebih dari 3.000 suporter Inggris yang sudah terbang ke Meksiko bakal kesulitan menyesuaikan rencana perjalanan. Tiket, akomodasi, dan transportasi biasanya sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya.

Di Inggris, Perdana Menteri Sir Keir Starmer telah mengeluarkan undang-undang darurat yang mengizinkan pub di Inggris dan Wales buka hingga pukul 05.00 WIB. Tidak jelas apakah aturan itu akan dibatalkan bila pertandingan dimajukan.

Kepala pelatih Inggris Thomas Tuchel sebelumnya mendorong agar anak-anak sekolah boleh menonton pertandingan dini hari dan meminta orang tua membuat surat izin tidak masuk sekolah. Namun, juru bicara pemerintah menegaskan keputusan ada di tangan orang tua dan anak-anak tetap harus bersekolah pada Senin.

Prakiraan Cuaca: Risiko Badai Petir Tinggi pada Minggu

Badai petir harian adalah fenomena normal di Mexico City saat musim ini. Namun, prakiraan khusus Minggu menunjukkan risiko yang sangat tinggi. Badan meteorologi Meksiko menyebut adanya palung tekanan rendah di atmosfer yang membuat udara sangat tidak stabil. Pemanasan matahari akan menyebabkan udara naik cepat, membentuk awan kumulonimbus yang memicu petir dan hujan es.

Aktivitas badai biasanya mencapai puncak pada sore hingga malam hari. Jika pertandingan dimajukan ke siang, mungkin bisa menghindari badai terparah, meski tidak dijamin. Keputusan akhir untuk tetap mempertahankan jadwal asli berarti laga akan berlangsung pada jam di mana risiko badai sedang tinggi-tingginya.

Kesimpulan

Dengan batalnya perubahan jadwal, kick-off Inggris vs Meksiko Piala Dunia 2026 akan berlangsung sesuai rencana awal pada pukul 01.00 WIB. Meski sempat memicu kontroversi dan kekecewaan, kedua tim akhirnya bisa fokus pada pertandingan tanpa gangguan penjadwalan. Cuaca ekstrem dan ketinggian stadion tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi, tetapi seluruh pihak memilih untuk beradaptasi demi meraih kemenangan.

Inggris Siapkan Strategi Khusus Hadapi Meksiko di Piala Dunia 2026

Redam Gangguan Suara Fans Lokal, Inggris Jaga Kerahasiaan Lokasi Hotel

Timnas Inggris mengambil langkah antisipasi sebelum bertanding melawan Meksiko di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Salah satu kekhawatiran utama adalah ulah para pendukung tuan rumah yang dikenal sangat vokal dan kerap mengganggu ketenangan pemain lawan.

Inggris akan menghadapi Meksiko pada Minggu (01:00 BST Senin) di Mexico City. Pertandingan ini akan disiarkan langsung oleh BBC One dan iPlayer. Skuad asuhan Thomas Tuchel dijadwalkan tiba di ibu kota Meksiko pada hari Jumat, sehingga mereka akan menginap dua malam sebelum laga.

Meksiko di Piala Dunia 2026

Kekhawatiran Terulangnya Insiden Bersama Ekuador

Sebelumnya, lawan Meksiko di babak 32 besar, Ekuador, mengajukan protes ke FIFA setelah para pemainnya sengaja dijaga tetap terjaga oleh suporter Meksiko yang berisik. Mereka menggunakan pengeras suara, terompet, dan sepeda motor di luar hotel tim pada larut malam.

Ekuador menginap di Westin Hotel di Mexico City. Insiden ini membuat Inggris enggan mengungkapkan lokasi penginapan mereka. Namun, ada kekhawatiran lokasi tersebut akhirnya bocor melalui media sosial. Untuk mengantisipasi, Inggris menyiapkan perlengkapan tidur seperti penyumbat telinga atau gelang tidur bagi pemain dan staf yang belum membawanya. Mereka juga akan diberikan obat tidur alami atau mesin white noise audio untuk memastikan kualitas istirahat tetap terjaga.

Perubahan Jadwal Latihan dan Adaptasi Ketinggian

Kebijakan FIFA pada babak ini mewajibkan setiap tim menggelar sesi latihan terbuka di kota tempat pertandingan sehari sebelum laga. Sebelumnya, Inggris biasa melakukan latihan di kota sebelumnya, misalnya di Kansas, lalu terbang ke kota pertandingan pada malam hari. Namun, kali ini Inggris akan berlatih langsung di Meksiko.

Selain gangguan suara, tantangan terbesar yang dihadapi Inggris adalah bermain di dataran tinggi. Mexico City memiliki elevasi rata-rata sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut. Udara tipis dengan oksigen lebih sedikit dapat mempengaruhi performa pemain, terutama bagi yang tidak terbiasa.

Meksiko Untung dengan Adaptasi Penuh

Meksiko telah memainkan seluruh empat pertandingan Piala Dunia mereka sejauh ini di kondisi ketinggian, termasuk tiga laga di Stadion Azteca (Mexico City) dan satu di Guadalajara (1.566 mdpl). Idealnya, atlet yang berlaga di dataran tinggi perlu tinggal satu atau dua minggu di lokasi agar tubuh beradaptasi dan memproduksi sel darah merah lebih banyak.

Tuchel mengakui timnya akan berada dalam posisi kurang menguntungkan. “Ketinggian adalah kerugian besar karena kami tidak bisa beradaptasi secara fisik,” ujarnya. “Dalam empat hari, tidak mungkin. Mungkin akan ada lebih banyak hambatan, tetapi kami siap menghadapinya. Pemahaman saya, kami tidak bisa beradaptasi dengan ketinggian. Itu adalah keuntungan besar bagi Meksiko. Kami hanya punya tiga hari di antara pertandingan. Secara fisik tidak mungkin beradaptasi dengan ketinggian yang cukup tinggi. Kami sudah tahu sebelumnya. Ini sesuatu yang harus kami hadapi, dan saya pikir kami menunjukkan sikap siap untuk itu.”

Kesimpulan: Kombinasi Antisipasi Fisik dan Mental

Laga Inggris vs Meksiko di Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ujian taktik, tetapi juga ujian adaptasi terhadap lingkungan yang keras. Mulai dari tekanan suporter lokal, kebocoran lokasi hotel, hingga udara tipis di ketinggian, Inggris harus berjuang ekstra untuk memastikan pemain tetap bugar dan fokus. Dengan strategi kerahasiaan lokasi, perlengkapan tidur, serta pengakuan jujur soal keterbatasan adaptasi ketinggian, tim asuhan Thomas Tuchel berharap bisa mengatasi semua rintangan dan melaju ke perempat final.

Harry Kane Pahlawan Inggris di Piala Dunia 2026, Selamatkan Tim dari Kekalahan

Harry Kane kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia. Dalam laga sengit Piala Dunia 2026 melawan Republik Demokratik Kongo (DR Congo), kapten timnas Inggris itu tampil sebagai pahlawan. Ia membalikkan keadaan ketika timnya hampir mengalami kekalahan memalukan. Dua golnya di 15 menit terakhir membawa Inggris menang 2-1 dan lolos ke babak 16 besar.

Dramatis, Kane Selamatkan Inggris dari Malapetaka

Pertandingan di Atlanta berlangsung dalam tekanan besar bagi Inggris. Cuaca panas dan lembap membuat permainan mereka tumpul. Mereka tertinggal lebih dulu dan jalannya laga hampir menjadi bencana terbesar sejak kekalahan dari Islandia di Euro 2016. Namun, Harry Kane yang tidak pernah menyerah mengambil alih situasi.

Harry Kane

Gol Pertama: Sundulan Kuat saat Waktu Menipis

Dengan hanya 15 menit tersisa, Kane menyundul bola melewati kiper Lionel Mpasi yang sebelumnya tampil gemilang. Gol itu menyamakan kedudukan dan memberi harapan baru bagi Inggris. Mpasi memang menjadi tembok tangguh dengan sederet penyelamatan, tetapi ia tak mampu menghentikan Kane kali ini.

Gol Kedua: Tendangan Klasik yang Membungkam Lawan

Empat menit kemudian, Kane kembali menunjukkan insting pembunuhnya. Ia menerima umpan dari Anthony Gordon yang baru masuk sebagai pemain pengganti. Dengan satu sentuhan, ia menjauhkan bola dari bek DR Congo lalu melepaskan tembakan kaki kanan melengkung yang tak bisa dijangkau Mpasi. Gol itu menjadi penentu kemenangan dan membuat seluruh stadion bergemuruh.

Tuchel Lega, FA Bernapas Lega

Pelatih Thomas Tuchel yang ikut berlari ke lapangan merayakan gol Kane tak bisa menyembunyikan rasa lega. Kekalahan akan menjadi pukulan berat bagi kariernya di Inggris, meski kontraknya sudah diperpanjang. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) pun menarik napas panjang setelah menempatkan kepercayaan besar pada Tuchel untuk membawa pulang trofi. Semua berkat aksi heroik Harry Kane.

Gelandang Jude Bellingham mengaku bangga bisa bermain bersama Kane. Ia menyebut Kane sebagai pemain dan pribadi yang luar biasa. Sementara Anthony Gordon, yang memberikan assist kedua, memuji konsistensi Kane. “Dia bekerja keras setiap hari di latihan, setiap pertandingan. Ini fenomenal. Levelnya hanya bisa dibandingkan dengan Messi,” ujar Gordon.

Rekor Demi Rekor Dipecahkan Kane

Dengan dua gol itu, Kane kini mengoleksi 5 gol di Piala Dunia 2026. Ia bersaing dengan Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Lionel Messi dalam perebutan Sepatu Emas. Tuchel menyebut mereka semua “hiu yang mencium bau darah”.

Kane juga mencatatkan rekor pribadi:

  • Melampaui Pele dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia (13 gol, peringkat 6 bersama).
  • Menyamai Ferenc Puskas di peringkat 9 pencetak gol internasional sepanjang masa (84 gol untuk Inggris).
  • Menjadi pemain Inggris pertama yang mencetak dua gol di babak gugur Piala Dunia sejak Gary Lineker pada 1990.
  • Total 72 gol musim ini untuk klub dan negara (11 untuk Inggris, 61 untuk Bayern Munchen).

Di usia 32 tahun, Kane justru semakin matang. Kemampuannya tidak hanya mencetak gol, tetapi juga distribusi bola dan kepemimpinan di lapangan membuatnya semakin berharga.

Tantangan Berat: Meksiko di Azteca

Selanjutnya, Inggris akan menghadapi tuan rumah bersama Meksiko di Stadion Azteca yang legendaris. Meksiko hanya kalah dua kali dalam 89 pertandingan kompetitif kandang. Mereka juga tak terkalahkan dalam 10 laga Piala Dunia di stadion tersebut. Ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut akan menjadi ujian tambahan bagi Inggris yang sebelumnya bermain di stadion tertutup di Dallas dan Atlanta.

Suasana dipastikan sangat panas dan penuh tekanan. Inggris membutuhkan Harry Kane lebih dari sebelumnya. Tapi seperti yang sudah terbukti di Atlanta, selama ada Kane, harapan selalu ada.

Pertandingan Inggris vs Meksiko akan berlangsung pada 6 Juli pukul 01.00 BST (siaran langsung BBC One, iPlayer, 5 Live, BBC Sounds, dan situs BBC Sport).

Kesimpulan

Harry Kane kembali menjadi pembeda saat timnya nyaris tersingkir. Dua golnya tidak hanya menyelamatkan Inggris, tetapi juga mengukuhkan statusnya sebagai legenda hidup. Dengan performa yang konsisten dan mental baja, Kane membuktikan bahwa ia adalah pemain yang bisa diandalkan di momen-momen krusial. Inggris kini melangkah dengan percaya diri menuju babak 16 besar, meski tantangan besar sudah menanti di Meksiko.

Ronald Koeman Mundur Usai Belanda Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Kabar Mundurnya Ronald Koeman dari Timnas Belanda

Ronald Koeman resmi mengundurkan diri sebagai pelatih Timnas Belanda setelah timnya gagal melaju jauh di Piala Dunia 2026. Keputusan ini diumumkan tak lama setelah Belanda tersingkir di babak 32 besar oleh Maroko melalui adu penalti.

Pertandingan yang berlangsung di Monterrey tersebut berakhir imbang 1-1 setelah waktu normal dan perpanjangan waktu. Pada babak adu penalti, tiga eksekutor Belanda—Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville—gagal menjalankan tugasnya. Kegagalan ini tidak hanya membuat Belanda pulang lebih awal, tetapi juga memicu gelombang komentar rasis dan ujaran kebencian di media sosial terhadap para pemain.

Ronald Koeman

Pelecehan Rasial Usai Kekalahan Belanda

Royal Dutch Football Association (KNVB) segera bereaksi atas maraknya pelecehan rasial yang menimpa para pemain. Mereka menegaskan akan mengambil langkah hukum tegas dengan melaporkan setiap akun yang terbukti melakukan ujaran kebencian.

“Kami menganggap tindakan ini menjijikkan. Sepak bola menyatukan jutaan orang dari berbagai latar belakang, sedangkan diskriminasi justru memecah belah. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung sepak bola,” ujar perwakilan KNVB dalam pernyataan resmi.

KNVB juga menyebut bahwa setelah laporan diterima, tim hukum akan menilai apakah komentar tersebut termasuk tindak pidana. Jika iya, kasus akan diteruskan ke Kejaksaan Negeri untuk penyelidikan lebih lanjut. Langkah serupa pernah terjadi di Inggris setelah final Euro 2020, di mana Marcus Rashford, Bukayo Saka, dan Jadon Sancho menjadi sasaran pelecehan serupa dan pelakunya akhirnya dihukum penjara.

Pernyataan Ronald Koeman: Kesehatan Lebih Berharga

Ronald Koeman, yang kini berusia 63 tahun, mengakhiri masa jabatan keduanya sebagai pelatih Belanda. Dalam unggahan Instagram-nya, ia mengungkapkan rasa bangga atas perjalanan kariernya, namun juga menyisipkan pesan personal yang mendalam.

“Melihat kembali karier saya, saya merasa sangat bangga. Saya telah bekerja dengan klub dan orang-orang yang membentuk saya, memberikan kenangan yang akan saya hargai seumur hidup. Kami semua bermimpi menulis sejarah di Piala Dunia, tetapi itu tidak terwujud. Tak ada yang lebih kecewa dari saya. Beberapa tahun terakhir menyadarkan saya bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sepak bola. Kesehatan adalah sesuatu yang tak ternilai,” tulis Koeman.

Di balik keputusan ini, terdapat kondisi kesehatan istrinya, Bartina, yang didiagnosis mengidap kanker payudara. Koeman mengakui bahwa perjuangan orang yang dicintainya telah mengubah perspektif hidupnya. Hal ini menjadi faktor utama yang membuatnya memilih mundur dan fokus mendampingi keluarga.

Analisis: Mengapa Masa Kedua Koeman Gagal?

Kontrak Koeman sebenarnya akan habis, tetapi ia merasa inilah waktu yang tepat untuk pergi. Masa tugas pertamanya (2018-2020) dianggap sukses—ia berhasil mengorbitkan pemain seperti Frenkie de Jong dan memenangkan pertandingan Nations League melawan Prancis serta Jerman. Belanda juga lolos ke Euro 2020 (yang ditunda) sebelum ia hengkang ke Barcelona.

Namun, saat kembali menangani Belanda, situasi berubah sulit. Banyak kalangan menilai taktiknya terlalu defensif. Contoh nyata terlihat saat melawan Maroko: ia memasang lima bek, padahal formasi itu sudah lama tidak digunakan. Keputusan ini justru membuat Maroko leluasa menguasai permainan. Tim nasional Belanda pun tidak pernah kembali ke level permainan terbaiknya seperti di bawah asuhan Koeman periode pertama.

Setelah kekalahan kontroversial itu, publikpun yakin bahwa Koeman akan pergi dan Belanda butuh awal yang baru. Kini, federasi sepak bola Belanda dihadapkan pada tugas mencari pelatih baru yang bisa membawa tim lebih kompetitif di turnamen-turnamen mendatang.

Kesimpulan

Mundurnya Ronald Koeman dari kursi pelatih Timnas Belanda menjadi babak baru bagi De Oranje. Selain kegagalan di Piala Dunia 2026, isu pelecehan rasial terhadap pemain juga menjadi sorotan. KNVB berkomitmen menindak tegas pelaku ujaran kebencian. Sementara itu, Koeman memilih mengakhiri karier kepelatihannya untuk sementara waktu demi merawat istri tercinta. Perjalanan Belanda ke depan masih penuh tantangan, namun langkah pertama adalah memulihkan kepercayaan dan kembali ke identitas sepak bola menyerang yang menjadi ciri khas mereka.

Prediksi Piala Dunia 2026: Prancis Jadi Tim Terkuat? Ramalan Chris Sutton untuk Babak 32 Besar

Babak Gugur Piala Dunia 2026: Siapa yang Akan Melaju?

Piala Dunia 2026 telah memasuki fase knockout yang menegangkan. Dari 48 tim yang bertanding di babak grup, kini hanya tersisa 32 kontestan yang siap berjuang menuju final di MetLife Stadium, New York, pada 19 Juli. Prediksi Piala Dunia 2026 menjadi topik hangat, terutama setelah kejutan demi kejutan terjadi di babak penyisihan. BBC Sport menghadirkan analisis dari Chris Sutton dan kecerdasan buatan (AI) untuk meramal hasil setiap laga babak 32 besar.

Babak pertama knockout menyajikan duel-duel menarik, termasuk Inggris menghadapi DR Kongo dan juara bertahan Argentina bertemu Kapten Verde, tim kejutan yang berhasil lolos dari grup. Namun, kejutan terbesar justru datang dari Ekuador yang mengalahkan Jerman, sesuatu yang hanya diprediksi oleh 597 dari lebih dari 56.000 pengguna BBC. Chris Sutton dan AI juga keliru pada pertandingan itu, meskipun secara keseluruhan mereka berhasil menebak 15 dari 24 laga pada set pertandingan terakhir grup.

Kinerja prediksi sejauh ini menunjukkan para pengguna BBC unggul dengan 67% tebakan benar, dibandingkan Chris Sutton (57%) dan AI (60%). Artikel ini akan mengupas tuntas prediksi Piala Dunia 2026 untuk setiap pertandingan babak 32 besar, lengkap dengan pandangan Sutton dan simulasi AI.

Chris Sutton

Pertandingan Babak 32 Besar: Minggu, 28 Juni

Afrika Selatan vs Kanada – Los Angeles, 20:00 BST

Afrika Selatan mengejutkan banyak pihak dengan finis kedua di Grup A. Chris Sutton mengakui keterkejutannya melihat tim ini melaju ke fase gugur. Menurutnya, keberhasilan Afrika Selatan lebih karena lawan yang meremehkan mereka, bukan karena kekuatan sendiri. Sebaliknya, Kanada di bawah asuhan Jesse Marsch menunjukkan intensitas permainan yang tinggi. Pelatih yang kerap mendapat kritik karena sikapnya ini berhasil membawa timnya tampil solid. Sutton memprediksi Kanada akan menang 0-3, sementara AI meramal 1-2.

Senin, 29 Juni

Brasil vs Jepang – Houston, 18:00 BST

Sutton akan menjadi komentator di pertandingan ini dan yakin akan terjadi kejutan. Jepang pernah mengalahkan Brasil di laga persahabatan Oktober lalu, dan Sutton melihat pola yang sama akan terulang. Ia menilai lini tengah Brasil lemah dan tidak mampu menghadapi serangan cepat Jepang. Meskipun Brasil punya pelatih hebat Carlo Ancelotti, Sutton memprediksi Jepang menang 1-2. AI justru memihak Brasil dengan skor 2-1.

Jerman vs Paraguay – Boston, 21:30 BST

Jerman turun dengan kekuatan penuh setelah Julian Nagelsmann merotasi pemain di laga terakhir grup. Paraguay diprediksi akan bermain bertahan rapat. Sutton memperkirakan Jerman akan menembus pertahanan lawan dan menang 2-1, sementara AI meramal kemenangan telak 3-0.

Selasa, 30 Juni

Belanda vs Maroko – Monterrey, 02:00 BST

Pertandingan ini menarik karena pemenangnya akan menghadapi Afrika Selatan atau Kanada di babak berikutnya. Belanda tampil solid di grup dengan pertahanan kuat dan daya gedor memadai. Namun, Maroko memiliki kualitas merata di semua lini. Sutton memilih Maroko menang 1-3, sedangkan AI mendukung 1-2.

Pantai Gading vs Norwegia – Dallas, 18:00 BST

Erling Haaland mengejar Sepatu Emas dan menjadi ancaman utama. Pantai Gading juga memiliki daya serang berbahaya. Sutton memprediksi laga berakhir 2-2 dan Norwegia menang adu penalti, sementara AI membalikkan prediksi: Pantai Gading yang menang adu penalti.

Prancis vs Swedia – New York, 22:00 BST

Swedia cenderung bertahan rapat, tetapi Prancis memiliki daya gedor yang luar biasa. Sutton percaya tidak ada yang bisa menghentikan Prancis saat ini, dan meramal kemenangan 4-0. AI lebih realistis dengan skor 2-0.

Rabu, 1 Juli

Meksiko vs Ekuador – Mexico City, 02:00 BST

Meksiko mendapat dukungan penuh fans di kandang, namun Ekuador sudah terbiasa dengan ketinggian. Setelah mengalahkan Jerman, kepercayaan diri Ekuador meningkat. Meski demikian, Sutton yakin faktor kebersamaan dan semangat Meksiko akan membawa mereka menang 1-0. AI memprediksi Ekuador menang setelah perpanjangan waktu 1-2.

Inggris vs DR Kongo – Atlanta, 17:00 BST

DR Kongo dikenal dengan pertahanan rapat dan serangan balik cepat. Mereka hanya menguasai bola kurang dari 30% di dua laga pertama, namun berhasil menahan Portugal. Pelatih Sebastian Desabre kemungkinan akan kembali ke formasi lima bek. Sutton mengingatkan Thomas Tuchel agar tidak meremehkan lawan, namun tetap memprediksi Inggris menang 2-1. AI meramal 3-1 untuk Inggris.

Belgia vs Senegal – Seattle, 21:00 BST

Belgia tampil kurang meyakinkan di grup yang relatif lemah. Sebaliknya, Senegal meski kalah dari Prancis dan Norwegia, menunjukkan perlawanan sengit. Sutton mendukung Senegal menang 1-3, sementara AI memilih Belgia 2-1.

Kamis, 2 Juli

Amerika Serikat vs Bosnia-Herzegovina – San Francisco, 01:00 BST

AS sudah memastikan juara grup meski kalah dari Turki. Christian Pulisic mungkin tidak 100% fit, tetapi Sutton yakin skuad utama Mauricio Pochettino akan meremehkan Bosnia. Prediksinya 3-0, sementara AI 2-0.

Spanyol vs Austria – Los Angeles, 20:00 BST

Spanyol belum tampil maksimal, namun memiliki banyak talenta seperti Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal. Austria yang agresif di bawah Ralf Rangnick akan mencoba pressing tinggi, tapi Spanyol diperkirakan akan mengelabui mereka. Sutton memprediksi 3-1, AI 2-0.

Jumat, 3 Juli

Portugal vs Kroasia – Toronto, 00:00 BST

Cristiano Ronaldo yang berusia 41 tahun masih menjadi starter tetap, sesuatu yang dikritik Sutton. Menurutnya, Portugal seperti tertahan dengan kehadiran Ronaldo. Kroasia juga sudah menua. Pertandingan ketat, Sutton memilih Portugal 1-0, AI 2-1.

Swiss vs Aljazair – Vancouver, 04:00 BST

Aljazair bangkit dua kali melawan Austria untuk lolos, tetapi Swiss belum pernah memenangkan laga knockout Piala Dunia dalam delapan percobaan. Sutton yakin rekor itu akan berakhir, dengan kemenangan Swiss 2-0. AI meramal 2-1.

Austria vs Mesir – Dallas, 19:00 BST

Kedua tim suka bertahan dan serangan balik. Mohamed Salah mungkin tidak mencetak gol. Sutton memprediksi 0-0 dan Mesir menang adu penalti, sementara AI memilih 2-1 untuk Austria.

Argentina vs Kapten Verde – Miami, 23:00 BST

Kapten Verde adalah cerita indah Piala Dunia ini, dengan pertahanan tangguh yang mampu membungkam Spanyol. Namun, Argentina adalah tim paling cerdik dan Lionel Messi kemungkinan besar akan menjadi penentu. Sutton meramal 2-0, AI 4-0.

Sabtu, 4 Juli

Kolombia vs Ghana – Kansas City, 02:30 BST

Kolombia tampil impresif dengan kerja keras dan serangan mematikan. Ghana akan mencoba meniru strategi menahan Inggris, namun Sutton yakin Kolombia terlalu kuat dan menang 2-0. AI memprediksi 1-0.

Kesimpulan

Babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjanjikan laga-laga seru dan kejutan. Prediksi Piala Dunia 2026 dari Chris Sutton dan AI memberikan gambaran menarik, namun hasil akhir tetap di tangan para pemain di lapangan. Siapa yang akan melangkah ke babak 16 besar? Ikuti terus perkembangan turnamen dan bandingkan dengan tebakanmu sendiri di BBC Predictor!

Inggris Harus Bangkit Jika Ingin Juara Piala Dunia 2026

Timnas Inggris berhasil menyelesaikan misi pertama mereka di Piala Dunia 2026 dengan menjadi juara Grup L setelah mengalahkan Panama. Namun, jika benar-benar ingin menjadi juara, Inggris Piala Dunia 2026 harus segera memperbaiki sejumlah kelemahan yang terlihat jelas selama fase grup. Juru taktik Thomas Tuchel mungkin optimistis, tapi kenyataan di lapangan belum sepenuhnya meyakinkan.

Kemenangan 2-1 atas Panama memastikan langkah Inggris ke babak 32 besar dan akan berhadapan dengan DR Congo di Atlanta, Rabu (17:00 BST). Fase grup memang sudah terlewati dengan sukses — dua kemenangan dan satu hasil imbang — tetapi bila jujur, perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Masih ada celah yang perlu ditambal jika Inggris ingin melaju jauh di turnamen ini.

Piala Dunia 2026

Misi Terselesaikan, Tapi Belum Mengesankan

Tuchel mengakui perjuangan keras anak asuhnya. “Kami bekerja keras dan siap menghadapi itu. Saya sering mengatakan bahwa kami terlalu terbawa ekspektasi dan tuntutan terhadap diri sendiri,” ujarnya kepada BBC Sport. “Kami ingin memenangkan grup, dan hari ini kami berhasil. Saya mendorong semua orang untuk menikmatinya.”

Meski begitu, tak banyak senyum terlihat di babak pertama. Inggris kesulitan membongkar pertahanan Panama yang berada di peringkat ke-42 dunia. Sama seperti saat melawan Ghana, lini belakang The Three Lions kembali menunjukkan kerapuhan. Untungnya, di akhir laga kualitas individu pemain Inggris membuat perbedaan.

Bellingham: Pahlawan di Saat Genting

Sosok Jude Bellingham kembali menjadi penentu. Sebelum turnamen, ada perdebatan apakah ia layak menjadi starter mengingat performa gemilang Morgan Rogers. Namun Tuchel tetap memercayainya, dan Bellingham membalas dengan gol krusial ke gawang Kroasia serta penampilan luar biasa saat melawan Panama.

Bermain bersama Rogers di lini tengah tanpa Declan Rice yang diistirahatkan (karena cedera hamstring dan akumulasi kartu kuning), Bellingham tidak hanya mencetak gol pembuka, tetapi juga memberikan umpan untuk gol Harry Kane. Kane pun kini menjadi pencetak gol terbanyak Inggris sepanjang sejarah final Piala Dunia dengan 11 gol, melewati catatan Gary Lineker.

Jika Inggris ingin menjadi juara di Piala Dunia 2026, performa terbaik Bellingham mutlak diperlukan. Penampilannya saat melawan Panama memberi sinyal bahwa ia siap memikul tanggung jawab besar.

Keputusan Kontroversial di Bek Sayap

Tuchel kembali mendapat sorotan terkait pilihan bek sayapnya. Setelah Reece James cedera hamstring lagi — yang oleh Tuchel disebut “tak terduga” tapi sebenarnya sudah bisa diprediksi — bek tengah Jarell Quansah dipaksa bermain di posisi kanan. Quansah kemudian cedera dan digantikan Djed Spence, satu-satunya bek sayap kanan murni yang tersisa.

Trent Alexander-Arnold, bek kanan alami yang sangat berbakat, justru tidak masuk dalam skuad Inggris pilihan Tuchel. Mantan kapten Inggris Alan Shearer mengomentari, “Kita belum tahu apakah keputusan itu akan disesali. Baru akan terlihat saat melawan lawan yang lebih kuat.”

Masalah di lini pertahanan bukan hanya di posisi full-back. Wayne Rooney menambahkan, “Area yang paling butuh stabilitas adalah kiper dan empat bek. Dan di sini kami belum mendapatkannya.”

Pertahanan Rawan, Kembalinya Rice Sangat Dinanti

Pertahanan Inggris terbukti rentan. Panama melepaskan 13 tembakan tepat sasaran dan nyaris mencetak gol penalti jika bukan karena offside tipis. Tuchel memang sudah berganti-ganti pasangan bek tengah — dari Konsa-Stones ke Konsa-Guehi — tapi hasilnya belum benar-benar solid.

John Stones hanya tampil lima kali starter di Premier League musim lalu sebelum hengkang dari Manchester City. Apakah ia disimpan untuk fase knockout? Atau sudah tidak masuk dalam rencana utama? Tuchel tidak memberi jawaban jelas.

Harapan besar ada pada kembalinya Declan Rice di babak 32 besar. Rice dianggap sebagai perisai kelas dunia yang bisa menutup celah yang ditinggalkan Bellingham dan Rogers saat bermain ofensif. “Dengan Rice, tim akan lebih seimbang,” kata Tuchel, meskipun ia tetap percaya diri dengan pilihan taktisnya.

Rashford Mulai Unjuk Gigi

Marcus Rashford mendapat kesempatan starter menggantikan Anthony Gordon yang tampil mengecewakan. Penyerang Manchester United yang sempat dipinjamkan ke Barcelona musim lalu itu menjadi ancaman terbesar Inggris di babak pertama. Beberapa peluang ia dapatkan, meski penyelesaian akhirnya masih kurang sempurna.

“Marcus terus berusaha. Dia sangat bisa diandalkan setiap kali saya memainkannya,” puji Tuchel. Rashford diprediksi akan tetap menjadi pilihan utama di laga berikutnya melawan DR Congo.

Kesimpulan

Inggris memang lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026 sebagai juara grup, namun masih ada pekerjaan rumah besar. Stabilitas pertahanan, keputusan taktis di posisi bek sayap, dan konsistensi serangan harus segera diperbaiki. Tuchel menyebut fase grup sebagai “babak kedua” dari perjalanan ini; kini “babak ketiga” dimulai. Jika Inggris tidak segera bangkit dan memperbaiki kelemahan, impian mengulang sukses 1966 bisa sirna di tangan lawan yang lebih kuat.

Yeremy Pino Terancam Absen Piala Dunia 2026 Usai Cedera Bahu Parah

Cedera Bahu Menimpa Yeremy Pino di Laga Krusial

Kabar kurang menyenangkan datang dari kubu Timnas Spanyol. Yeremy Pino dikabarkan terancam absen Piala Dunia 2026 setelah mengalami cedera bahu yang cukup serius. Pemain sayap andalan La Roja itu diduga mengalami patah tulang selangka saat pertandingan fase grup melawan Uruguay.

Cedera tersebut terjadi pada menit-menit akhir laga yang dimenangkan Spanyol dengan skor 1-0. Pino jatuh dengan posisi bahu kiri yang tidak wajar setelah terlibat duel dengan pemain lawan. Meski tampak kesakitan, ia tetap melanjutkan pertandingan hingga peluit panjang berbunyi.

Yeremy Pino

Pino Bertahan Meski Kesakitan Hebat

Yang membuat situasi ini semakin dramatis adalah keputusan Pino untuk bertahan di lapangan meski kondisinya sudah tidak memungkinkan. Spanyol saat itu sudah menghabiskan seluruh kuota pergantian pemain, sehingga tidak ada opsi untuk menarik Pino keluar. Dengan segala keterbatasan, pemain yang membela Crystal Palace ini tetap berjuang membantu tim mengamankan kemenangan.

Pelatih kepala Spanyol, Luis de la Fuente, mengakui bahwa diagnosis awal terhadap cedera Pino sangat mengkhawatirkan. Dalam konferensi pers usai laga, ia menyatakan, “Sepertinya Yeremy mengalami patah tulang selangka. Besok kami akan melakukan tes lebih lanjut untuk mengetahui seberapa parah cederanya.”

De la Fuente juga memuji pengorbanan Pino. “Pemain ini sangat menderita. Usahanya luar biasa, mungkin dengan tulang selangka yang patah dia masih bertahan sampai akhir pertandingan. Itu heroik, dan saya sangat berterima kasih, begitu juga seluruh rekan setimnya,” tambah sang pelatih.

Dampak Cedera bagi Peluang Spanyol

Jika diagnosis patah tulang selangka terbukti benar, maka Yeremy Pino absen Piala Dunia 2026 untuk sisa turnamen hampir pasti terjadi. Cedera jenis ini biasanya membutuhkan waktu pemulihan beberapa minggu hingga bulan, jauh melebihi durasi kompetisi yang tersisa. Spanyol sendiri baru saja memastikan diri lolos ke babak gugur sebagai juara Grup H dengan raihan tujuh poin.

Pada babak 32 besar yang akan digelar Kamis depan di Los Angeles, Spanyol akan menghadapi lawan yang masih belum ditentukan, yakni antara Austria atau Aljazair. Kehilangan pemain sekaliber Pino tentu menjadi pukulan tersendiri bagi kedalaman skuat Luis de la Fuente. Meski demikian, Spanyol masih memiliki opsi pemain sayap lain seperti Nico Williams atau Ferran Torres untuk mengisi posisi yang ditinggalkan.

Kesimpulan: Pengorbanan Pino Layak Diapresiasi

Terlepas dari hasil tes medis nanti, satu hal yang pasti: semangat juang Yeremy Pino patut diacungi jempol. Dengan risiko cedera parah, ia tetap memilih bertahan demi tim. Kini seluruh penggemar sepak bola hanya bisa berharap cedera yang dialaminya tidak separah yang diduga. Namun jika benar patah tulang selangka, maka Yeremy Pino absen Piala Dunia 2026 menjadi kenyataan pahit yang harus diterima Spanyol.

Kita tunggu perkembangan selanjutnya dari tes medis yang akan dijalani Pino dalam waktu dekat. Apapun hasilnya, perjuangannya di laga melawan Uruguay akan dikenang sebagai salah satu momen heroik di Piala Dunia edisi kali ini.

Kontroversi VAR Piala Dunia 2026: Keputusan Semakin Membingungkan

Apakah VAR di Piala Dunia 2026 Sudah Seperti Lotere?

Hingga saat ini, sistem asisten wasit video (VAR) menjadi salah satu topik hangat di Piala Dunia 2026. Dalam beberapa hari terakhir, para penggemar dan pakar sepak bola mulai mempertanyakan konsistensi keputusan yang diambil oleh video official. Beberapa insiden kontroversial membuat banyak orang merasa bahwa VAR berjalan secara tidak terduga, seperti undian lotere.

VAR Piala Dunia 2026
KANSAS CITY, MISSOURI – JULY 11: Breel Embolo #7 of Switzerland argues with referee Joao Pinheiro following his second yellow card and subsequent red card during the FIFA World Cup 2026 Quarter Final match between Argentina and Switzerland at Kansas City Stadium on July 11, 2026 in Kansas City, Missouri. Lars Baron/Getty Images/AFP (Photo by Lars Baron / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Beberapa pekan lalu, publik masih bertanya-tanya apakah VAR digunakan dengan cara berbeda di turnamen ini. Namun setelah serangkaian keputusan aneh, kebingungan pun merebak. Mulai dari penalti Ghana yang tidak diberikan saat melawan Inggris, hingga gol Brasil yang dianulir saat berhadapan dengan Skotlandia, serta gol pembuka Jerman ke gawang Ekuador — semuanya menunjukkan sulitnya menebak kapan VAR akan turun tangan.

Angka Intervensi VAR: Mirip dengan Premier League

Menurut data sejauh ini, tingkat intervensi VAR di Piala Dunia 2026 hampir sama dengan yang terjadi di Premier League musim lalu. Di Inggris, rata-rata intervensi per pertandingan adalah 0,29, sementara di Piala Dunia angkanya 0,28. Jika dilihat dari intervensi subjektif — saat wasit harus meninjau ulang melalui monitor — Premier League mencatat 0,15 per laga, sedangkan Piala Dunia 0,17.

Semakin lama turnamen berlangsung, semakin jelas betapa sulitnya menetapkan standar tinggi yang konsisten dalam penggunaan VAR. Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, menekankan bahwa sepak bola adalah olahraga kontak. Tidak semua benturan dianggap pelanggaran. Ia ingin pertandingan berlangsung cepat dan bebas mengalir di Piala Dunia kali ini. Namun jika wasit membiarkan banyak tekel keras di lapangan, VAR pun harus menyesuaikan. Titik temu antara kesalahan yang jelas dan tegas semakin sulit ditemukan — masalah yang juga dihadapi Premier League.

Perbedaan Pendekatan VAR di Berbagai Kompetisi

Kompetisi lain seperti Liga Champions memiliki ambang batas VAR yang lebih rendah. Di sana, video official lebih sering turun tangan — rata-rata 0,47 intervensi per laga dan 0,36 kunjungan ke monitor. Hal ini menciptakan selimut konsistensi karena orang sudah berekspektasi akan ada intervensi. Namun itu belum tentu berarti VAR digunakan sesuai tujuan awalnya, yaitu untuk mengoreksi kesalahan besar yang nyata.

Contoh paling jelas adalah aturan handball. UEFA menerapkan interpretasi ketat: lebih sedikit ruang untuk subjektivitas, lebih banyak alasan bagi VAR untuk tidak membiarkan pelanggaran. Bola mengenai lengan? Bek dalam masalah. Pendekatan semacam ini menghilangkan banyak perdebatan.

Tiga Insiden yang Memicu Kontroversi

Ghana vs Inggris: Penalti yang Tidak Kunjung Datang

Pada Selasa lalu, pelatih Ghana Carlo Queiroz menyindir bahwa “VAR sedang minum kopi” setelah timnya tidak mendapatkan penalti akibat tekel Ezri Konsa terhadap Prince Kwabena Adu. Tekel tersebut terlihat ceroboh, dan banyak pihak terkejut karena tidak ada intervensi dalam pertandingan yang berakhir 0-0 itu.

Brasil vs Skotlandia: Gol Dianulir, Kontak Minim

Sehari kemudian, Brasil berhasil menang 3-0 atas Skotlandia, namun gol mereka sempat dianulir karena pelanggaran Vinicius Jr terhadap Jack Hendry. Yang menarik, justru Hendry yang tampak menendang pemain Real Madrid tersebut, bukan sebaliknya. Mantan asisten wasit Piala Dunia Darren Cann menganggap Skotlandia agak beruntung. “Ada sedikit kontak sebelum bola dimainkan, tapi saya rasa itu bukan pelanggaran,” ujarnya di MOTD.

Jerman vs Ekuador: Dua Momen, Dua Standar Berbeda

Pada Kamis, Jerman kalah 2-1 dari Ekuador. Gol awal Leroy Sane untuk Jerman sempat disahkan meskipun sepatu tinggi Alexandar Pavlovic jelas mengenai kepala Pedro Vite. Banyak yang mengira ini akan menjadi intervensi VAR yang gamblang, namun wasit Tori Penso tetap mempertahankan keputusannya.

Joe Hart berkomentar, “Setiap pemain yang menonton Piala Dunia ini akan melihat insiden itu dan langsung bilang itu membahayakan lawan, itu sepatu tinggi, itu pelanggaran.” Ellen White menambahkan bahwa ia terkejut karena insiden tersebut tidak ditinjau ulang. Namun di babak kedua, Penso justru menunjuk titik putih untuk penalti Jerman setelah Kai Havertz jatuh akibat tekel Joel Ordonez. Kali ini VAR, Joe Dickerson, turun tangan untuk membatalkan penalti karena pelanggaran lebih dulu terjadi di tengah lapangan.

Secara terpisah, intervensi itu terlihat wajar. Namun jika dibandingkan dengan kasus Pavlovic, jelas tidak konsisten. Mungkin VAR merasa harus menebus kesalahan sebelumnya, tetapi sulit diterima bahwa satu pelanggaran dianggap layak intervensi sementara yang lain tidak.

Tim Besar dan Keberuntungan VAR

Sejauh turnamen, tim-tim besar cenderung diuntungkan oleh VAR. Intervensi subjektif yang merugikan favorit turnamen hanya terjadi dua kali: gol Brasil yang dianulir dan penalti Jerman yang dibatalkan. Sementara itu, Prancis tidak mendapatkan penalti saat melawan Senegal karena tekel Sadio Mane terhadap Kylian Mbappe direkomendasikan oleh VAR tetapi ditolak wasit. Banyak yang terkejut Mbappe tidak mendapat hadiah tendangan penalti.

Insiden-insiden ini menambah persepsi inkonsistensi. Pierluigi Collina bersama timnya yang beranggotakan 30 asisten wasit video di Dallas masih harus bekerja keras memperbaiki persepsi ini.

Kesimpulan: “Minimum Interference” Sulit Tercapai

Prinsip awal VAR adalah “minimum interference for maximum benefit” — campur tangan seminimal mungkin untuk keuntungan maksimal. Namun hal itu sangat sulit dicapai. Konsep ini hanya bekerja jika keputusan di lapangan sudah benar. Sayangnya, tampaknya saat ini hal tersebut belum terjadi. Kontroversi di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa VAR masih jauh dari sempurna dan kerap kali meninggalkan rasa frustrasi baik bagi pemain, pelatih, maupun penggemar.

Belajar dari Perjuangan Skotlandia di Piala Dunia 2022 Sampai Saat Ini

Hasil Tidak Menentu dari Grup C

Setelah dua kali bermain di Piala Dunia, harapan Skotlandia untuk maju dari Grup C masih dalam penantian. Mereka memiliki 3 poin setelah meraih kemenangan 1-0 atas Haiti dan kekalahan 1-0 dari Maroko. Hasil ini mungkin cukup jika mereka berhasil menghindari kekalahan telak dari Brasil, atau sekadar poin akan hampir memastikan tempat mereka di babak 32 besar.

Skotlandia di Piala Dunia 2022
Soccer Football – FIFA World Cup – UEFA Qualifiers – Group C – Scotland v Denmark – Hampden Park, Glasgow, Scotland, Britain – November 18, 2025 Scotland’s Kenny McLean celebrates scoring their fourth goal with teammates REUTERS/Russell Cheyne

Kekurangan Penerusan Serangan

Sebelum turnamen dimulai, pelatih kepala Steve Clarke menunjukkan strategi 4-4-2 dalam bentrokan persahabatan melawan Curacao dan Bolivia. Skotlandia mencetak delapan gol di dua pertandingan tersebut dan tampak percaya diri sebelum Piala Dunia.
Clarke mempertahankan formasi yang sama untuk pertandingan perdana melawan Haiti, tetapi Skotlandia memiliki lebih sedikit peluang daripada lawan mereka dan ekspektasi skor (xG) 1.05 dibandingkan dengan xG lawan 1.21.
Pemenang pertandingan John McGinn mencetak golnya melalui defleksi, dan pemain depan yang dimulai, Lawrence Shankland dan Che Adams, berada di tepi lapangan. Shankland ditarik ke bangku cadangan saat melawan Maroko untuk menguatkan tengah lapangan, tetapi kali ini Adams juga tidak bisa masuk ke pertandingan.
Akan sering menjadi figur yang terisolasi di depan, ia gagal menahan bola dan membawa Skotlandia maju, hanya memiliki 11 sentuhan sebelum digantikan oleh Lyndon Dykes pada menit ke-71. Skotlandia tidak mencetak satu peluang pun pada target.

Sepertinya Clarke akan tetap dengan sistem yang sama saat bertanding melawan Brasil, namun mungkin ada perubahan dalam komposisi tim dengan Dykes, Shankland, Ross Stewart dan George Hirst bersaing untuk memimpin penyerangan. Winger Ben Gannon-Doak, yang menunjukkan kemampuan terbaik saat bertanding melawan Haiti, memberikan dinamika penting dari bangku cadangan ketika Skotlandia bermain kuat melawan Maroko.

Fellow wide player Findlay Curtis, 19 tahun, juga muncul di pertandingan debutnya tersebut dan menawarkan kecepatan dan trik. Mungkin ia akan memainkan peran pada salah satu babak tengah pekan ini ketika Skotlandia mencoba mengurangi tekanan.

Ketahanan Pertahanan

Meskipun Skotlandia kesulitan menciptakan banyak peluang untuk diri sendiri dalam dua pertandingan grup, mereka tampil kuat di lini belakang. Salah satu kesalahan saat bertanding melawan Maroko mengundang pukulan keras karena Ismael Saibari berhasil berlari melewati Grant Hanley dan mencetak gol singkat setelah 70 detik.
Namun, dari titik tersebut ke depan, empat pemain belakang Skotlandia membatasi peluang yang diberikan kepada lawan mereka. Jack Hendry luar biasa, menghindari bahaya lebih dari satu kali dengan kecepatannya dan pemahaman permainannya. Bloknya untuk mencegah Saibari mendapatkan gol kedua adalah puncak yang bagus.
“Pembukaan buruk tetapi reaksi setelah itu sangat baik,” kata Clarke setelah pertandingan tersebut. “Kami harus berlaga keras selama 5-10 menit hanya untuk memulai permainan ini.
“Tentu, grup pemain ini, skuad ini telah menunjukkan ketahanan ini dalam jumlah terbatas sepanjang waktu.”
Resiliensi ini memberi harapan bagi Skotlandia untuk pertandingan grup berikutnya, di mana penampilan bertahan yang kuat sangat penting.

Angus Gunn Mempertahankan Percaya Pelatih

Meski diperkirakan Angus Gunn akan menjadi nomor satu Skotlandia untuk turnamen ini, pemain berusia 30 tahun itu kesulitan mendapatkan penampilan reguler dengan Nottingham Forest musim lalu sehingga tidak dipastikan sebagai kiper utama. Setelah kontraknya dengan Norwich City habis masa aktifnya pada musim panas kemarin, Gunn hanya membuat satu penampilan klub, bermain 45 menit dari bangku cadangan dalam pertandingan Liga Primer imbang 1-1 melawan Crystal Palace.
Namun, Clarke memilih Gunn sebelum Craig Gordon dan Liam Kelly dan telah terbukti dalam pilihan tersebut hingga saat ini. Clean sheet-nya melawan Haiti – walaupun ada beberapa momen yang menegangkan – memberikan tiga poin penting dalam pencarian skotlandia untuk pertandingan putaran eliminatif.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan tembakan kuat Ismael Saibari pada pertandingan kedua dan tetap mempertahankan Skotlandia dalam perjuangan dengan beberapa penyelamatan hebat, menolak Achraf Hakimi, Bilal El Khannouss, dan Chemsdine Talbi.
Sama halnya yang akan dibutuhkan pada malam pekan depan.

Pertahanan Tengah dengan Kekurangan Gilmour

Meski Billy Gilmour berada dalam skuad di Amerika Serikat, Skotlandia kehilangan pengaruh tenangnya di tengah pertahanan. Ia mengalami cedera lutut pada kemenangan persahabatan melawan Curacao dan tidak dipilih untuk Piala Dunia, dengan pemain muda Manchester United Tyler Fletcher disebutkan sebagai gantinya.
Dalam kedua pertandingan tersebut, Skotlandia kesulitan mempertahankan bola dan mengembangkan serangan dari tengah. Salah satu kekuatan Gilmour adalah kemampuannya mencuri bola dari bekannya dan maju permainan.
Melawan Haiti dan Maroko, ada banyak pemegang bola di belakang sebelum mendistribusikan panjang menuju Adams.
Banyak hal telah dibicarakan tentang start yang terbatas Lewis McTominay di turnamen ini dan bagaimana baiknya pekerjaan Lewis Ferguson, namun keduanya tidak dalam bentuk Gilmour.

Kesimpulannya, Skotlandia masih memiliki jalan panjang untuk mencapai target mereka. Pengembangan strategi, peningkatan serang, dan pemantahan yang lebih kuat akan menjadi kunci untuk maju ke putaran berikutnya di Piala Dunia 2022.

Liverpool Siapkan Tawaran Perdana untuk Bradley Barcola, Gantikan Mohamed Salah?

Liverpool Makin Serius Kejar Bradley Barcola

Liverpool dilaporkan telah meningkatkan minat mereka terhadap gelandang sayap Paris Saint-Germain (PSG), Bradley Barcola. Klub asal Merseyside itu bahkan disebut tengah menyiapkan tawaran awal untuk pemain berusia 23 tahun tersebut. Langkah ini diambil sebagai bagian dari rencana Liverpool untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Mohamed Salah yang hengkang pada akhir musim lalu.

Dalam mix parlay bursa transfer musim panas ini, nama Barcola menjadi salah satu sorotan utama. PSG membanderol pemain Timnas Prancis itu dengan harga sekitar £145 juta. Angka tersebut akan memecahkan rekor transfer termahal di Inggris jika terealisasi. Namun, pihak Anfield optimistis bisa menekan banderol hingga mendekati angka £100 juta.

Bradley Barcola

Detail Rencana Transfer

Barcola masih memiliki kontrak dua tahun bersama PSG. Namun, ia dikabarkan tertarik pindah ke Liverpool dan mencari tantangan baru setelah mulai kehilangan tempat utama di skuad Les Parisiens. Liverpool awalnya mengincar Yan Diomande dari RB Leipzig, tetapi pemain sayap tersebut kini dikabarkan akan bergabung dengan Real Madrid, membuat fokus Liverpool beralih ke Barcola.

Kecepatan dan kemampuan dribel Barcola dianggap cocok dengan gaya bermain Liverpool. Meski belum menjadi finisher paling tajam, ia dinilai punya ancaman nyata di sisi sayap, seperti yang terlihat selama perjalanan Prancis di Piala Dunia lalu.

Respons Penggemar Liverpool terhadap Bandrol PSG

Sejumlah penggemar Liverpool memberikan tanggapan beragam terkait nilai transfer yang diminta PSG. Berikut beberapa komentar mereka yang dihimpun dari berbagai sumber:

  • John: “Benar-benar terkejut dengan harganya. Saya tidak menyangkal kualitas dan potensinya, tapi saat mendengar Vinicius Jr dihargai £137 juta, Anda pasti menggaruk kepala.”
  • Lee: “Dia sudah membuktikan diri. Pembelian besar untuk manajer baru sangat masuk akal. Tapi kami tetap harus memperhatikan masalah lini belakang.”
  • Kate: “Saya pikir jumlah uang yang dibayarkan untuk pemain ini keterlaluan! Semakin naik terus. Jika menginginkan pemain terbaik, mereka tahu Anda akan membayar. Tapi lihat apa yang terjadi musim lalu. Saya masih ragu, saya ingin Barcola, tapi dengan harga segitu, lebih baik investasi di bek berkualitas.”
  • Andrew: “Jumlah yang konyol. Apakah Barcola benar-benar bisa bertahan 90 menit penuh? Dia sering diganti antara menit ke-60 dan 70. Saya harap dugaan itu salah jika kami membelinya.”
  • Paul: “Sepertinya sudah ada cukup opsi penyerangan. Musim lalu jelas menunjukkan kebutuhan ada di pertahanan. Buat lini belakang kokoh dan bangun dari sana.”
  • Stu: “Barcola akan menjadi rekrutan bagus, tapi dia tidak sebanding dengan harga £100 juta, apalagi £145 juta. Dia pemain skuad di PSG. Jika tidak mau £70 juta maks, cari yang lain.”
  • Dan: “Saya kebetulan sangat menghargai Barcola, salah satu pemain yang terlihat sudah lama berkarier padahal baru 23 tahun. Selama kampanye PSG, setiap kali dia dimasukkan, dia jadi ancaman. Mungkin bukan finisher paling halus, tapi ancaman nyata dengan kecepatan luar biasa. Apakah dia sebanding dengan £145 juta? Tentu tidak. Di pasar saat ini, saya perkirakan antara £60-80 juta. Pemain potensial, muda dan cepat, tapi dia duduk di bangku cadangan PSG sepanjang musim.”

Kesimpulan

Minat Liverpool terhadap Bradley Barcola menunjukkan keseriusan mereka dalam membangun ulang lini serang pasca-Mohamed Salah. Namun, banderol PSG yang selangit membuat negosiasi diprediksi berjalan alot. Banyak penggemar berharap manajemen Liverpool lebih bijak dalam menentukan harga, terutama mengingat kebutuhan yang juga mendesak di sektor pertahanan. Keputusan akhir masih menunggu perkembangan bursa transfer ke depan.